Wamena, Jubi – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Papua Pegunungan pada Senin, 18 November 2024. Kunjungan ini dilaksanakan di SD YPPK Napua, Jalan Napua Walesi, Desa Wilekama, Distrik Napua, Kabupaten Jayawijaya.
Dalam pidato sambutannya pada acara “Pembagian Makan Bergizi kepada Siswa SD YPPK Napua”, Haluk menyampaikan keprihatinannya mengenai tingginya angka stunting dan gizi buruk di Indonesia, khususnya di Papua. Berdasarkan data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stunting tercatat sebesar 21,5 persen, gizi buruk 15,9 persen, kekurangan energi kronis (KEK) pada ibu hamil 16,9 persen, serta anemia pada ibu hamil sebesar 27,7 persen. Selain itu, 96,7 persen ibu hamil mengalami kekurangan konsumsi buah dan sayur.
Haluk mengungkapkan bahwa masalah ini akan berdampak besar pada kualitas sumber daya manusia di masa depan, terutama dalam hal pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan motorik anak.
Anak yang mengalami stunting, katanya, cenderung memiliki IQ yang lebih rendah rata-rata 11 poin dibandingkan anak yang tumbuh dengan gizi baik.
“Jika tidak segera ditangani, stunting dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang diperkirakan mencapai 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB),” jelas Haluk.
Lebih lanjut, Haluk menyampaikan visi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia, yaitu ASTA CITA, yang menjadi kerangka strategis untuk mewujudkan Indonesia yang lebih maju dan sejahtera.

Salah satu fokus utama dari visi ini adalah pembangunan sumber daya manusia, pemerataan akses pendidikan dan kesehatan, serta ketahanan pangan dan energi yang kokoh.
Haluk juga menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Pada tahun 2025, program ini menargetkan 5.000 satuan pelayanan dengan anggaran sebesar Rp71 triliun.
“Program ini akan melibatkan lebih dari 15 juta penerima manfaat yang tersebar di berbagai daerah,” ujar Haluk.
Program uji coba MBG dijadwalkan akan dimulai pada minggu keempat November hingga Desember 2024, dengan sasaran 306.000 penerima manfaat yang akan mendapatkan edukasi gizi dan makan bergizi senilai Rp15.000 per orang.
“Kami berharap dukungan dari seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Provinsi Papua Pegunungan untuk mewujudkan proyek nasional ini,” tambahnya.
Kepala Sekolah SD YPPK Napua, Otniel Elopere, mengungkapkan bahwa mayoritas siswa sekolah tersebut berasal dari Kabupaten Nduga yang mengungsi akibat konflik bersenjata.
“Kami memiliki 315 siswa, dengan sekitar 45-65 siswa berasal dari Nduga. Meskipun kekurangan biaya, guru-guru kami yang berstatus honorer tetap setia mengajar,” kata Elopere.
Elopere juga menilai bahwa program MBG sangat membantu para siswa dalam menerima pelajaran.
“Kadang kami melihat anak-anak yang belum sarapan pagi dan ada yang pingsan. Program ini sangat bermanfaat bagi mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan yang baik hari ini dapat membentuk pemimpin masa depan dan menghindarkan anak-anak dari potensi perilaku kriminal. (*)











Discussion about this post