Jayapura, Jubi – Komunitas Earth Hour Jayapura menggelar aksi bersih-bersih bertajuk “cigi sampah” di kawasan Jembatan Kuning, Kampung Ifar Besar, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Sabtu (2/8/2025).
Aksi ini merupakan bagian dari upaya peduli lingkungan dan edukasi pengelolaan sampah, dan upaya memperkenalkan potensi wisata lokal di Kabupaten Jayapura.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Earth Hour Jayapura, berkolaborasi dengan World Wide Fund for Nature atau WWF Indonesia,.Pemerintah Kabupaten Jayapura, dan beberapa komunitas muda di Sentani, ibu kota Kabupaten Jayapura.
“Kegiatan hari ini sangat luar biasa karena melibatkan masyarakat kampung dan anak-anak muda dalam gerakan peduli lingkungan, khususnya terkait penanganan sampah di kawasan Danau Sentani dan sekitarnya,” ujar pelaksana tugas atau Plt Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jayapura, Dr. Abdul Rahman Basri, S.Sos., M.KP saat aksi ‘cigi sampah’.
Menurut Basri, partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga, limbah industri, dan sampah dari sektor pelayanan publik merupakan langkah penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan.
“Kegiatan ini sejalan dengan visi dan misi Pemerintah Kabupaten Jayapura untuk menyatukan perbedaan, menciptakan suasana yang aman, nyaman, mandiri, berkeadilan, dan berkelanjutan,” katanya.
Ketua panitia kegiatan, Arif Dwi Santoso menjelaskan bahwa lokasi Jembatan Kuning dipilih karena memiliki potensi wisata yang bisa diangkat melalui konten digital.
Menurut Santoso, pihaknya berkolaborasi dengan Mona Warrior, julukan untuk aktivis muda lingkungan yang bergerak bersama Mona, maskot kampanye WWF, Jerhemy Owen, agar kegiatan ini lebih banyak dikenal oleh kalangan muda dan semua umur yang bisa dijangkau.
“Kami sudah pernah melakukan kegiatan serupa di Jembatan Merah dan Pantai Yahim. Kali ini kami ingin mengeksplor tempat baru sekaligus mengangkat potensi wisata Jembatan Kuning,” ucap Arif Dwi Santoso.
Katanya, kegiatan ini telah direncanakan selama sepekan dan berjalan tanpa hambatan. Namun tantangan utamanya adalah keterbatasan jumlah peserta yang hadir.
“Kami berharap, lebih banyak komunitas bisa bergabung kedepan, agar suara kepedulian terhadap lingkungan semakin kuat,” ujarnya.
Arif menambahkan bahwa Earth Hour Jayapura akan terus melanjutkan aksi-aksi kecil yang berdampak besar. Sebab, yang diinginkan adalah masyarakat semakin menyadari mengenai isu perubahan iklim, pencemaran udara, dan pentingnya pengurangan emisi karbon.
“Harapan kami, kegiatan seperti ini bisa direplikasi di tempat lain,” kata Arif Santoso. (*)











Discussion about this post