Jayapura, Jubi – Pagi itu, bocah bernama Yance Asaribab yang tinggal di Kotaraja sedang mandi-mandi di tepi Teluk Youtefa dan minum dari sebuah sumur. Sumur peninggalan tentara Jepang itu dibangun memakai drum terlihat masih kokoh, hanya saja warnanya sudah coklat tua, sedikit berkarat. “Airnya tidak asin, tawar,” kata Asaribab, kepada Jubi, di Kota Jayapura, Papua, Sabtu (12/4/2026).
Warga Kampung Injros, Philipus Sanyi menuturkan sumur tua ini menurut orang tua dulu peninggalan Tentara Jepang sewaktu Perang Dunia Kedua. “Memang, sumur ini dulu orang tua dorang biasa ambil air, sekarang sudah tidak lagi, tapi kalau kitorang mencari (melaut) pasti singgah ambil air di situ,” katanya.
Sumur tua peninggalan Jepang di tepi Teluk Youtefa adalah bukti sejarah Perang Dunia II. Sumur ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan air tentara Jepang yang menempati lokasi tersebut. Pasalnya tak jauh dari sumur tua terdapat gua Jepang benteng persembunyian mereka. “Ada gua Jepang di atas Gunung Mher,” kata Philipus Sanyi.
Gunung Mher terletak di barat teluk Youtefa, seberang Kampung Injros. Sebuah kapal Jepang karam di sana sejak PD II.

“Kapal Jepang juga masih ada hanya saja sudah karatan dan hampir hilang, bukan karena besi tua yang ambil,” katanya sambil tertawa, seraya menambahkan semakin hari, kapal Jepang yang karam itu hilang ditelan arus air asin di Teluk Youtefa.
Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXII Papua telah mengumumkan terdapat sembilan situs arkeologi sisa Perang Dunia II di bawah air Kota Jayapura. Situs cagar budaya yang ditemukan menunjukkan adanya reruntuhan kapal perang (landing craft), sisa pesawat tempur, mobil lapis baja, dan tank yang tenggelam di perairan Laut Jayapura. Selain itu, lima cagar budaya lainnya yakni landing craft dan tank yang ditemukan di Pantai Hamadi dan perairan Teluk Youtefa.
Jepang mulai menginjak Hollandia (sekarang Jayapura) pada 19 April 1942, tepatnya di Teluk Imbi dan Teluk Youtefa yang teduh. Waktu itu serdadu Nippon menguasai tanah adat orang Port Numbay dan membangun markas mereka di Abepantai. Tugu Jepang di Abe Pantai menjadi saksi sejarah masuknya tentara Jepang di Hollandia waktu itu.
Selanjutnya pada 6 Mei 1942, dua kapal Perang Angkatan Laut Jepang membawa Pasukan Mariners, membangun pangkalan militernya di sekitar Abepantai. Kemudian pada Agustus 1942 ditambah lagi pasukan Infantri Angkatan Darat Jepang. Mereka membangun pangkalan udara (sekarang Bandara Sentani) untuk pesawat tempur. Armada Pasifik Jepang bermarkas di Kota Baru, Abepantai.
Tak lama, Markas Besar Jepang di Abepantai dibumi hanguskan dalam pertempuran Hollandia dengan nama sandi Operasi Reckless. Morison Samuel Eliot dalam bukunya berjudul The Liberation of Philippines Luzon Mindanao, the Visayas 1944-1945 menyebutkan, ini merupakan invasi amfibi besar-besaran Sekutu selama Perang Dunia II, yang terjadi antara 22 April dan 6 Juni 1944 di Nugini Belanda untuk membuka jalan menuju Teluk Leyte di Filipina.
Tak heran kalau sisa-sisa pertempuran antara Jepang dan Amerika masih ada, yang dikenang dengan dibangunnya tugu peringatan Pendaratan Tentara Sekutu di Hamadi, yang dikenal dengan nama Invasie Strand Hamadi dimana Jenderal Mac Arthur mendarat di Hollandia pada 19 April 1944.

Peninggalan yang hidup hingga kini
Selain meninggalkan sisa-sisa pertempuran PD II antara Tentara Jepang dan Tentara Sekutu, terdapat peninggalan lainnya di gunung Mher, yakni monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang masih hidup hingga saat ini. Saat ini populasinya sudah menyebar hingga ke gunung sekitar Vihara di Skyline, Kota Jayapura.
Secara terpisah, tokoh masyarakat asal Injros, Frans Itaar mengatakan monyet ekor panjang pertama kali dibawa oleh tentara Jepang saat Perang Dunia II sebagai maskot dan penolak bala. Kini populasinya pun bertambah. Itaar mengaku tidak ada pernah mendengar keluhan masyarakat terkait populasi monyet ekor panjang di sekitar gunung Mher.
Petani sayur di Jalan Baru, dekat lapangan Tembak menuju Pasar Youtefa mengaku biasanya monyet ekor panjang turun ke ladang mencari makan pada musim hujan. Beruntung monyet ekor panjang ini tidak suka memakan sayur.
“Mereka suka sekali makan pisang dan singkong,” kata Atoh, seorang petani asal Tana Toraja kepada test.jubi.id belum lama ini. (*)











Discussion about this post