Waropen, Jubi – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan atau Disdikbud Kabupaten Waropen, Papua mengupayakan revitalisasi bahasa daerah Waropen sebagai komitmen menjaga kelestarian identitas lokal.
Kini Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Waropen sedang melakukan penguatan literasi bagi para murid setiap jenjang pendidikan.
Kepala Bidang Kebudayaan, Adi Fredi Iwanggin mengatakan salah satu langkah konkret yang dilakukan pihaknya adalah penerbitan buku pelajaran Muatan Lokal (Mulok) bahasa daerah Waropen.
Hingga kini, program tersebut telah berjalan dalam tiga periode penerbitan buku yang telah didistribusikan ke berbagai jenjang pendidikan untuk memastikan generasi muda Waropen tidak kehilangan akar budayanya.
Iwanggin menuturkan, penerbitan buku Mulok bukan sekadar tugas administratif, melainkan upaya penyelamatan bahasa yang mulai tergerus zaman.
“Ini bentuk dedikasi tertinggi agar anak-anak di Waropen bangga dan lancar menggunakan bahasa ibunya,” ujar Adi Fredi Iwanggin saat ditemui Jubi di ruang kerjanya, di Kantor Disdikbud Waropen, Papua, Senin (2/2/2026).
Katanya, Disdikbud Waropen dengan dukungan pemerintah daerah telah menerbitkan buku muatan lokal yang memuat ‘Kosakata Sederhana Bahasa Daerah Waropen’ dan didistribusikan ke setiap Sekolah Dasar atau SD pada dua wilayah sasaran di Distrik Masirei sampai Distrik Soyoi Mambai di wilayah Timur Waropen dan Distrik Urei Faisei sampai Distrik Waropen Bawah di Wilayah Barat Waropen.
Iwanggin menjelaskan, buku yang telah didistribusikan itu untuk jenjang SD ada 1.690, kemudian buku panduan guru mulok berjumlah 1.006 buku, dan buku kamus bahasa Waropen Mulok 367 untuk semua jenjang pendidikan mulai dari SD, SMP, SMA/SMK.
Selain itu buku kosakata bahasa Waropen dengan terjemahan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris berjumlah 367 buku, dan buku kosakata bahasa waropen berjumlah 367 buku.
Menurutnya, keberhasilan program revitalisasi melalui berbagai buku ini tidak terlepas dari dukungan penuh pimpinan daerah.
“Kami sangat mengapresiasi Bapak Bupati, Fransiskus Xaverius Mote, yang telah menjunjung tinggi bahasa daerah Waropen melalui visi dan misinya. Hal ini menjadi instruksi kerja yang nyata bagi kami untuk terus berinovasi dalam perlindungan budaya selama masa jabatan beliau,” ujarnya.
Pihaknya bakal mengupayakan hal serupa untuk menunjang pembelajaran mulok atau bahasa lokal di daerah Distrik Oudate sampai Wapoga.
“Karena sekalipun sama-sama di Waropen, tapi ada perbedaan bahasa khususnya untuk Wapoga dan Oudate. Sehingga bahan ajar Mulok untuk mereka harus disiapkan terpisah. Saat ini untuk dua wilayah itu belum ada, tapi pelan-pelan akan kami rangkum dan siapkan,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Disdikbud Waropen, Minarni Aronggear menyatakan pentingnya kerja sama lintas lembaga.
Ia mengapresiasi sinergitas antara pihaknya dengan Yayasan Suluh Insan Lestari (SIL) di Provinsi Papua dalam penyusunan ‘Buku Kalimat Sederhana Bahasa Waropen’.
Menurutnya, lembaga SIL telah memainkan peran krusial sebagai mitra teknis dalam penyusunan buku kosakata bahasa daerah Waropen. Kerja sama ini memastikan bahwa materi yang diajarkan kepada siswa memiliki standar linguistik yang baik namun tetap mudah dipahami.
“Sinergi antara visi kepala daerah, kerja keras dinas terkait, dan dukungan mitra ahli, diharapkan bahasa daerah Waropen tetap hidup dan menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri,” ujar Aronggear. (*)











Discussion about this post