Jayapura, Jubi – Ikatan Pelajar Mahasiswa Teologi asal Puncak, Timika, dan Intan Jaya atau IPMT-PUTIIN Papua menyikapi konflik bersenjata antara aparat keamanan dan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka atau TPNPB-OPM di Intan Jaya, menyebabkan jatuhnya korban dari kalangan warga sipil.
Ketua ikatan IPMT- PUTIIN Papua, Tenus Diwitau mengatakan, 13 dari 15 orang yang tewas di Kampung Soangama, Distrik Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya pada 13 Oktober 2025, merupakan warga sipil.
“Ini data dari lapangan. Di media sosial heboh [menyebut] 15 orang [yang tewas adalah anggota] TPNPB itu hoaks,” kata Tenus Diwitau dalam siaran pers tertulis yang diterima Jubi, Jumat (24/10/2025).
Menurutnya, dalam Undang-Undang Dasar atau UUD 1945 pasal 28A menyatakan setiap orang berhak hidup.
“Akan tetapi, TNI membunuh 15 warga, maka itu pelangaran hak asasi manusia. karena itu kami tegaskan bahwa setop membunuh atau membinasakan jiwa yang tidak bersalah,” ujarnya.
Katanya, IPMT-PUTIIN Papua meminta bupati Intan Jaya, DPRK Intan Jaya, Pemprov Papua Tengah dan DPR Papua Tengah segera menyikapi meninggalnya 12 warga sipil di sana.
“Kami mahasiswa teologi PUTIIN menegaskan kepada bapak Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto segera tarik militer yang beroperasi di Kabupaten Intan Jaya,” ujarnya.
IPMT-PUTIIN Papua juga meminta meminta tim advokasi hak asasi manusia mengambil data korban warga sipil untuk ditindaklanjuti hingga proses hukum. (*)











Discussion about this post