Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Rilis Pers

Komnas HAM sampaikan pemantauan enam kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua

April 25, 2026
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: Admin Jubi - Editor: Arjuna Pademme
Komnas

Komnas HAM RI saat menyampaikan hasil pemantauan enam kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua yang mendapat atensi nasional, di Kantor Komnas HAM RI di Jakarta, Jumat (24/04/2026) - Dok. Untuk Jubi

Jayapura, Jubi – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia atau Komnas HAM telah melakukan serangkaian pemantauan dan penyelidikan kasus-kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua yang terjadi selama 2025 hingga awal 2026.

Komnas HAM RI pun menyampaikan hasil pemantauan enam kasus pelanggaran HAM di Tanah Papua yang mendapat atensi nasional, dalam siaran pers tertulis yang diterima Jubi, Jumat (24/4/2026).

RELATED POSTS

Kekerasan tentara non-organik terhadap Orang Asli Papua terus berulang

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

Komnas HAM dan Gubernur Fakhiri bahas cetak sawah 30 ribu hektare serta hak adat

Kasus pertama adalah konflik lahan di Provinsi Papua Selatan. Di sana, Komnas HAM menemukan adanya konflik tanah dan hutan di lima kampung masyarakat adat yaitu, Kampung Soa di Distrik Tanah Miring, Kampung Blandinkakayo/Sermayam di Distrik Jagebob, Kampung Onggari dan Domande di Distrik Tanah Miring serta Kampung Wanam di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke.

Konflik tanah dan hutan terjadi karena aktifitas perusahaan yang masuk dalam pelaksanaan Program Srategis Nasional (PSN) sebagaimana Instruksi Presiden
Nomor 14 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan Kawasan Swasembada
Pangan, Energi dan Air Nasional.

Masyarakat adat di lima kampung menyatakan kehadiran proyek di wilayah mereka, tanpa adanya dialog dan persetujuan dari kelompok masyarakat adat/pengadu dan cenderung
represif.

Berdasarkan temuan tersebut, Komnas HAM menyimpulkan terdapat pelanggaran hak asasi manusia terhadap masyarakat adat di lima kampung akibat aktivitas perusahaan, khususnya terkait hak persetujuan atas dasar Informasi di awal tanpa paksaan (PADIATAPA), hak atas tanah dan wilayah adat, hak atas penghidupan yang layak, hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat, hak atas identitas budaya, serta hak atas rasa aman dan bebas dari intimidasi.

Kedua, penembakan terhadap warga sipil oleh TNI di Kampung Dolog, Distrik Agats,
Kabupaten Asmat, Papua Selatan pada 27 September 2025. Komnas HAM menemukan kematian Irenius Baotaipat disebabkan tembakan senjata api yang dilakukan anggota Satgas 123/Rajawali.

Penembakan itu dilakukan karena Irenius Baotaipat melakukan keributan dalam keadaan dipengaruhi minum keras. Dalam peristiwa ini, tiga warga lainnya terluka akibat terkena serpihan peluru.

Komnas menyimpulkan telah terjadi pelanggaran HAM, yaitu hak hidup dalam peristiwa kematian warga sipil bernama Irenius Baotaipat.

Komnas HAM meminta Pangdam
XXIV/Mandala Trikora melakukan proses hukum atas peristiwa ini dan
mengevaluasi jajarannya untuk penguatan kapasitas serta pelatihan sosial-budaya sesuai kearifan lokal masyarakat setempat.

Ketiga, penembakan terhadap pilot dan Kopilot di Bandara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua Selatan.

Komnas HAM menemukan kematian pilot dan copilot pesawat Smart Air itu,
disebabkan serangan yang dilakukan oleh TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo. Kedua korban mendapatkan luka tembak di kepala dan luka sayat di beberapa bagian tubuh yang diakibatkan benda tajam.

Motif penembakan, karena adanya kecurigaan pelaku terhadap korban yang diduga membantu operasional aparat keamanan. Selain itu, Bandara Koroway Batu tidak dilengkapi dengan petugas keamanan.

Atas peristiwa ini, Komnas HAM mendesak Kapolri dan Kapolda Papua menegakkan hukum dengan menangkap para pelaku, dan memperkuat pengamanan wilayah rawan terutama bandara perintis di Boven Digoel, dengan penempatan personel Polri yang berasal dari orang asli Papua serta pemahaman kearifan lokal.

Keempat, peenembakan terhadap dua tenaga kesehatan di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat Daya pada 16 Maret 2026.

Komnas HAM menemukan adanya indikasi pembunuhan berencana yang dilakukan oleh kelompok bersenjata, mengingat ditemukannya lokasi yang diduga kuat sebagai staging area yakni tempat berkumpul orang, senjata dan logistik.

Dampak peristiwa ini adalah adanya operasi penyisiran oleh TNI/Polri di Distrik Bamusbama dan Fef pada 18 Maret 2026, atau pascaperistiwa dengan 12 orang ditangkap dan mengalami penyiksaan. Sebelas orang di antaranya telah dibebaskan dan satu orang lainnya masih ditahan sehubungan dugaan kepemilikan amunisi.

Selain itu, terjadi pengungsian masyarakat di Kampung Banfooth, Distrik Fef, Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Selatan.

Komnas HAM masih menganalisa peristiwa ini dan akan menyampaikan hasil dalam rekomendasi kepada para pihak dalam waktu dekat.

Kelima, penembakan terhadap warga sipil pascapembunuhan Bripda JE, anggota Polres Dogiyai di Moanemani, Dogiyai, Papua Tengah, 31 Maret 2026

Komnas HAM menemukan peristiwa ini diakibatkan kematian Bripda Jufentus Edowai (JE) yang mengalami kekerasan oleh orang tak dikenal.

Anggota Polres Dogiyai kemudian merespon dengan menembakkan senjata ke udara, merusak pondok warga dan membakar kendaraan di sekitar lokasi temuan jenazah. Selain itu, polisi juga menyisir pemukiman warga dengan menggunakan gas air mata dan peluru tajam.

Warga kemudian meluapkan amarahnya dengan menyerang Polsek Kamuu dan Polres Dogiyai dengan melempar batu, menembakan panah dan senapan angin serta melakukan aksi blokade, serta pembakaran kendaraan dan bangunan sebagai aksi protes atas penyisiran sebelumnya oleh kepolisian.

Peristiwa ini mengakibatkan lima warga sipil meninggal dunia dan dua anggota polisi terluka akibat terkena panah dan senapan angin. Kerugian materiin berupa dua truk, satu mobil, sembilan motor dan satu bangunan usaha (mebel) turut rusak akibat pembakaran.

Komnas HAM meminta kepada Kapolda Papua Tengah melakukan proses penegakan hukum terkait kasus pembunuhan Bripda JE. Melakukan pemeriksaan terhadap personil
Polres Dogiyai serta memperkuat sinergitas dan komunikasi dengan Pemerintah Daerah dan serta para toko masyarakat.

Keenam, kasus penembakan terhadap warga sipil di Kabupaten Puncak, Papua Tengah. Komnas HAM mendapatkan informasi terkait peristiwa kekerasan yang terjadi di Kabupaten Puncak dalam rentang waktu 13-15 April 2026.

Peristiwa terjadi akibat dampak operasi penindakan TPNPB-OPM oleh TNI. Komnas HAM mencatat korban jiwa dari warga sipil sebanyak 15 orang, yang terdiri dari delapan laki-laki dan tujuh perempuan. Selain itu terdapat korban luka-luka yaitu tiga orang anak, satu orang perempuan dan satu orang laki-laki.

Komnas HAM terus memantau situasi terkini di Kabupaten Puncak, dan akan melakukan kangkah-langkah Pemantauan dan Penyelidikan.

Komnas HAM meminta semua pihak untuk menahan diri baik TNI-Polri dan TPNPB-OPM dan menghindari jatuhnya korban warga sipil.

Komnas HAM meminta untuk semua pihak agar membuka akses bagi petugas
kemanusiaan untuk memberikan bantuan terutama daerah-daerah yang terdampak
seperti Kampung Pagame dan Kampung Kembru. (*)

Tags: Komnas HAMpelanggaran HAM
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

The Central Executive Board of the Komite Nasional Papua Barat (BPP-KNPB) delivered an official statement outlining its position on alleged military actions against civilians in Puncak Regency. The press conference was held in Waena, Jayapura City, Papua, on Monday (April 20, 2026). — Jubi/Aida Ulim
Rilis Pers

KNPB: Hentikan operasi militer dan pengiriman pasukan di Tanah Papua

April 25, 2026
WWF
Rilis Pers

Hari Bumi: WWF Program Papua dorong aksi selamatkan bumi

April 25, 2026
AlDP
Rilis Pers

AlDP desak Komnas HAM RI selidiki dugaan pelanggaran HAM berat di Puncak

April 22, 2026
GMKI
Rilis Pers

Peristiwa Puncak: PBH GMKI desak evaluasi keberadaan Satgas Habema

April 22, 2026
PGI
Rilis Pers

PGI: Hentikan Kekerasan Bersenjata

April 21, 2026
KNPB
Rilis Pers

KNPB nyatakan sikap terhadap situasi Tanah Papua

April 20, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara