Jayapura, Jubi – Puluhan guru dari Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua mengikuti pembekalan pembelajaran muatan lokal bahasa Skouw yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Jayapura di Abepura, Kota Jayapura, Kamis (13/11/2025).
Pembekalan itu diikuti guru Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD, Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan (SMA/SMK).
Pembekalan tersebut merupakan langkah awal penerapan bahasa Skouw untuk mata muatan lokal di sekolah-sekolah.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Jayapura, Grace Linda Yoku mengatakan, pembekalan guru bahasa Skouw itu merupakan tindak lanjut dari berbagai program pelestarian bahasa daerah, seperti Festival Tunas Bahasa Ibu dan penulisan Kamus Bahasa Skouw
“Dari hasil kegiatan sebelumnya kami simpulkan para penutur aktif bahasa Skouw sangat sedikit, juga bahkan anak-anak hampir tidak tahu bahasa Skouw,” kata Grace Linda Yoku.
Menurutnya, saat festival tunas bahasa Ibu tahun lalu, dari 120 peserta, tidak satupun menggunakan bahasa Skouw. Mayoritas peserta justru menggunakan bahasa Nafri, Sentani, dan Kayu Batu.
Untuk itulah pihaknya akan mewajibkan pada 2026, seluruh peserta lomba akan menggunakan bahasa Skouw.
“Kalau sekolah berada di wilayah adat Skouw, maka wajib mengajarkan bahasa Skouw, begitu pula di wilayah Tobati atau Enggros, Nafri, dan bahasa daerah lainnya. Bahasa itu wajib disesuaikan dengan hak ulayat tempat sekolah berdiri,” ujarnya.
Selain itu, Pemerintah Kota Jayapura saat ini sedang menyusun Peraturan Wali Kota atau Perwal tentang penerapan pembelajaran muatan lokal bahasa daerah sesuai wilayah adat sekolah.
Langkah itu merupakan implementasi dari Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2014 tentang tanggungjawab pemerintah daerah dalam pelestarian bahasa dan sastra daerah.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Jayapura Rustan Saru mengatakan, kegiatan itu merupakan sejalan dengan visi dan misi Wali Kota untuk mewujudkan Kota Jayapura sebagai kota jasa yang berbudaya.
Untuk itu salah satunya dengan peningkatan pendidikan berbasis keagamaan dan muatan lokal di wilayah pemerintahan Kota Jayapura
“Karena bahasa daerah, terutama bahasa Skouw, mulai hampir hilang karena kurang diajarkan di sekolah. Karena itu, pemerintah mendorong pembelajaran muatan lokal supaya bahasa daerah tetap hidup dari generasi ke generasi,” kata Rustan Saru.
Katanya, pembelajaran bahasa Skouw bukan hanya untuk masyarakat asli Skouw, juga bagi seluruh siswa yang bersekolah di wilayah itu. Selain itu, pelestarian bahasa lokal menjadi bagian dari upaya menjaga identitas dan kebanggaan masyarakat setempat.
“Bahasa itu menjadi jembatan penghubung di wilayah perbatasan, dengan bahasa yang sama, komunikasi dengan masyarakat Skouw, akan tetapi juga dengan pengunjung dari Papua Nugini akan lebih baik,” ucapnya. (*)











Discussion about this post