Jayapura, Jubi – Bagi orang Papua termasuk warga di Kampung Tobati, Injros dan Nafri mencari ikan dengan menggunakan bagan, bukan tradisi nelayan orang asli Papua. Sejak dulu hanya memancing dan membuang jaring, tetapi kini bagan mulai masuk ke Teluk Youtefa, Kota Jayapura, Papua.
“”Saya belajar mencari ikan di bagan sudah lama sekitar enam tahun dengan mengikut orang yang punya bagan. Setelah itu saya sendiri bikin bagan sekitar 2008 hingga sekarang,” kata Philipus Sanyi warga asal Kampung Injros saat bersama tim jurnalis test.jubi.id mengitari Teluk Youtefa, Sabtu (11/4/2026) pagi.
Dia mengakui untuk membangun sebuah bagan butuh dana sebesar Rp50 juta sampai dengan Rp100 juta. “Dana itu sangat besar,” katanya.
Philipus Sanyi mengakui dibanding dengan mencari ikan dengan alat pancing maupun menjaring agak sedikit perolehan ikan. “Saya dari malam pasang jaring di sekitar laut Abepantai, sampai pagi ini hanya dapat dua ikan bubara,” katanya seraya menambahkan berbeda dengan memakai bagan, hanya tinggal semalam di bagan terus pagi sudah dapat hasil ikan puri (teri), ikan bubara dan ikan lainnya di Teluk Youtefa.
“Lumayan bisa dapat ikan sehari sebesar lima ratus ribu rupiah kita bawa ke pelelangan di Pasar Hamadi karena sudah ada yang terima di sana,” katanya. Hanya saja dia mengakui selama ini belum mendapat bantuan maupun binaan dari Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Jayapura. “Memang saya tidak masuk dalam Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) di Kota Jayapura. Saya ini nelayan mandiri,” katanya.
Jembatan merah berpengaruh, minimnya ikan di Teluk Youtefa
Dulu sebelum jembatan Youtefa dibangun, banyak ikan yang masuk ke dalam Teluk Youtefa sehingga hasil tangkapan cukup lumayan untuk memenuhi kebutuhan warga sehari hari, baik untuk konsumsi maupun dijual di pasar Hamadi maupun di Pasar Youtefa.
Tapi kini jembatan sepanjang, 732 meter dengan lebar 21 meter setelah diresmikan Presiden Jokowi pada 28 Oktober 2019 lalu hasil tangkapan mulai berkurang. ” Cahaya lampu di jembatan sangat terang sehingga ikan-ikan tidak lagi masuk ke Teluk Youtefa, kalau pun ada sedikit sekali, berbeda dengan cumi cumi masih melimpah,” kata Philipus Sanyi.

Philipus Sanyi mengakui akibat penerangan di jembatan Youtefa di malam hari banyak ikan ikan tertahan di dekat laut jembatan merah. “Hanya sedikit ikan yang masuk dan kita tangkap di bagan,” katanya.
Dia menambahkan kalau menangkap ikan di bagan ada rakit terapung yang dilengkapi jaring dan lampu untuk memancing ikan ikan main di atas jaring. “Banyak ikan yang bisa terjebak di dalam rakit terapung itu antara lain bubara, cumi dan ikan puri, apalagi cahaya lampu menarik ikan, lalu kitong angkat jaring dan dapat ikan,” katanya seraya menambahkan waktu mencari di bagan biasanya dilakukan malam hari terutama saat bulan gelap.
Dia mengatakan hanya mencari ikan dengan bagan di sekitar Teluk Youtefa saja karena bagannya berukuran kecil sehingga tak bisa keluar di Laut Lepas di depan Kota Jayapura.
Menurut Sanyi, kalau mencari cumi cumi di Teluk Youtefa masih ada berbeda kalau gurita sangat susah karena gurita ini butuh air yang keruh tapi bersih dari sampah. “Dulu gurita gampang kitong cari,” katanya.
Hal senada juga dikatakan Paul Karma warga Abepantai bahwa biaya membangun bagan sangat mahal di sini ada beberapa warga Papua pemilik bagan termasuk Philipus Sanyi dan juga kakak Chris Yarangga. “Ya biaya bagan itu sekitar Rp 50 juta ke atas,” tambah Karma.
Lebih lanjut kata Sanyi di Teluk Youtefa saat ini terdapat sembilan bagan, dua milik orang Papua sedangkan sisanya orang dari luar Papua. “Dulu memang dong larang pasang bagan di Teluk Youtefa tapi sekarang sudah bisa. Hanya saya dan bapak Chris Yarangga yang punya bagan di Teluk Youtefa,” katanya.
Dia mengakui meski tangkapan berkurang, karena sampah dan juga penerangan lampu di Jembatan Youtefa pada malam hari. “Toh pencarian ikan di Teluk Youtefa tetap berjalan walau tak sebanyak dulu. Harus tetap mencari,” katanya.(*)











Discussion about this post