Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Penkes

Kehidupan pengap mahasiswa Nduga di Jayapura

Beberapa mahasiswa juga kekurangan gizi dan menderita berbagai penyakit. Mereka tidak bisa berharap banyak dari kiriman orang tua di kampung.

June 10, 2024
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Ratty Auparai - Editor: Aries Munandar
Nduga

Aula Asrama Ninmin di Jalan Biak, Abepura, Kota Jayapura. - Jubi/Ratty Auparai

Jayapura, Jubi – Kehidupan Harnamin Gwijangge, dan kawan-kawan di perantauan sunguh memprihatinkan. Mereka tinggal berjejal di sebuah asrama yang pengap.

Gwijange, dan kawan-kawan berasal dari Kabupaten Nduga dan berkuliah di sejumlah perguruan tinggi di Kota dan Kabupaten Jayapura. Mereka menetap di Asrama Ninmin di Jalan Biak, Kota Jayapura.

RELATED POSTS

Warga jarah beras bantuan di Keneyam, Nduga

Kepala Distrik Mugi mediasi, warga minta Pemkab Nduga relokasi Pengungsi

Menjelang Pemilihan Wakil Bupati Nduga, semua pihak harus menjaga kedamaian

“Asrama Ninmin dibangun seorang misionaris asal Belanda, Vandervel. Ninmin itu nama istrinya,” kata Gwijangge, 22 tahun, saat ditemui Jubi, Minggu, 9 Juni 2024.

Asrama Ninmin terdiri atas delapan kamar sebagai barak putra, dan enam kamar sebagai barak putri. Setiap kamar berukuran 3×4 meter.

Dengan jumlah kamar yang terbatas itu, asrama Ninmin harus menampung 56 penghuni. Para mahasiswa pun tinggal berjejal di asrama.

“Tidak ada ruang yang cukup buat kami untuk tidur, belajar, apalagi berdiskusi di asrama ini. Sirkulasi udara di kamar tidur juga kurang baik [pengap],” ujar Gwijangge, yang juga Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga Kota Jayapura.

Bangunan Asrama Ninmin belum pernah dipugar. Beberapa kaca jendela di barak putera telah bertanggalan. Pintu kamar di barak putri pun rusak.

“Setiap kamar putri yang seharusnya hanya dua orang, bisa ditempati hingga empat orang. Kondisi serupa juga dialami di kamar putra. Mereka bahkan bisa tujuh hingga delapan orang sekamar,” kata Darli Lokbere, 22 tahun, penghuni barak putri Asrama Ninmin.

Nduga
Barak Mahasiswa Putra di Asrama Ninmin. Sebagian kaca jendelanya telah bertanggalan. – Jubi/Ratty Auparai

Dilematis

Tidak ada pilihan bagi Gwijangge, Lokbere, dan kawan-kawan selain menetap di asrama tersebut selama berkuliah di Jayapura. Mereka harus hidup dengan kondisi memperihatinkan di tanah rantau.

“Beberapa mahasiswa mengalami kurang gizi. Ada juga yang menderita berbagai penyakit,” ujar Gwijangge.

Para mahasiswa tidak bisa berharap banyak dengan kemampuan orang tua. Kondisi perekonomian mereka juga tidak kalah memperihatinkan di kampung. Beberapa, di antaranya bahkan masih mengungsi akibat konflik bersenjata di Nduga.

Karena itu, Gwijangge, dan kawan-kawan juga mesti pontang-panting untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari selama berkuliah. Mereka ada yang berjualan pinang, dan bekerja serabutan.

Mahasiswa menumpang tinggal secara gratis di Asrama Ninmin. Mereka hanya dikenai biaya pemakaian air bersih dan listrik setiap bulan. Namun, kewajiban itu pun cukup memberatkan mahasiswa.

“Kami sering kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan dan membayar listrik. Mau berharap [meminta kiriman uang] dari orang tua juga jadi serbasalah,” kata Gwijangge.

Nduga
Pondok permukiman mahasiswa dan pelajar Kabupaten Nduga di Kompleks Taruna, Jalan, Sosial, Kabupaten Jayapura. – dok. Harnamin Gwijangge

Kecewa dengan pemerintah

Berdasarkan pendataan Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nduga pada 2022, ada 352 mahasiswa daerah tersebut berkuliah di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Selain menetap di Asrama Ninmin, sebagain besar mahasiswa Nduga menumpang tinggal di rumah keluarga.

“Ada yang numpang di keluarga. Ada juga membuat gubuk untuk tempat tinggal,” ujar Gwijangge.

Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih itu kecewa dengan Pemerintah Kabupaten Nduga. Dia mengganggap mereka tidak peduli dengan masa depan pendidikan generasi muda Nduga.

“Banyak pengabaian Pemerintah Kabupaten Nduga terhadap [nasib] para mahasiswa dan pelajar [di perantauan]. Kami [sebenarnya juga] banyak yang ingin kuliah di Jurusan Kedokteran. Karena keadaan ekonomi, kami akhirnya memilih jurusan lain,” kata Gwijangge.

Jefri Wiro Lokbere, mantan mahasiswa asal Nduga mengatakan sebagian besar mahasiswa dari daerahnya berkuliah di Jayapura. Jumlah mereka di Jayapura terbanyak daripada di kota-kota lain di Indonesia.

Lokbere mengakui beratnya persoalan yang dihadapi para mahasiswa Nduga di Jayapura. Mereka mengalami krisis tempat tinggal.

“Bisa dibilang adik-adik ini [mahasiswa Nduga] mengalami darurat tempat tinggal layak. Persoalan itu menjadi pergumulan panjang dari tahun ke tahun,” kata alumnus Sekolah Tinggi Teologi Jaffray, Jakarta, tersebut.

Dia berharap Pemerintah Kabupaten Nduga bertindak cepat dalam mengatasi persoalan permukiman mahasiswa di Jayapura. Menurutnya, mereka harus membangun asrama permanen.

“Mahasiswa harus punya tempat tinggal yang aman, dan waktu istirahat yang cukup supaya mereka bisa berpikir dan beraktivitas dengan baik. Sumber daya manusia itu lebih penting daripada sumber daya alam,” kata Lockbere, yang juga tamatan pascasarjana dari Volgograd State University, Russia, tersebut. (*)

 

Tags: Asrama Mahasiswa NdugaIkatan Mahasiswa NdugaKabupaten NdugaKonflik Bersenjata di Nduga
ShareTweetSendShareShare
Victor Mambor

Victor Mambor

Related Posts

Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Penembakan
Lapago

Warga Puncak Jaya dilaporkan tewas ditembak, Satgas Damai Cartenz: Masuk DPO

April 21, 2026
Puncak
Lapago

Ribuan warga Puncak berdemonstrasi tuntut militer hentikan kekerasan

April 20, 2026
Papua
Domberai

Kasih Rumbai Koteka, menyalakan harapan anak putus sekolah di Papua Barat

April 12, 2026
IMPW
Lapago

IMPW Jayapura tolak pembangunan Mapolda dan perkantoran di tanah Wouma–Wio

April 1, 2026
beras
Lapago

Warga jarah beras bantuan di Keneyam, Nduga

March 28, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

DOB

DOB berikan ruang OAP menduduki jabatan struktural

July 20, 2022
Yapen

Seleksi DPRK Kepulauan Yapen Mekanisme Pengangkatan diproses di tingkat distrik

October 6, 2024
keamanan

Keamanan berperan penting dalam pertumbuhan pariwisata

April 21, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara