Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lapago

IMPW Jayapura tolak pembangunan Mapolda dan perkantoran di tanah Wouma–Wio

April 1, 2026
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Silpester Kasipka - Editor: Arjuna Pademme
IMPW

Ikatan Mahasiswa Pelajar Wio atau IMPW Jayawijaya di kota Studi Jayapura saat menyampaikan pernyataan sikap di Jayapura, Papua pada Rabu (1/4/2026).-Jubi/Dok IMPW

Jayapura, Jubi – Ikatan Mahasiswa Pelajar Wio atau IMPW Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan di kota studi Jayapura, Papua menyatakan menolak rencana pembangunan Markas Kepolisian Daerah atau Mapolda dan perkantoran vertikal lainnya di lahan Wouma–Wio, Kabupaten Jayawijaya. 

IMPW terdiri dari mahasiswa yang berasal dati Distrik Wamena Kota, Distrik Wesaput dan Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya.

RELATED POSTS

Bupati Nduga kunjungi warganya di Kabupaten Jayawijaya

Pengungsi Nduga di Hubikosi hadapi konflik tanah dan status administrasi tak jelas

Penyusunan perda di Jayawijaya mesti sinkron dengan hukum masyarakat adat

Penolakan itu disampaikan IMPW dalam siaran pers tertulisnya, yang diterima Jubi, Rabu (1/4/2026).

Ketua Umum IMPW Jayapura, Jefri Matuan mengatakan, Pemerintah Provinsi atau Pemprov Papua Pegunungan merencanakan pembangunan kawasan perkantoran vertikal di lahan seluas sekitar 42 hektare di Distrik Wouma–Wio.

Lahan tersebut akan digunakan untuk pembangunan Mapolda dan sejumlah kantor instansi vertikal seperti Kejaksaan Tinggi, Pengadilan Tinggi, Badan Pemeriksa Keuangan atau BPK,  Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK, dan beberapa kantor instansi vertikal lain.

Menurutnya, rencana tersebut memang merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat sistem keamanan dan pemerintahan. Namun di sisi lain, persoalan hak ulayat masyarakat adat dinilai belum diselesaikan secara adil.

“Rencana pembangunan yang disampaikan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan perlu dikaji ulang secara menyeluruh, karena berpotensi menimbulkan persoalan di tengah masyarakat,” kata Jefri Matuan.

Mahasiswa menilai, rencana tersebut perlu dipertimbangkan kembali secara serius dan menyeluruh. Sebab hingga kini masih terjadi polemik di masyarakat terkait rencana pembangunan instansi pemerintahan.

Polemik terjadi sejak rencana pembangunan kantor gubernur Papua Pegunungan beberapa waktu lalu, hingga kini rencana pembangunan Mapolda dan perkantoran vertikal lainnya. Polemik itu khsusnya terkait hak ulayat yang hingga kini belum diakomodir secara adil.

Selain itu, lahan yang direncanakan untuk pembangunan di Tanah Wouma–Wio, masih merupakan lahan produktif pertanian tradisional yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.

“Lahan tersebut tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat lokal, juga masyarakat dari tujuh kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan sebagai tempat berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum IMPW kota studi Jayapura, Roky Itlay mengatakan, pihaknya mempertanyakan dampak jangka panjang dari alih fungsi lahan tersebut.

Menurutnya, jika lahan produktif dialihkan menjadi kawasan perkantoran, maka masyarakat akan kehilangan ruang hidup dan sumber ekonomi utama mereka.

“Wilayah Wouma bukanlah tanah kosong, melainkan tanah adat yang dimiliki oleh beberapa sub-klen secara turun-temurun,” kata Roky Itlay.

Selain itu menurut Itlay, pemerintah daerah juga belum memfasilitasi proses mediasi secara terbuka, partisipatif, dan adil antara kelompok masyarakat yang pro dan kontra terhadap rencana pembangunan tersebut.

“Karena itu, pemerintah perlu segera mengambil langkah untuk memediasi semua pihak agar tidak menimbulkan konflik berkepanjangan,” ujarnya.

Melihat dinamika yang terjadi IMPW kota studi Jayapura pun menyatakan sikap bahwa tanah Molama di Wouma–Wio merupakan lahan perkebunan rakyat terakhir yang dikelola oleh masyarakat Wouma-Wio, serta kerabat dari tujuh kabupaten di Papua Pegunungan. Karena itu, pemerintah diminta bijak dalam mengambil keputusan terkait pemanfaatan lahan tersebut.

Gubernur Provinsi Papua Pegunungan dinilai belum memfasilitasi proses mediasi secara terbuka, partisipatif, dan adil antara kelompok pro dan kontra.

IMPW pun meminta gubernur berperan aktif memediasi kedua belah pihak, guna mencapai solusi bersama yang adil dan tidak merugikan pihak manapun.

IMPW mendesak Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR Papua Pegunungan, segera menjaring aspirasi dari seluruh pihak yang terdampak.

Mendesak Majelis Rakyat Papua MRP Papua Pegunungan, khususnya perwakilan adat, untuk memfasilitasi dialog antara kelompok pro dan kontra.

Menegaskan bahwa Wouma bukan tanah kosong, melainkan tanah adat yang dimiliki oleh beberapa sub-klen/honai adat secara turun-temurun.

Mengajak masyarakat Wouma dan Wio untuk bersatu menjaga tanah adat yang tersisa sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Meminta Gubernur Papua Pegunungan mengevaluasi kebijakan pengambilan lahan adat, khususnya di wilayah Wio dan Hubulama sebagai pusat pemerintahan, mengingat seluruh tanah di Wamena merupakan tanah milik adat.

Menegaskan bahwa pada prinsipnya IMPW tidak menolak pembangunan, namun menolak penempatan kantor instansi pemerintahan di tanah Wouma–Wio, karena wilayah tersebut merupakan lahan produktif pertanian tradisional yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.

IMPW berharap Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan dapat mengambil keputusan yang bijak, inklusif, dan berpihak pada masyarakat adat tanpa mengorbankan ruang hidup mereka di masa depan. (*)

Tags: Ikatan Mahasiswa Pelajar WioIMPW JayapuraKabupaten JayawijayaPembangunan MapoldaWouma–Wio
ShareTweetSendShareShare
Silpester Kasipka

Silpester Kasipka

Related Posts

Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Penembakan
Lapago

Warga Puncak Jaya dilaporkan tewas ditembak, Satgas Damai Cartenz: Masuk DPO

April 21, 2026
Puncak
Lapago

Ribuan warga Puncak berdemonstrasi tuntut militer hentikan kekerasan

April 20, 2026
beras
Lapago

Warga jarah beras bantuan di Keneyam, Nduga

March 28, 2026
Distrik Borme
Lapago

DPRK Pegubin tindaklanjuti aspirasi penolakan pembangunan pos militer

March 27, 2026
Pegubin
Lapago

Mahasiswa, perempuan dan tokoh agama tolak pembangunan pos militer di Pegubin

March 25, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara