Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lapago

Masyarakat berbagai wilayah di Pegubin tolak pembangunan pos militer

March 3, 2026
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: Silpester Kasipka - Editor: Arjuna Pademme
pos militer

Tokoh bersama masyarakat distrik Borme saat menyatakan penolakan wacana pembangunan pos TNI di Distrik Borme Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan pada Jumat (27/2/2026).-Jubi/Dok Eran Kulka

Jayapura, Jubi – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR Papua Pegunungan dari daerah pemilihan Kabupaten Pegunungan Bintang, Apia Lepitalen menyatakan masyarakat dari berbagai wilayah di kabupaten itu, menolak rencana pembangunan pos militer di daerah mereka.

Apia Lepitalen mengatakan, pihaknya telah menerima berbagai laporan dan aspirasi dari masyarakat yang menolak kehadiran TNI/Polri, khususnya rencana pembangunan pos militer di wilayah mereka.

RELATED POSTS

Mahasiswa, perempuan dan tokoh agama tolak pembangunan pos militer di Pegubin

Gereja, pemerintah Distrik Borme dan masyarakat tolak pembangunan pos TNI

Pemerintah distrik dan masyarakat Teraplu tolak kehadiran TNI

Katanya, aspirasi penolakan tidak hanya disampaikan masyarakat Distrik Borme dan Teraplu, juga dari hampir seluruh distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan.

“Masyarakat menolak karena trauma atas berbagai peristiwa kekerasan yang pernah terjadi di sejumlah wilayah di [Tanah] Papua. Mereka merasa di mana ada TNI/Polri selalu diikuti kekerasan. Trauma itu masih ada, sehingga mereka merasa terancam jika pos TNI dibangun di distrik mereka,” kata Apia Lepitalen kepada Jubi di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Senin (3/3/2026).

Menurutnya, masyarakat berbagai distrik di Pegunungan Bintang juga berpendapat, wilayah mereka selama ini kondusif. Tidak ada gangguan keamanan berarti, sehingga tidak diperlukan pendirian pos militer di sana.

Sebab menilai kondisi wilayah mereka selama ini aman tanpa gangguan keamanan yang signifikan. Pelayanan pemerintahan dan gereja berjalan seperti biasa.

“Tidak ada konflik vertikal maupun horizontal. Jadi kami mempertanyakan kenapa tiba-tiba ada rencana pembangunan pos TNI di distrik-distrik yang relatif aman,” ujarnya.

Apia Lepitalen pun meminta pemerintah daerah dan pihak TNI memberikan klarifikasi terkait rencana pembangunan pos TNI di Distrik Borme, Distrik Teraplu, dan sejumlah distrik lain di Kabupaten Pegunungan Bintang.

Pemerintah Kabupaten Pegunungan Bintang dan aparat keamanan dirasa perlu menjelaskan secara terbuka dasar kebijakan rencana pembangunan pos TNI tersebut. Apakah ada kajian resmi yang menyatakan wilayah-wilayah itu sebagai daerah rawan konflik.

“Kalau memang ada kajian resmi yang menyebut daerah itu rawan, silahkan dibuka ke publik. Karena yang kami lihat di lapangan, distrik-distrik yang direncanakan itu aman dan terkendali,” ucapnya.

Ia menegaskan, DPR Papua Pegunungan akan menyampaikan aspirasi penolakan dari masyarakat itu kepada pemerintah daerah dan pihak TNI, guna meminta klarifikasi.

Katanya, kebijakan keamanan seharusnya melalui koordinasi dan persetujuan semua pihak di daerah, termasuk pemerintah daerah, DPR kabupaten dan provinsi, gereja, serta tokoh adat.

“Jangan sampai pemerintah pusat langsung membangun pos tanpa komunikasi yang baik. Yang terdampak langsung adalah masyarakat,” katanya.

Apia Lepitalen khawatir, kehadiran aparat keaman di berbagai distrik di Kabupaten Pegunungan Bintang justru menimbulkan dampak sosial di masyarakat.

Misalnya di Distrik Teraplu, kehadiran TNI di wilayah itu disebut berdampak pada kepulangan guru dan tenaga kesehatan ke daerah asal mereka, karena khawatir akan memicu reaksi dari kelompok yang selama ini bertentangan dengan pemerintah.

Kekhawatiran masyarakat mengenai pengaruh kehadiran militer terhadap stabilitas sosial di wilayah mereka dianggap perlu menjadi perhatian serius.

DPR Papua Pegunungan kata Apia Lepitalen, akan terus berkomunikasi dengan pemerintah daerah, gereja, dan tokoh adat untuk memastikan pelayanan publik tetap berjalan tanpa tekanan.

“Kami meminta agar rencana penempatan pasukan, baik organik maupun non-organik, dikaji kembali. Jangan sampai pelayanan pendidikan dan kesehatan terganggu,” ujarnya.

Apia Lepitalen juga menilai pemerintah daerah kurang responsif terhadap situasi yang berkembang. Menurutnya, hingga kini belum ada tanggapan resmi yang memadai dari pemerintah daerah terkait penolakan masyarakat. Pemerintah daerah pun dinilai gagal menjaga rakyatnya, dan sekan membiarkan situasi ini berkembang tanpa penyelesaian.

Katanya, DPR Papua Pegunungan akan memperjuangkan aspirasi penolakan itu, dengan memfasilitasi dialog antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pihak TNI guna mencari solusi bersama.

Terkait kemungkinan dikeluarkannya rekomendasi resmi, Apia Lepitalen mengatakan itu akan dibahas dalam rapat resmi DPR Papua Pegunungan, dan hasilnya akan disampaikan secara terbuka.

Ia juga mengimbau masyarakat, agar menyampaikan aspirasi secara santun dan tidak melakukan tindakan anarkis.

Tokoh pemuda Distrik Borme, Elinatan Basini menyatakan mewakili masyarakat adat, gereja, pemuda, dan perempuan suku Ketengban di Distrik Borme menolak rencana pembangunan pos TNI/Polri di wilayah mereka.

Menurutnya, masyarakat selama ini hidup aman dan damai. Namun setelah muncul isu pembangunan pos militer di sejumlah distrik seperti Borme, Teraplu, Okbab, dan Aboy, warga menjadi panik dan takut.

“Kami hidup aman dan damai. Setelah muncul isu pembangunan pos militer, masyarakat menjadi panik, trauma, dan takut,” kata Elinatan Basini.

Basini juga mengkritik kebijakan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia yang disebut menutup 11 bandara perintis, dengan alasan wilayah itu masuk zona merah. Ia menilai alasan tersebut tidak sesuai dengan kondisi riil di lapangan.

Katanya, masyarakat adat di wilayah itu selama ini berpegang pada hukum adat dan ajaran gereja dalam menjaga ketertiban dan keamanan. Karena itulah masyarakat Distrik Borme menolak kehadiran institusi TNI dan Polri di wilayah mereka.

“Kami menyatakan dengan tegas menolak kehadiran TNI dan Polri di Distrik Borme. Kami ingin tetap hidup damai dan rukun di atas tanah adat kami,” ucapnya.

Sementara itu, Kapala Penerangan Kodam XVII Cenderawasih, Kolonel Inf Tri Purwanto saat dikonfirmasi Jubi mengatakan akan menindaklanjuti informasi tersebut kepada komandan Gabungan Wilayah Pertahanan atau Kogabwhilan III di Timika,  Papua Tengah.

“Akan saya tindaklanjuti ke pihak Kogabwhilan III “kata Kolonel Inf Tri Purwanto.

Jubi telah berusaha menghubungi Pemerintah Kabupaten Pegunungan untuk mengkonfirmasi perihal penolakan rencana pembangunan pos militer di Distrik Borme dan Distrik Teraplu, namun hingga berita ini diturunkan belum ada respons dari Pemkan Pegunungan Bintang.  (*)

Tags: Kabupaten Pegunungan BintangPembangunan Pos MiliterTolak Pembangunan
ShareTweetSendShareShare
Silpester Kasipka

Silpester Kasipka

Related Posts

Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Penembakan
Lapago

Warga Puncak Jaya dilaporkan tewas ditembak, Satgas Damai Cartenz: Masuk DPO

April 21, 2026
Puncak
Lapago

Ribuan warga Puncak berdemonstrasi tuntut militer hentikan kekerasan

April 20, 2026
IMPW
Lapago

IMPW Jayapura tolak pembangunan Mapolda dan perkantoran di tanah Wouma–Wio

April 1, 2026
beras
Lapago

Warga jarah beras bantuan di Keneyam, Nduga

March 28, 2026
Distrik Borme
Lapago

DPRK Pegubin tindaklanjuti aspirasi penolakan pembangunan pos militer

March 27, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Polda Papua, Sekolah Jujur Bicara

Bidhumas Polda Papua isi materi Sekolah Jujur Bicara

November 8, 2023
SMPN 1 Jayapura

SMPN 1 Jayapura gelar pameran karya siswa

November 17, 2022
Pemuda Adat Papua

Pemuda adat Papua serukan perlindungan tanah dan hutan adat

September 24, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara