Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Lapago

Mahasiswa, perempuan dan tokoh agama tolak pembangunan pos militer di Pegubin

March 25, 2026
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Silpester Kasipka - Editor: Arjuna Pademme
Pegubin

Ikatan Mahasiswa Pelajar Pemuda Suku Ketengban atau IMPPSK bersama sejumlah tokoh saat menyampaikan pernyataan sikap penolakan rencana pembangunan pos militer di wilayah suku Ketengban, Kabupaten Pegunungan Bintang, Provinsi Papua Pegunungan. Aksi itu berlangsung di Dunlop, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (24/03/2026) -Jubi/Silpester Kasipka

Jayapura, Jubi — Pelajar, mahasiswa, perwakilan perempuan, tokoh agama, dan intelektual suku Ketengban, salah satu suku di Kabupaten Pegunungan Bintang (Pegubin), Papua Pegunungan menyatakan menolak rencana pembangunan pos militer pada 14 distrik di wilayah adatnya.

Distrik di wilayah suku Ketengban yang rencananya akan dibangun pos militer, di antaranya Distrik Borme, Distrik Okbab, Distrik Teraplu, dan Distrik Bime.

RELATED POSTS

Masyarakat berbagai wilayah di Pegubin tolak pembangunan pos militer

Masyarakat adat nyatakan palang pembangunan pos militer di Biak

Mahasiswa Moni se-Jawa dan Bali tolak pembangunan pos militer di Intan Jaya

Sikap penolakan itu disampaikan berbagai pihak tersebut dalam aksi damai yang digelar di Dunlop, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, Selasa (24/3/2026).

Koordinator aksi, Hezron Deal mengatakan penolakan tersebut merupakan respons terhadap rencana pembangunan pos militer pada sejumlah distrik di wilayah suku Ketengban.

“Kami dari mahasiswa [dan] pelajar suku Ketengban menolak rencana pembangunan pos militer di wilayah kami yang terdiri dari 14 distrik,” kata Hezron Deal.

Menurut Hezron Deal, informasi yang diperoleh pihaknya pembangunan pos militer baru akan dilakukan di beberapa distrik, di antaranya Distrik Borme, Okbab, Teraplu, dan Bime.

Katanya, pihak militer sudah pernah ke Distrik Teraplu, namun ditolak oleh masyarakat setempat, para tokoh gereja dan pemerintah distrik.

“Kami tidak ingin masyarakat kami mengalami dampak seperti di daerah lain, yang berujung pada pengungsian di Tanah Papua,” ujarnya.

Ketua Ikatan Mahasiswa Pelajar Pemuda Suku Ketengban atau IMPPSK, Genis Kean menegaskan bahwa penolakan tersebut merupakan sikap resmi masyarakat dari 14 distrik.

“Kami secara tegas menolak rencana pembangunan pos militer di wilayah Ketengban karena berpotensi menimbulkan konflik dan mengganggu kehidupan masyarakat,” kata Genis Kean.

Genis Kean juga meminta pemerintah daerah dan aparat keamanan, menghentikan rencana tersebut serta mendengar aspirasi masyarakat adat.

Sementara itu, perwakilan tokoh perempuan suku Ketengban, Agustina Wisal mengatakan kehadiran pos militer berpotensi merusak tatanan sosial masyarakat adat di sana, serta berdampak pada masa depan anak dan perempuan.

“Kami dari perempuan suku Ketengban menolak rencana pembangunan pos militer karena dapat merusak masa depan generasi kami,” ucap Agustina Wisal.

Ia menilai, masyarakat Ketengban kini hidup dalam kondisi aman dan membutuhkan pembangunan dalam sektor pendidikan serta kesehatan, bukan pendekatan militer.

“Yang kami butuhkan itu kesehatan dan pendidikan jdi bukan bangun pos militer di wilayah kami,” ujarnya.

Mahasiswa asal Ketengban, Rojer Wasini juga menyatakan penolakan tersebut merupakan suara bersama masyarakat pada 14 distrik di wilayah suku Ketengban.

“Kami mahasiswa bersama rakyat menolak deng tegas pembangunan pos militer karena berpotensi menimbulkan trauma dan konflik,” kata Rojer Wasini.

Ia mendesak pemerintah daerah Kabupaten Pegunungan Bintang dan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, segera merespons aspirasi tersebut dan menghentikan rencana pembangunan pos militer di sana.

Menurutnya, masyarakat berharap pemerintah lebih mengedepankan pendekatan kesejahteraan, bukan pendekatan keamanan dalam pembangunan di wilayah adat.

Mewakili tokoh gereja, Pdt. Yorim Deal mengatakan kehadiran militer di wilayah sipil perlu dipertimbangkan secara matang, karena dapat berdampak pada kehidupan masyarakat dan pelayanan gereja.

“Kami sebagai tokoh agama melihat bahwa masyarakat saat ini hidup tenang, beribadah, dan menjalankan aktivitas dengan baik. Jangan sampai kehadiran militer mengganggu situasi tersebut,” kata Pdt. Yorim Deal.

Pdt. Yorim Deal menegaskan bahwa gereja mendukung aspirasi masyarakat yang menolak pembangunan pos militer di wilayah adat suku Ketengban.

“Kami pegang injil dan hidup dalam damai sehingga kami tidak membutuhkan kehadiran TNI atau Polisi di wilayah kami,” ucapnya.

Tokoh intelektual asal Ketengban, Steven Tengket menambahkan, hingga kini wilayah suku Ketengban masih tergolong aman dan tidak ada konflik bersenjata, seperti pada beberapa distrik lain di Papua Pegunungan atau  Tanah Papua pada umumnya.

“Kami melihat masyarakat masih bisa beraktivitas normal. Jangan sampai kebijakan ini justru menciptakan ketakutan dan konflik baru,” kata Steven Tengket.

Ia mengingatkan bahwa pengalaman masyarakat wilayah lain di Pegunungan Bintang, seperti Distrik Kiwirok dan Oksop yang terdampak konflik menyebabkan warga di sana mengungsi.

“Kami tidak ingin hal yang sama terjadi di wilayah suku Ketengban yang terdiri dari 14 distrik”, ujarnya. (*)

Tags: Ikatan Mahasiswa Pelajar Pemuda Suku KetengbanIMPPSKPegubinPembangunan Pos Militer
ShareTweetSendShareShare
Arjuna Pademme

Arjuna Pademme

Related Posts

Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Penembakan
Lapago

Warga Puncak Jaya dilaporkan tewas ditembak, Satgas Damai Cartenz: Masuk DPO

April 21, 2026
Puncak
Lapago

Ribuan warga Puncak berdemonstrasi tuntut militer hentikan kekerasan

April 20, 2026
IMPW
Lapago

IMPW Jayapura tolak pembangunan Mapolda dan perkantoran di tanah Wouma–Wio

April 1, 2026
beras
Lapago

Warga jarah beras bantuan di Keneyam, Nduga

March 28, 2026
Distrik Borme
Lapago

DPRK Pegubin tindaklanjuti aspirasi penolakan pembangunan pos militer

March 27, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Penny Wong

Menlu Penny Wong berkunjung ke Samoa dan Tonga

June 3, 2022
Jayapura

Empat distributor di Kota Jayapura intens mengirim ikan tuna ke Jepang

June 19, 2023
Kabupaten Jayapura

Bapemperda DPRD Kabupaten Jayapura siap evaluasi semua produk hukum yang ditetapkan

June 21, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara