Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Saireri

Raja Sibah: Pohon Mangga Keramat di Nabire yang jadi penjaga Kampung Napan

September 13, 2025
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: Larius Kogoya - Editor: Angela Flassy
keramat

Pohon Mangga yang diyakini warga Napan sebagai pohon keramat yaitu penghuninya Raja Sibah penjaga kampung di Napan, Distrik Napan, Kabupaten Nabire, Papua Tengah Rabu (10/9/2025).- Jubi/Larius Kogoya.

Nabire, Jubi – Warga Kampung Napan, Distrik Napan, Kabupaten Nabire, Papua Tengah mempercayai keberadaan sebuah pohon keramat yang berusia satu abad lebih atau 110 tahun. Mereka percaya, pohon tersebut berpenghuni. Namanya Raja Sibah, penjaga kampung.

Secara kasat mata, pohon tersebut adalah pohon mangga. Tapi masyarakat meyakini juga sebagai pohon keramat, pohon persahabatan antar kampung dan antar pulau.

RELATED POSTS

Gubernur Meki Nawipa resmikan pesantren dan sambut berdirinya SMP-SMA Riyadhul Qur’an

Batik Air resmi beroperasi di Papua Tengah

Realisasi pendapat daerah Papua Tengah melampaui target

Pohon mangga keramat itu terletak di sebuah bukit kecil, di antara pemukiman warga Napan yang berasal dari Suku Kamiroki. Masyarakat menyebutnya “Bukit Asam.”

Batang pohon mangga itu cukup besar, seukuran 3 kali dari drum BBM 200 liter, dengan tinggi sekitar 30 meter. Dedaunan yang terlihat segar dan lebat, serta ranting-rantingnya bercabang banyak. Walau pohon itu dipenuhi benalu, namun hanya sedikit dahannya tampak kering kekuningan.

Tak jauh dari pohon keramat, sekira 50 meter, berdiri Patung Yesus yang memberkati pulau-pulau dan kampung-kampung sekitar. Patung Yesus adalah tugu peringatan masuknya Injil di kampung itu.

Menurut cerita nenek moyang orang Napan, marga Marei yang menanam pohon mangga itu pada kisaran tahun 1915. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Pohon mangga ditanam usai perang suku antara suku asli Kampung Napan dengan suku dari Wate atau yang disebut “Warga Tarung Gerei.”

“Pohon ini di tahun 2025 sudah berumur 110 tahun. Dia tanam ini untuk mempersatukan mereka, mempererat hubungan antara moyang mereka dengan orang-orang pendatang yang datang berburu dan mencari di lingkungan sekitar tempat ini, kampung kami tinggal ini, Kampung Napan,” katanya.

Feliks Peki Marei menuturkan, karena pohon ini umurnya sudah 110 tahun, jadi warga kampung ini menjaga.

“Jadi pohon ini memang ada rajanya [penunggu]. Raja yang tinggal di pohon ini namanya Sibah. Raja Sibah ini sewaktu waktu baru dia keluar. Jadi kalau ada orang yang punya kelebihan, bisa ketemu atau kalau tepat dengan dia punya waktu, dia ketemu warga, tapi dia baik,” ujar Feliks.

Tokoh adat kampung Napan Feliks Peki Marei sebagai pewaris dan penjaga pohon keramat itu di kampung Napan, Distrik Napan, Kabupaten Nabire, Papua Tengah Rabu (10/9/2025).- Jubi/Larius Kogoya.

Feliks Peki Marei membeberkan kalau Raja Sibah adalah perempuan, namun warga menyebutnya raja, bukan ratu. Ia keluar menampakan diri pada malah hari. Masyarakat  melihat, dan sewaktu-waktu bertemu,  tapi tidak bisa mengganggu dia. Karena dia penjaga kampung dan pantai. Kalau ada masyarakat meminta sesuatu lewat Raja Sibah, biasa dikabulkan. Ia mengulas orang biasa menyembah dia, tapi hanya orang memiliki kemampuan spirirual.

“Artinya orang punya kekebalan, itu dia tahu. Dia kasih tahu orangnya, tapi khusus keluarga yang bisa itu keluarga besar Marei. Di luar dari itu tidak, karena itu khusus untuk keluarga. Saya tujuh turunan dari moyang Abraham Marei yang tanam pohon ini,” katanya.

Dewan Adat Kampung Napan, Anis Sayori juga mengakui kekeramatan pohon mangga tersebut. Ia mengatakan pohon mangga itu terlihat seperti mangga biasa. Dalam bahasa Napan mangga Dodu.

“Kalau bukan dia ada penghuni tidak mungkin dia segar seperti ini tapi karena dia ada penghuni. Jadi Mangga ini dua tinggal sampai sekarang masih kelihatan muda tidak kering sampai sekarang itu karena dia ada penghuni. Bukit ini tempat ini ada penghuni itu yang menjaga kampung ini,” ujarnya.

Anis Sayori membeberkan bahwa karena berpenghuni, pohon itu masih subur sampai saat ini. Tidak pernah tua, tidak pernah kering, dahan pun tidak ada yang kering juga. Saat musimnya, Mangga ini berbuah dengan sarat. Rasanya juga masnis.

“Ini mangga tertua yang menjadi bibit dari mangga ke pulau-pulau dan kampung-kampung lain. Bibit yang dikembang di kampung Napan, Weinami, Mosan dan Maspawa. Dia kalau berbuah semua orang datang, karena dia punya daging lebih enak dari pada yang di tanam di sekitar ini. Meski sumber bibit dari mangga besar ini tapi rasa lain, jadi semua mau datang kesini kalau musim buah. Mereka tahu musim buah jadi datang,” katanya.

Patung Yesus adalah tugu peringatan masuknya Injil di kampung Napan – Jubi/Larius Kogoya.

Tua-tua kampung, Samuel Marei juga menambahkan. Sejak dirinya kecil, saat mangga itu berbuah, hasilnya dibagi-bagi ke orang-orang yang ada di sekitar kampung ini. Termasuk dalam himpunan ini orang Kamuki-Kamuki. Teman-teman, sahabat-sahabat dari pulau ini.

“Mereka ada di Pulau Mor, Arwi, Mambor Hariti, dan pulau-pulau lainnya. Dia bagi-bagi jadi setiap kali musim buah panen, mereka bagi-bagi sepuluh-sepuluh buah satu keluarga. Dengan begitu orang tua di kampung ini mau menjaga tanda persahabatan antara kampung-kampung ini dengan orang-orang adat yang ada di kampung ini,” ujarnya.

Tokoh adat Kampung Napan itu menjelaskan bahwa setiap kali mangga ini berbuah, berarti itu mengikatkan hubungan keluarga antara sahabat-sahabat yang ada di sekitar kampung ini. Jadi mereka datang, berhimpun sama-sama, makan sama-sama di tempat ini.

Makan Serdadu Jepang

Pada masa perang Pasifik, tulang belulang Serdadu Jepang yang meninggal di pulau ini, juga diletakkan di sana.

“Ada kuburan orang Jepang di atas pohon keramat ini. Moyang kami mengubur orang Jepang yang mati waktu itu. Ada empat orang,” kata Feliks Peki Marei.

Feliks juga adalah pewaris atau penjaga pohon keramat itu bercerita pada masa perang dunia kedua, pulau mereka juga menjadi tempat serdadu Jepang. Ketika sekutu bertempur dengan serdadu Jepang, ditemukan 4 serdadu yang mati, kemudian dimakamkan di bawah pohon ini.

“Kuburannya masih ada, tulang belulang juga masih ada. Kami jaga awasi, jaga tempat itu,” katanya.

Feliks berusia 67 tahun. Ia adalah keturunan ketujuh dari moyang Abraham Marei yang menanam pohon itu.

“Moyang kami yang selamatkan jenazah-jenazah itu kubur di situ. karena tidak mau tercecer sehingga diamankan satu tempat baru dikubur di situ. Jadi tempat supaya mana kalah ada orang bisa kasih tahu ceritanya,” ujarnya.

Dewan adat Napan, Anis membenarkan soal cerita makam serdadu Jepan di bawah pohon itu. Pohon mangga menjadi tanda supaya kehidupan anak cucu ini bisa cerita tentang sejarah tempat ini dan untuk daerah ini, karena ada masih ada bekas Bom waktu perang dunia.

“itu masih ada di sebelah gunung, jadi disini dulu pertahanan tentara jepang, Belanda atau sekutu Belanda sikat itu di sini hancur kelapa-kelapa, pinang pohon hancur karena peluru dan bom. Dan bekas-bekas itu masih ada sampai kita bisa melihat,” ujarnya. (*)

Tags: Kabupaten Nabireperlindungan tempat keramatProvinsi Papua Tengah
ShareTweetSendShareShare
Angela Flassy

Angela Flassy

Related Posts

Poster film dokumenter Pesta Babi - Dok. Jubi
Indepth Story

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

April 19, 2026
Kampung Yobeh
Mamta

Masyarakat Kampung Yobeh sambut wisatawan mancanegara dengan atraksi budaya

April 16, 2026
Kuasa hukum
Saireri

KPU Waropen digugat kuasa hukumnya, diduga lakukan wanprestasi

February 23, 2026
OPD
Saireri

Bupati ajak seluruh OPD jaga kebersihan lingkungan di Waropen

February 20, 2026
Topeng roh Doro
Headline

Time for Papua : Jejak Orang Asli Papua di komunitas global sejak puluhan ribu tahun lalu ada di Leiden, Belanda

February 26, 2026
DPRK Waropen
Saireri

Pansus DPRK Waropen untuk melindungi batas wilayah dan mengawasi penambangan liar

February 11, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Persipura

Liga 2 sudah dekat, Manajemen Persipura fokus pagari pemain

June 8, 2022
KPUD Merauke

KPUD Merauke bakal laksanakan Kirab Pemilu pada 1 Maret

February 25, 2023
Politik

Isu politik dan olahraga, pemikat paling dinanti para pembaca Papua

April 30, 2024

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara