Jayapura, Jubi – Sebanyak 20 mahasiswa yang mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Moibaken, Distrik Yendidori, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, telah tinggal di kampung tersebut sejak 18 Juli hingga 22 Agustus. Selama berada di sana, mereka bekerja bersama warga, mulai dari membersihkan kampung, menanam pisang, melengkapi data kependudukan, hingga membangun dan memasang 10 lampu penerangan jalan tenaga surya di pintu masuk kampung.
Hal itu dikatakan Koordinator Lapangan KKN Mahasiswa Uncen di Kampung Moibaken, Zadock Ferdinand, kepada test.jubi.id di Jayapura, Rabu (27/8/2025).
“Kami berunding untuk menyelesaikan masalah penerangan di kampung dengan mengadakan lampu jalan, lalu kami patungan membeli lampu ini di Surabaya serta langsung memasangnya. Kebetulan warga membantu dengan menyediakan kayu balok ukuran 10×10, kami mengecatnya dengan warna biru, dan bersama-sama ikut memasang,” katanya. Ia menambahkan, untuk menggali lubang cor tiang lampu cukup sulit karena tanah di Kampung Moibaken berupa karang, sehingga butuh tenaga ekstra agar kayu tiang lampu surya bisa tertancap.

Mananwir Kampung Moibaken, Penasifu, mengaku sangat senang karena kampung kini terang. “Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa yang telah membantu bersama warga di Kampung Moibaken,” kata Penasifu, tua adat pemilik klen Kampung Moibaken, saat dihubungi test.jubi.id melalui pesan WhatsApp, Kamis (28/8/2025). Ia menambahkan, warga sangat terharu dan sedih saat mahasiswa KKN kembali ke Jayapura pada 23 Agustus lalu dengan menumpang KM Dobonsolo.
Mahasiswa Saksikan Upacara Apen Bayeren di Kampung Moibaken
Selain menjalankan program KKN di Kampung Moibaken, 20 mahasiswa dari berbagai fakultas juga berkesempatan menyaksikan upacara adat Apen Bayeren di Kampung Moibaken, sekitar 12 km ke arah barat Kota Biak.
“Memang kami di Kampung Moibaken ini berasal dari Kampung Adoki,” kata Penasifu.
Ia menjelaskan, upacara Apen Bayeren di Kampung Moibaken diwariskan dari moyang kepada klen atau marga Yapen. Tokoh adat Kampung Moibaken, Mansar Alveres Yapen, beserta keturunannya masih tetap mempertahankan tradisi ini hingga kini.

Apen Bayeren merupakan upacara adat untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta, yang dalam bahasa Byak disebut Wor Fan Nanggi. Orang Byak mengucapkan syukur karena Wor Fan Nanggi telah melindungi dan ikut berpartisipasi dalam Wor K’Bor atau ritus inisiasi.
Menjelang upacara Apen Bayeren, sebanyak 10 pemuda peserta wajib menjaga kesucian diri, termasuk tidak boleh melakukan hubungan suami istri. Kaum laki-laki harus masih perjaka, sedangkan yang sudah menikah wajib memenuhi seluruh persyaratan adat.
Kini, atraksi Apen Bayeren juga menjadi salah satu daya tarik wisata di Kampung Moibaken. Mahasiswa KKN Uncen di Kampung Moibaken ikut menyaksikan acara yang diawali dengan bakar batu (barapen) sebelum ritual utama. Koordinator Lapangan KKN, Zadock Ferdinand, mengingatkan wisatawan yang ingin menyaksikan tradisi berjalan di atas batu panas ini untuk berkunjung ke Kampung Moibaken, Distrik Yendidori, Kabupaten Biak Numfor. (*)











Discussion about this post