Biak Numfor, Jubi – Gubernur Papua Matius D. Fakhiri kaget saat melihat langsung kondisi Hotel Mapia, yang merupakan salah satu aset milik Pemerintah Provinsi Papua di Kabupaten Biak Numfor. Bangunan yang pernah menjadi salah satu ikon penginapan di Biak itu dinilai sudah jauh dari standar kelayakan.
Usai meninjau langsung, Fakhiri menyatakan Hotel Mapia yang beralamat di Jalan Jenderal Ahmad Yani No.23, Mandala, Kecamatan Biak Kota, Kabupaten Biak Numfor, Papua akan ditutup sementara. Penutupan dilakukan untuk evaluasi menyeluruh sekaligus persiapan revitalisasi besar-besaran.
“Saya melihat kondisi aset Pemprov di Biak ini sudah tidak layak. Dari bangunan sampai fasilitasnya, Hotel Mapia membutuhkan perbaikan serius agar bisa ke depan mampu bersaing,” kata Fakhiri di Kota Biak, Senin (12/1/2026).
Menurut dia, kondisi hotel yang dibangun sejak era 1990-an itu tidak lagi mendukung pengembangan sektor pariwisata daerah. Padahal, sebagai aset pemerintah, Hotel Mapia seharusnya mampu menjadi sumber pendapatan dan motor ekonomi lokal.
Fakhiri menegaskan, pembenahan hotel bukan sekadar perbaikan fisik, tetapi bagian dari strategi meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Kami tutup sementara untuk dievaluasi dan dibenahi. Targetnya jelas, meningkatkan PAD sektor pariwisata dan menarik lebih banyak wisatawan ke Biak,” tegasnya.
Ia juga memastikan hak-hak pegawai hotel tetap menjadi perhatian pemerintah. Seluruh kewajiban kepada karyawan akan diselesaikan sebelum penutupan sementara diberlakukan.
“Utang pegawai akan kami selesaikan. Setelah itu, tim percepatan akan bekerja membenahi bangunan dan manajemennya,” jelasnya.
Hotel Mapia sendiri memiliki nilai historis bagi perkembangan pariwisata Biak. Namun, seiring waktu dan minim perawatan, kondisinya tertinggal jauh dibandingkan hotel-hotel baru yang tumbuh di kota tersebut.
Langkah Pemprov Papua itu mendapat dukungan dari Dominggus Rumbrapuk salah seorang warga Biak. Ia menilai penutupan sementara merupakan keputusan tepat.
“Kalau tujuannya renovasi dan pembenahan, saya setuju. Hotel itu memang kalah saing. Kalau sudah bagus, pasti akan banyak tamu yang mau menginap,” kata Rumbrapuk.
Ia berharap, revitalisasi Hotel Mapia menjadi titik balik pengelolaan aset daerah di Papua, bukan sekadar menjaga bangunan lama, tetapi menghidupkannya kembali agar relevan dengan kebutuhan zaman. (*)











Discussion about this post