Jayapura, Jubi – Jurnalis dan penulis asal Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur, Ansel Deri, memberikan kado istimewa kepada Presiden RI ke-7 Joko Widodo atau Jokowi. Kado istimewa yang dimaksud adalah sebuah buku yang ditulis Ansel berjudul “Jokowi”.
“Saya berharap buku ini sudah di tangan Pak Jokowi,” kata Ansel Deri seperti dikutip dari siaran pers kepada Jubi di Jayapura, Papua, Selasa (22/10/2024).
Menurut Ansel Deri, buku yang ditulisnya ini, merupakan bunga rampai opini yang terbit di beberapa media nasional dan lokal. Tema yang diangkat adalah berbagai kebijakan Jokowi selama menjabat presiden Indonesia, 2014–2024.
“Pak Jokowi sejauh amatan sukses membawa kemajuan di berbagai sektor pembangunan. Dua periode memimpin Indonesia banyak prestasi yang beliau torehkan. Sebagian wilayah Indonesia di pelosok yang selama Indonesia merdeka belum ditata, dikebut Jokowi melalui kementerian dan lembaga sehingga semakin nampak kemajuannya,” katanya.
Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga itu mengatakan, Jokowi merupakan presiden yang menyapa langsung masyarakat di pedesaan, dalam berbagai kunjungan resminya. Bila daerah yang dikunjunginya terdapat persoalan, maka Jokowi yang mencari solusi melalui menterinya.
“Lembata, pulau asal saya tak pernah dikunjungi presiden sejak Indonesia merdeka. Jokowi menjadi presiden pertama yang mengunjungi pulau itu tanggal 9 April 2021,” kata wartawan kelahiran kampung Kluang, Desa Belabaja (Boto), Lembata 22 Oktober 1969 itu.
Deri berujar, tahun 1978 Wakil Presiden H. Adam Malik mengunjungi korban bencana Waiteba, Atadei, Lembata. Maka kunjungan Jokowi ke Lembata mengobati rasa rindu warga, khususnya korban erupsi gunung Ile Lewotolok.
Ansel berharap agar kebijakan-kebijakan yang belum diselesaikan Jokowi dapat dilanjutkan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dosen, analis politik, mantan Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita Negara (LKBN) ANTARA 2017-2018, yang kini menjabat Komisaris Telkom Group Boni Hargens, Ph.D, dalam prolognya menulis, meskipun buku berjudul Jokowi (2024) ini sebuah bunga rampai, semangat esensial yang termaktub menguak dinamika kepemimpinan dalam 10 tahun terakhir.
“Saya pernah bilang dulu, di awal pemerintahan Presiden Jokowi tahun 2014, bahwa kemunculan Jokowi adalah kehendak sejarah. Juga merupakan sebuah kebangkitan populisme sebagai a critical turning point, titik balik kritis, yang menggeser bandul sejarah Indonesia yang puluhan tahun dikuasai oleh elitisme yang membuat rakyat teralienasi dari proses politik. Ansel Deri secara implisit, dalam buku ini, memunculkan kembali keyakinan itu,” tulis Boni.
Sepintas, tulis Boni, “Jokowi” menyodorkan beragam tema ulasan yang bukan hanya terkonsentrasi di Jakarta, melainkan juga mengupas dinamika daerah dalam perspektif “developmentalisme Jokowian”.
“Ansel memang tidak menyebut istilah ini, tetapi model pembangunan dari pinggiran adalah khas orientasi leadership Jokowi. Penulis buku ini menyoroti dinamika Papua dan Nusa Tenggara Timur sebagai model bagaimana kepemimpinan Jokowi berdampak sampai ke akar rumput di daerah. Kepemimpinan Jokowi kaya dengan tanggung jawab moral. Ketika ia meletakkan rakyat sebagai pusat dari seluruh gravitasi kekuasaannya, ia telah mewujudkan sebuah tanggung jawab deontologis dalam politik, yaitu suatu kewajiban moral yang mengikat pemimpin dalam peran politik yang tak terpisahkan dari postulat moral. Itulah Jokowi yang saya kenal dan yang dikupas dengan cermat oleh penulis dalam karya ini,” tulis Boni lagi.

Boni memaklumi ketertarikan Ansel Deri dalam isu-isu Papua, sebab, penulis pernah aktif selama lima tahun membantu rekannya, Diaz Gwijangge, anggota DPR RI daerah pemilihan Papua.
“Keterlibatannya dalam Papua Circle Institute, sebuah lembaga riset mini yang fokus dengan sejumlah isu tanah Papua, merupakan alasan lain di balik lahirnya berbagai artikel dalam salah satu bagian ‘Jokowi’ yang juga membahas langkah dan kebijakan Pemerintah Presiden Jokowi memajukan masyarakat dan tanah Papua,” katanya.
Sedangkan pengamat politik lokal Papua dan lulusan Fisipol Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Frans Maniagasi, dalam epilognya menulis, tema sentral buku terbitan Penerbit dan Percetakan Ikan Paus (2024) ini, menginspirasi bahwa penghayatan dan praktik nilai-nilai kebangsaan oleh setiap individu yang bebas, merdeka, dan kreatif, disatukan oleh solidaritas dan soliditas kebangsaan yang sejati, yang oleh Russel disebut konsepsi humanistik.
“Artinya, pencerahan yang memandang bukan sekadar produksi barang dan jasa, tapi bagaimana menghasilkan manusia yang merdeka dan saling bergaul satu sama lain dalam kesetaraan “ tulis Maniagasi.
Maniagasi menyoroti bahwa Bab 2 dan 3 dalam buku tersebut, mesti ada kesetaraan dalam berbagai upaya pembangunan nasional di NTT dan Tanah Papua.
“Kehadiran Presiden Jokowi dan Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo di NTT dan tanah Papua menarik,” tulis Maniagasi.
Kehadiran Presiden Jokowi, tulisnya, mesti dipandang bahwa kepala negara sedang mengajak setiap anak bangsa untuk memalingkan mata dan telinganya melihat ke timur Indonesia–yang kaya akan budaya, suku, dan sumber daya alamnya
Artikel-artikel dalam buku ini, kata Maniagasi, memberikan pemahaman dan wawasan, serta pengetahuan yang menarik mengenai nilai-nilai yang berkembang dalam realitas berbagai komunitas masyarakat di NTT dan Tanah Papua. Yang secara geografis dan fisik berjarak sangat “jauh” dari pusat pengambilan keputusan negara, bahkan secara substantif kebudayaan terkadang tanpa disadari mereka diletakkan pada anak tangga terbawah dalam struktur kebudayaan Indonesia. (*)











Discussion about this post