Jayapura, Jubi – Salah satu politikus di Tanah Papua, Laurenzus Kadepa mengingatkan semua pihak, agar tidak membangun narasi bernuansa kesukuan dalam sengketa tapal batas wilayah antara Kabupaten Mimika dan Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah.
Katanya, semua pihak mesti menghentikan narasi-narasi yang menunjuk suku tertentu dalam kasus sengketa tapal batas antarkabupaten di Kapiraya.
“Kita semua tahu bahwa pelaku itu oknum. Tidak semua suku Kamoro, suku Mee, juga semua suku Kei yang terlibat. Harap semua bijaksana dalam melihat persoalan ini,” kata Kadepa saat menghubungi Jubi melalui panggilan teleponnya, Jumat (5/12/2025).
Kadepa mengatakan, sejak awal ia telah mengingatkan Pemerintah Provinsi atau Pemprov Papua Tengah harus mengambil langkah cepat sebelum ada korban. Namun hingga kini belum juga ada langkah yang diambil Pemprov Papua Tengah.
“Informasinya pemprov sudah membentuk tim penyelesaian tapal batas antarkabupaten. Semoga ini benar dan bijak dalam bekerja,” ujarnya.
Menurutnya, menyikapi situasi masalah tapal batas antarkabupaten ini, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan bersama, yaitu semua aspirasi yang datang dari masyarakat Kamoro maupun Mee di Kapiraya kepada pemerintah melalui lembaga DPR Papua Tengah, Majelis Rakyat Papua Tengah maupun kepada para bupati dan gubernur Papua Tengah harus bijak dibicarakan.
“Menghindari pembelaan karena faktor sesama kultur atau kepentingan apapun. Tidak saling klaim tanah, jika benar-benar mau dibangun, yang dibangun adalah manusianya. Saat ini, masyarakat Suku Mee maupun Kamoro butuh sentuhan pembangunan. Bukan diterlantarkan,” ucapnya.
Selain itu, Kadepa meminta kepada Polda Papua Tengah untuk mengusut oknum pelaku yang menewaskan seorang hamba Tuhan di Kapiraya, Kabupaten Deiyai karena penyelesaian masalah dengan kekerasan tak dibenarkan.
Sebelumnya, salah seorang pendeta Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, Neles Peuki yang melayani jemaat Amin, Mogodagi, Distrik Kapiraya, Kabupaten Deiyai meninggal dunia saat berupaya melerai ketika sekelompok orang menyerang kelompok warga lain, Senin (24/11/2025).
Dalam insiden itu, enam warga juga dilaporkan terluka, rumah-rumah warga dan fasilitas umum milik pemerintah dibakar oleh kelompok penyerang.
Peristiwa itu diduga dipicu masalah tapal batas antara Kabupaten Mimika-Deiyai dan Dogiyai yang hingga kini belum tuntas. (*)











Discussion about this post