Jayapura, Jubi – Terumbu karang di Tuvalu menghadapi tekanan serius, namun masih ada harapan. Seorang ahli ekologi kelautan menyebut, meski banyak karang mati, tanda-tanda kehidupan tetap terlihat di sejumlah laguna.
Ekspedisi gabungan antara National Geographic Pristine Seas (NGPS) dan Pemerintah Tuvalu—yang melibatkan mitra lokal Faulufalega ‘Mena’ Eou dan ilmuwan utama Kat Millage—memulai penelitian sejak Mei 2025. Demikian dilansir Jubi.id dari RNZ Pasifik, Jumat (6/6/2025).
Tahap awal ekspedisi dipimpin oleh Dr. Keiron Fraser yang menyurvei laut dalam dari Nanumea hingga Niulakita menggunakan kapal selam, kamera berumpan, dan analisis DNA lingkungan. Hasilnya mengungkap komunitas ekologi laut dalam yang masih sehat, termasuk penampakan hiu sirip putih samudra yang langka.
Temuan itu akan dibagikan ke kementerian terkait untuk mendukung penyusunan Kebijakan Kelautan Nasional pertama Tuvalu.
Pada fase kedua, Direktur Ekspedisi Ryan Jenkinson memimpin penilaian keanekaragaman hayati terumbu dangkal pertama di Tuvalu. Namun, ia menyebut kondisi terumbu karang “tidak baik”.
“Air laut yang terlalu hangat telah membunuh banyak karang. Struktur fisik terumbu masih ada, tapi karang hidup sangat sedikit. Meski begitu, masih cukup banyak ikan di sekitar terumbu, yang memberi sedikit harapan,” katanya.
Terumbu karang berperan penting dalam melindungi Tuvalu—negara kepulauan dataran rendah—dari erosi akibat gelombang dan badai, sekaligus sebagai habitat bagi ikan dan sumber pangan masyarakat.
“Meski tampak rusak, biomassa ikan—terutama ikan besar—masih tinggi. Itu pertanda bahwa sumber daya laut masih ada, meskipun rapuh dan terancam,” tambah Jenkinson.
Timnya akan melanjutkan ekspedisi ke enam pulau lain di Tuvalu, termasuk Nuku Fatau, Nuku Laelae, dan Vaitupu. Di sana mereka akan mengadakan sesi sains untuk anak-anak sekolah dasar.
Jenkinson memuji keramahan penduduk Tuvalu dan menyebut mereka sebagai komunitas yang berada di garis depan perubahan iklim global.
“Ini bukan kesalahan mereka, tapi mereka yang paling terdampak. Kami berharap bisa menemukan kantong-kantong karang hidup yang menunjukkan potensi pemulihan,” katanya. “Selama struktur terumbu masih ada, kami percaya karang bisa pulih. Harapan itu tetap ada,” kata Jenkinson. (*)











Discussion about this post