Jayapura, Jubi — Para migran iklim dari Tuvalu mulai tiba di Australia setelah kenaikan permukaan air laut terus mengancam kehidupan mereka. Tak heran jika Perdana Menteri Tuvalu mendesak warga yang akan meninggalkan negara tersebut untuk tetap menjaga ikatan budaya.
“Gereja telah mengirim pendeta untuk mendukung para pengungsi iklim,” demikian dikutip Jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Senin (15/12/2025).
Lebih lanjut dilaporkan, migran iklim pertama dari Tuvalu telah tiba di Australia, menandai awal relokasi bersejarah seiring naiknya permukaan laut yang mengancam menelan rumah-rumah di pulau asal mereka.
Disebutkan bahwa sekitar sepertiga dari 11.000 warga Tuvalu telah mengajukan permohonan visa iklim baru. Kebijakan ini merupakan bagian dari kesepakatan bilateral antara kedua negara untuk melestarikan budaya Tuvalu seiring dengan tenggelamnya atol-atol tersebut.
Jumlah visa dibatasi hingga 280 per tahun untuk mencegah terjadinya eksodus tenaga terampil dari negara kepulauan kecil itu.
Di antara warga Pasifik yang terpilih dalam gelombang pertama migran iklim terdapat pengemudi forklift perempuan pertama di Tuvalu, seorang dokter gigi, serta seorang pendeta yang berfokus pada pelestarian kehidupan spiritual masyarakat Tuvalu ribuan kilometer dari tanah asal, kata para pejabat Pemerintah Australia.
Manipua Puafolau, warga Pulau Funafuti—pulau utama Tuvalu—tiba di Australia dua pekan lalu. Sebagai calon pendeta di salah satu gereja paling berpengaruh di Tuvalu, ia berencana menetap di kota kecil Naracoorte, Australia Selatan, tempat ratusan penduduk Kepulauan Pasifik bekerja di sektor pertanian musiman dan pengolahan daging.
“Bagi orang-orang yang pindah ke Australia, ini bukan hanya soal kesejahteraan fisik dan ekonomi, tetapi juga tentang pencarian bimbingan spiritual,” ujarnya dalam sebuah video yang dirilis Departemen Luar Negeri Australia.
Perdana Menteri Tuvalu, Feleti Teo, bulan lalu mengunjungi komunitas Tuvalu di Melton, Melbourne, untuk menekankan pentingnya menjaga hubungan yang kuat dan ikatan budaya lintas batas seiring meningkatnya migrasi warga negara, demikian disampaikan para pejabat Tuvalu.
Tuvalu merupakan salah satu negara yang paling berisiko terdampak perubahan iklim akibat kenaikan permukaan laut. Negara ini terdiri atas gugusan atol dataran rendah yang tersebar di Samudra Pasifik, di antara Australia dan Hawaii.
Di atol utama Tuvalu, Funafuti, daratannya di banyak bagian nyaris tidak lebih lebar dari sebuah jalan. Anak-anak bahkan bermain sepak bola di landasan pacu bandara karena keterbatasan ruang.
Para ilmuwan NASA memperkirakan bahwa pada 2050, pasang surut harian akan menenggelamkan separuh atol Funafuti, yang menjadi rumah bagi sekitar 60 persen penduduk Tuvalu. Saat ini, penduduk bertahan di sebidang daratan yang lebarnya hanya sekitar 20 meter.
Prakiraan tersebut didasarkan pada asumsi kenaikan permukaan laut setinggi satu meter. Dalam skenario terburuk—dua kali lipat dari angka tersebut—sekitar 90 persen atol utama negara itu diperkirakan akan terendam.
Warga Tuvalu membawa keterampilan dan harapan ke Australia.
Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, mengatakan para migran iklim akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Australia.
Visa tersebut menawarkan “mobilitas yang bermartabat dengan memberikan kesempatan kepada warga Tuvalu untuk tinggal, belajar, dan bekerja di Australia seiring memburuknya dampak perubahan iklim,” kata Wong dalam pernyataannya kepada Reuters.
Australia tengah membangun layanan dukungan untuk membantu keluarga Tuvalu menetap di Melbourne, Adelaide di Australia Selatan, serta di negara bagian Queensland, Australia utara.
Kitai Haulapi, pengemudi forklift perempuan pertama di Tuvalu, yang baru menikah, akan pindah ke Melbourne—kota berpenduduk sekitar lima juta jiwa. Ia berharap dapat memperoleh pekerjaan di Australia dan terus berkontribusi bagi Tuvalu dengan mengirimkan uang kepada keluarganya di kampung halaman.
Sementara itu, dokter gigi Masina Matolu, yang memiliki tiga anak usia sekolah dan seorang suami berprofesi sebagai pelaut, akan pindah bersama keluarganya ke Darwin, Australia utara. Ia berencana bekerja dengan komunitas masyarakat adat.
“Saya selalu bisa membawa kembali apa pun yang baru saya pelajari di Australia ke budaya asal saya, semata-mata untuk membantu,” katanya dalam pernyataan video, sebagaimana dikutip Reuters. (*)











Discussion about this post