Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Pasifik

Migran Iklim Pertama dari Tuvalu Tiba di Australia

December 15, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Dominggus A. Mampioper - Editor: Alberth Yomo
Iklim

Para migran iklim pertama dari Tuvalu tiba di Australia, membawa keterampilan, harapan, dan misi untuk melestarikan tanah air mereka yang kian tenggelam — Jubi/RNZ Pasifik

Jayapura, Jubi — Para migran iklim dari Tuvalu mulai tiba di Australia setelah kenaikan permukaan air laut terus mengancam kehidupan mereka. Tak heran jika Perdana Menteri Tuvalu mendesak warga yang akan meninggalkan negara tersebut untuk tetap menjaga ikatan budaya.

“Gereja telah mengirim pendeta untuk mendukung para pengungsi iklim,” demikian dikutip Jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Senin (15/12/2025).

RELATED POSTS

Jurnalis Solomon Islands kunjungi Australia

Bayi Kembar Siam Langka dari PNG Sedang dalam Perjalanan ke Australia karena Kasusnya Mencapai Titik ‘Kritis’

Kemenpar promosikan Raja Ampat sebagai destinasi selam ke Australia

Lebih lanjut dilaporkan, migran iklim pertama dari Tuvalu telah tiba di Australia, menandai awal relokasi bersejarah seiring naiknya permukaan laut yang mengancam menelan rumah-rumah di pulau asal mereka.

Disebutkan bahwa sekitar sepertiga dari 11.000 warga Tuvalu telah mengajukan permohonan visa iklim baru. Kebijakan ini merupakan bagian dari kesepakatan bilateral antara kedua negara untuk melestarikan budaya Tuvalu seiring dengan tenggelamnya atol-atol tersebut.

Jumlah visa dibatasi hingga 280 per tahun untuk mencegah terjadinya eksodus tenaga terampil dari negara kepulauan kecil itu.

Di antara warga Pasifik yang terpilih dalam gelombang pertama migran iklim terdapat pengemudi forklift perempuan pertama di Tuvalu, seorang dokter gigi, serta seorang pendeta yang berfokus pada pelestarian kehidupan spiritual masyarakat Tuvalu ribuan kilometer dari tanah asal, kata para pejabat Pemerintah Australia.

Manipua Puafolau, warga Pulau Funafuti—pulau utama Tuvalu—tiba di Australia dua pekan lalu. Sebagai calon pendeta di salah satu gereja paling berpengaruh di Tuvalu, ia berencana menetap di kota kecil Naracoorte, Australia Selatan, tempat ratusan penduduk Kepulauan Pasifik bekerja di sektor pertanian musiman dan pengolahan daging.

“Bagi orang-orang yang pindah ke Australia, ini bukan hanya soal kesejahteraan fisik dan ekonomi, tetapi juga tentang pencarian bimbingan spiritual,” ujarnya dalam sebuah video yang dirilis Departemen Luar Negeri Australia.

Perdana Menteri Tuvalu, Feleti Teo, bulan lalu mengunjungi komunitas Tuvalu di Melton, Melbourne, untuk menekankan pentingnya menjaga hubungan yang kuat dan ikatan budaya lintas batas seiring meningkatnya migrasi warga negara, demikian disampaikan para pejabat Tuvalu.

Tuvalu merupakan salah satu negara yang paling berisiko terdampak perubahan iklim akibat kenaikan permukaan laut. Negara ini terdiri atas gugusan atol dataran rendah yang tersebar di Samudra Pasifik, di antara Australia dan Hawaii.

Di atol utama Tuvalu, Funafuti, daratannya di banyak bagian nyaris tidak lebih lebar dari sebuah jalan. Anak-anak bahkan bermain sepak bola di landasan pacu bandara karena keterbatasan ruang.

Para ilmuwan NASA memperkirakan bahwa pada 2050, pasang surut harian akan menenggelamkan separuh atol Funafuti, yang menjadi rumah bagi sekitar 60 persen penduduk Tuvalu. Saat ini, penduduk bertahan di sebidang daratan yang lebarnya hanya sekitar 20 meter.

Prakiraan tersebut didasarkan pada asumsi kenaikan permukaan laut setinggi satu meter. Dalam skenario terburuk—dua kali lipat dari angka tersebut—sekitar 90 persen atol utama negara itu diperkirakan akan terendam.

Warga Tuvalu membawa keterampilan dan harapan ke Australia.

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, mengatakan para migran iklim akan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat Australia.

Visa tersebut menawarkan “mobilitas yang bermartabat dengan memberikan kesempatan kepada warga Tuvalu untuk tinggal, belajar, dan bekerja di Australia seiring memburuknya dampak perubahan iklim,” kata Wong dalam pernyataannya kepada Reuters.

Australia tengah membangun layanan dukungan untuk membantu keluarga Tuvalu menetap di Melbourne, Adelaide di Australia Selatan, serta di negara bagian Queensland, Australia utara.

Kitai Haulapi, pengemudi forklift perempuan pertama di Tuvalu, yang baru menikah, akan pindah ke Melbourne—kota berpenduduk sekitar lima juta jiwa. Ia berharap dapat memperoleh pekerjaan di Australia dan terus berkontribusi bagi Tuvalu dengan mengirimkan uang kepada keluarganya di kampung halaman.

Sementara itu, dokter gigi Masina Matolu, yang memiliki tiga anak usia sekolah dan seorang suami berprofesi sebagai pelaut, akan pindah bersama keluarganya ke Darwin, Australia utara. Ia berencana bekerja dengan komunitas masyarakat adat.

“Saya selalu bisa membawa kembali apa pun yang baru saya pelajari di Australia ke budaya asal saya, semata-mata untuk membantu,” katanya dalam pernyataan video, sebagaimana dikutip Reuters. (*)

Tags: AustraliaMigran IklimTuvalu
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

UPNG
Pasifik

Mahasiswa kedokteran UPNG gelar pameran karier

April 25, 2026
menganyam
Pasifik

Menganyam untuk hidup

April 25, 2026
BBM
Pasifik

Menkeu Kepulauan Marshall memperingatkan tentang stok pasokan BBM

April 25, 2026
Kanaky
Pasifik

Perjalanan berkelanjutan Kaledonia Baru menuju penentuan nasib sendiri

April 25, 2026
Manele
Pasifik

1 Mei jadi penentu nasib PM Manele dan batas kekuasaan pemerintah

April 24, 2026
MoU
Pasifik

Papua Nugini dan AS tandatangani MoU kesehatan

April 24, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara