Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Pasifik

Bougainville Merdeka 2027 dan Mengapa PNG Sulit Melepaskan Wilayah Otonomi Ini?

December 16, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Dominggus A. Mampioper - Editor: Alberth Yomo
Bendera Papua Nugini dan Bendera Bougainville.

Bendera Papua Nugini dan Bendera Bougainville.

Jayapura, Jubi — Keraguan Papua Nugini terhadap Bougainville bukan sekadar penundaan politik atau kehati-hatian birokrasi. Keraguan itu berakar pada sesuatu yang lebih dalam: kecemasan tentang identitas, kohesi, dan kelangsungan hidup sebuah negara pascakolonial yang sejak awal tidak pernah seragam secara budaya.

Papua Nugini (PNG) dibentuk saat kemerdekaannya pada 16 September 1975 dari ratusan kelompok linguistik dan budaya yang berbeda. Persatuan negara ini sejak awal merupakan hasil negosiasi, bukan sesuatu yang terbentuk secara alami. Bahkan setelah hampir 50 tahun merdeka, Bougainville tetap menuntut kemerdekaannya sendiri. Demikian dikutip Jubi dari RNZ Pasifik, Selasa (16/12/2025).

RELATED POSTS

ABG bekonsultasi dengan masyarakat adat Panguna

Theonila Roka Matbob, perempuan Bougainville pemenang Goldman Environmental Prize 2026

Parlemen Papua Nugini dinilai “tak imbang” soal kemerdekaan Bougainville

Perjuangan Bougainville diawali dengan pemberontakan bersenjata setelah Francis Ona dan rekan-rekannya menutup tambang emas Panguna, bersama Tentara Revolusioner Bougainville (Bougainville Revolutionary Army/BRA).

Referendum Bougainville bukanlah tindakan pemberontakan, melainkan ekspresi kematangan politik. — Jubi/RNZ Pasifik/Foto: Jeremy Miller/Komisi Referendum Bougainville

Bougainville, dengan sejarah, geografi, dan kesadaran politiknya yang khas, secara konsisten menguji kesepakatan nasional yang rapuh tersebut. Ketika PNG semakin mendekati keputusan tentang masa depan Bougainville, pertanyaan yang dihadapi Port Moresby bukan lagi bersifat teoretis, melainkan tentang konsekuensi nyata—dan apakah negara itu mampu bertahan dari pilihan yang selama ini terus ditundanya.

Negara yang Dibangun atas Kompromi, Bukan Persetujuan

Hubungan Bougainville dengan Papua Nugini telah tegang sejak awal. Rakyat Bougainville memiliki ikatan budaya dan geografis yang lebih kuat dengan Kepulauan Solomon dibandingkan dengan sebagian besar daratan PNG—sebuah kenyataan yang diabaikan oleh administrator kolonial dan kemudian diwarisi oleh negara baru yang lebih mengutamakan kelangsungan hidup daripada persetujuan politik.

Bougainville bahkan pernah mencoba memisahkan diri sebelum PNG merdeka. Deklarasi awal itu ditolak, namun pesannya jelas: persatuan tidak diterima secara universal. Perang saudara yang terjadi kemudian—dipicu oleh konflik tanah, eksploitasi sumber daya, dan marginalisasi politik—menegaskan bahwa proyek nasional PNG belum pernah benar-benar selesai.

Perjanjian Perdamaian Bougainville tahun 2001 mengakhiri konflik bersenjata dan menjanjikan jalur politik melalui otonomi, rekonsiliasi, serta referendum di masa depan. Janji tersebut terealisasi pada 2019 ketika 97,7 persen pemilih Bougainville menyatakan dukungan bagi kemerdekaan. Namun, hasil referendum itu tidak mengikat secara hukum dan masih menunggu ratifikasi Parlemen PNG—sebuah syarat yang kini menjadi pusat kebuntuan nasional.

Mengapa Port Moresby Sulit Melepaskan Bougainville?

Bagi pemerintah nasional, Bougainville bukan sekadar wilayah administratif. Pulau ini merupakan cermin dari kontradiksi terdalam Papua Nugini.

Secara ekonomi, Bougainville pernah menjadi penopang utama anggaran negara melalui tambang Panguna. Pada puncaknya, tambang tersebut menyumbang hampir setengah dari total pendapatan ekspor PNG dan sekitar 17 persen pendapatan nasional. Kekayaan yang diekstraksi dari pulau itu membantu menstabilkan negara baru, sementara Bougainville sendiri menanggung kerusakan lingkungan dan dislokasi sosial.

Melepaskan Bougainville berarti memaksa PNG menghadapi kenyataan pahit bahwa stabilitas awal negara dibangun di atas eksploitasi skala besar tanpa persetujuan—dan tanpa manfaat jangka panjang—bagi masyarakat lokal.

Secara politis, kekhawatiran Port Moresby bahkan lebih dalam. Sebagai salah satu negara paling beragam di dunia, para pemimpin PNG takut kemerdekaan Bougainville akan menjadi preseden, mendorong wilayah lain yang kaya sumber daya atau tidak puas secara politik untuk menuntut hal serupa. Dalam logika ini, Bougainville dipandang bukan sebagai pengecualian, melainkan domino pertama.

Krisis Sandline dan Ketakutan akan Disintegrasi

Papua Nugini telah merasakan sendiri rapuhnya kohesi politik nasional. Pada 1997, Panglima Angkatan Pertahanan PNG, Jerry Singirok, melancarkan Operasi Rausim Kwik untuk mencegah keterlibatan tentara bayaran asing dalam konflik Bougainville. Ia secara terbuka menyerukan pengunduran diri Perdana Menteri saat itu, tetapi dengan tegas menolak gagasan kudeta.

Singirok memahami bahwa kudeta ala Fiji tidak akan menyatukan PNG. Negara ini terlalu terfragmentasi secara politik, regional, dan kelembagaan. Upaya pengambilalihan kekuasaan secara terpusat justru akan memecah belah negara dari dalam.

Krisis Sandline tidak mengungkap kelemahan Bougainville, melainkan mengekspos keterbatasan negara itu sendiri. Pelajaran tersebut masih membentuk kebijakan hingga hari ini.

Persatuan sebagai Proses, Bukan Pemaksaan

Dalam pertemuan Badan Pengawasan Bersama (Joint Supervisory Body/JSB) di Port Moresby pada 3 Desember, Perdana Menteri James Marape mengakui keniscayaan sekaligus sensitivitas proses yang sedang berjalan.

Perdana Menteri PNG James Marape dan Presiden Bougainville Ishmael Toroama dalam pertemuan Badan Pengawasan Bersama di Port Moresby. — Jubi/RNZ Pasifik/Foto: Pemerintah Otonom Bougainville

“Kita berada di tahap akhir di mana hasil referendum akan disampaikan ke Parlemen. Kepada warga Bougainville, jangan takut. Kepada seluruh negeri, mari kita rangkul proses ini—ini tidak dapat dihindari,” kata Marape.

Sementara itu, Presiden Bougainville Ishmael Toroama memperingatkan bahwa penundaan berkepanjangan dapat merusak fondasi perdamaian.

“JSB adalah forum bagi kedua pihak untuk terus berdialog secara damai mengenai kemerdekaan Bougainville. Setiap upaya untuk melemahkan atau mengurangi peran konstitusional JSB akan berakibat fatal di banyak bidang,” ujarnya.

Francis Ona dan Akar Perjuangan Bougainville

Tokoh pejuang kemerdekaan Bougainville, Francis Ona, dari karyawan tambang hingga pemimpin perlawanan bersenjata. — Jubi/Facebook

Francis Ona adalah pendiri dan Panglima Tertinggi Tentara Revolusioner Bougainville (BRA). Ia lahir pada 15 Februari 1953 dan meninggal dunia pada 24 Juli 2005. Sebagai mantan pekerja tambang dan pemilik tanah adat, Ona memimpin perlawanan bersenjata terhadap operasi tambang tembaga Panguna, yang dituding merusak lingkungan dan memberikan keuntungan tidak adil bagi masyarakat lokal.

Pada 1990, Ona mendeklarasikan Bougainville sebagai negara merdeka dengan nama Me’ekamui. Ia menolak melucuti senjata maupun menandatangani perjanjian damai hingga akhir hayatnya. Meski kontroversial, perjuangan Ona dan BRA meletakkan dasar bagi Pemerintahan Otonom Bougainville dan referendum kemerdekaan 2019.

Ujian Terakhir bagi Papua Nugini

Masalah Bougainville kini bukan lagi sekadar soal satu pulau. Ini adalah ujian apakah Papua Nugini mampu mendamaikan kompromi pendiriannya dengan nilai-nilai demokrasi yang diklaimnya. Persatuan yang dipertahankan melalui penundaan dan ambiguitas hukum bersifat rapuh.

Referendum Bougainville bukanlah tindakan pemberontakan, melainkan ekspresi kematangan politik yang lahir dari konflik dan rekonsiliasi panjang. Masa depan PNG—dan Bougainville—akan ditentukan oleh apakah proses ini diselesaikan melalui dialog dan penghormatan, atau kembali terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. (*)

Tags: BougainvillePNGWilayah Otonomi
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

UPNG
Pasifik

Mahasiswa kedokteran UPNG gelar pameran karier

April 25, 2026
menganyam
Pasifik

Menganyam untuk hidup

April 25, 2026
BBM
Pasifik

Menkeu Kepulauan Marshall memperingatkan tentang stok pasokan BBM

April 25, 2026
Kanaky
Pasifik

Perjalanan berkelanjutan Kaledonia Baru menuju penentuan nasib sendiri

April 25, 2026
Manele
Pasifik

1 Mei jadi penentu nasib PM Manele dan batas kekuasaan pemerintah

April 24, 2026
MoU
Pasifik

Papua Nugini dan AS tandatangani MoU kesehatan

April 24, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Persipura

Liga 2 sudah dekat, Manajemen Persipura fokus pagari pemain

June 8, 2022
KPUD Merauke

KPUD Merauke bakal laksanakan Kirab Pemilu pada 1 Maret

February 25, 2023
Politik

Isu politik dan olahraga, pemikat paling dinanti para pembaca Papua

April 30, 2024

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara