Jayapura, Jubi – Theonila Roka Matbob perempuan Papua Nugini asal Bougainville Autonomy Government (ABG) merupakan perempuan Melanesia kedua pemenang Goldman Environmental Prize 2026. Perempuan Melanesia pertama adalah Mama Yosepha Alomang, memperoleh Goldman Enviromental Prize 2001.
Kedua perempuan ini punya perjuangan yang sama melawan perusahaan tambang, Mama Yosepha Alomang di Freeport Indonesia, sedangkan Matbob melawan Rio Tinto di tambang Pangguna Bougainville, Papua Nugini.
Theonila Roka Matbob, perempuan adat Nasioi dari Bougainville, berhasil menekan perusahaan tambang Rio Tinto untuk mengakui tanggung jawab atas kerusakan lingkungan puluhan tahun di Papua Nugini. Kepemimpinannya menandai terobosan bagi komunitas yang terdampak tambang, membawa harapan pemulihan bagi sungai, lahan, dan kesehatan warga.
Tak sendiri, bersama lima perempuan lainnya, Iroro Tanshi (Nigeria), Borim Kim (Korea Selatan), Sarah Finch (Inggris Raya), Theonila Roka Matbob (Papua Nugini), Alannah Acaq Hurley (Amerika Serikat), dan Yuvelis Morales Blanco (Kolombia),” mereka meneriman Penghargaan Lingkungan Goldman 2026, sebagaimana dilansir test.jubi.id dari laman www.goldmanprize.org, Selasa (21/4/2026)
Sejarah Pahit
Bougainville adalah pulau terbesar di Wilayah Otonomi Bougainville (ARB), Papua Nugini, seluas sekitar 9.300 km² dengan populasi sekitar 350.000 jiwa. Pulau ini kaya akan cadangan tembaga dan emas, tanah subur untuk produksi kakao dan kelapa, serta sumber daya laut yang melimpah.
Tambang tembaga dan emas Panguna terletak di kawasan pegunungan di pusat pulau—dikelola oleh Rio Tinto melalui anak perusahaannya, Bougainville Copper Ltd, dari 1972 hingga 1989. Tambang ini menghasilkan sekitar 3 juta ton tembaga, 306 ton emas, dan 784 ton perak, menjadi salah satu tambang terbuka terbesar di dunia dan menyumbang 44% pendapatan ekspor PNG.
Pada 1988, dampak tambang terhadap wilayah tersebut sangat nyata. Kerusakan lingkungan yang terus-menerus, arus tenaga kerja migran yang tinggi, dan manfaat ekonomi yang timpang—komunitas lokal hanya menerima 1,4% dari pendapatan—memicu pemberontakan lokal yang kemudian berujung pada perang sipil brutal selama satu dekade. Tidak mampu melanjutkan operasi, Rio Tinto menutup tambang pada 1989.
Perjanjian Damai Lincoln 1998 mengakhiri konflik berdarah yang menewaskan 15.000–20.000 penduduk Bougainville. Perjanjian ini menetapkan gencatan senjata permanen, menarik mundur pasukan militer PNG, dan membentuk kelompok pemantau damai. Pada 2001, perjanjian kedua memberi Bougainville status otonomi penuh, termasuk konstitusi, parlemen, dan presiden sendiri, membuka jalan menuju kemerdekaan penuh yang didukung mayoritas warga.
53 Tahun Kontaminasi
Selama 17 tahun operasi, tambang Panguna membuang sekitar 150.000 ton limbah setiap hari ke sungai sekitar—lebih dari 1 miliar ton sepanjang masa tambang—merusak sistem sungai Jaba dan Kawerong, serta memengaruhi ribuan orang di hilir. Generasi warga melaporkan masalah kesehatan serius, termasuk penyakit kulit, infeksi saluran cerna dan pernapasan, serta komplikasi kehamilan.
Hingga kini, belum ada pemulihan lokasi tambang maupun tanggapan resmi terkait dampak sosial dan kesehatan. Warga kini melihat lanskap hijau berubah menjadi padang tandus limbah tambang, sungai tercemar asam dan logam berat.
Rio Tinto, berkantor pusat di Australia dan Inggris, adalah pemilik mayoritas tambang sepanjang konstruksi dan operasi. Saat dikembangkan pada 1960-an, penilaian dampak lingkungan tidak diwajibkan secara hukum dan tidak dilakukan, serta tidak ada konsultasi bermakna dengan komunitas yang menolak keras pembangunan tambang. Pada 2016, Rio Tinto melepas sahamnya ke pemerintah PNG dan ARB, menolak tanggung jawab untuk pemulihan lingkungan.
Kemunculan Pemimpin
Theonila Roka Matbob, 35, perempuan adat Nasioi dari klan Basikang, tumbuh dekat tambang Panguna. Masa kecilnya diliputi dampak tambang dan perang sipil; ayahnya dibunuh pemberontak dan ia menghabiskan enam tahun di kamp pengungsi yang dikontrol militer PNG. Peristiwa ini membentuk komitmen seumur hidupnya untuk menangani dampak sosial dan lingkungan tambang. Pada 2013, ia mendirikan John Roka Counselling & Learning Centre, NGO untuk pendidikan dan konseling trauma bagi komunitas terdampak.
Pada 2014, Theonila ingin melakukan lebih banyak. Ia berpartisipasi dalam Proyek Panguna Listening oleh Keuskupan Katolik (2018) dan bekerja dengan Human Rights Law Centre (HRLC) pada 2019 mendokumentasikan dampak lingkungan dari limbah tambang yang masih dirasakan puluhan tahun kemudian. Laporan HRLC 2020, “After the Mine: Living with Rio Tinto’s Deadly Legacy”, menjadi dasar upaya pertanggungjawaban lebih luas.
Pada September 2020, Theonila menjadi penggugat utama dalam pengaduan hak asasi manusia terhadap Rio Tinto melalui Australia’s National Contact Point, bersama 155 anggota komunitas Bougainville lainnya. Pengaduan menuntut pengakuan tanggung jawab, pendanaan penilaian dampak independen, dana remediasi jangka panjang, dan partisipasi dalam proses rekonsiliasi sesuai adat Bougainville, menggunakan standar internasional hak asasi manusia dan lingkungan.
Theonila juga terpilih sebagai anggota parlemen Bougainville pada 2020, memperluas jangkauan koalisinya.
Terobosan bagi Komunitas
Pada November 2024, setelah advokasi berkelanjutan yang dipimpin Theonila, Rio Tinto menandatangani nota kesepahaman dengan BCL dan pemerintah otonom Bougainville untuk menangani temuan penilaian dampak dan membangun kerangka remediasi. Perusahaan mengakui dampak serius tambang, menerima hasil penilaian, dan berkomitmen bekerja sama untuk pemulihan adil bagi komunitas terdampak.
Proses ini menetapkan preseden baru bagi komunitas terdampak tambang, terutama di kawasan Pasifik. Saat ini, bersama Theonila dan HRLC, Rio Tinto mulai menangani risiko paling mendesak: meningkatkan akses air bersih, memperbaiki infrastruktur berbahaya, mengatasi ancaman bahan kimia, dan memasang sistem peringatan dini untuk bahaya geoteknik.
Meskipun masih banyak yang harus dilakukan, dedikasi dan kepemimpinan Theonila memberi harapan nyata bagi pemulihan lingkungan, sosial, dan kesehatan di Bougainville. (*)











Discussion about this post