Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Opini

IPM Sarmi mandek dan logika pembangunan yang terbalik

April 11, 2026
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Admin - Editor: News Desk
Sarmi

kantor Bupati Sarmi - jubi/Bappeda Sarmi

Oleh: Arius Adeputra Sabarofek

RELATED POSTS

Antusias warga tujuan Sarmi sangat tinggi ikut mudik gratis Nataru

Gubernur Fakhiri canangkan penanaman perdana padi 640 hektare di Sarmi

70 unit rumah, gereja, dan fasilitas publik rusak akibat gempa di Kabupaten Sarmi

Jayapura, Jubi – Selama tiga tahun terakhir, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Sarmi, Papua hanya bergerak sekitar 0,8 persen. Di atas kertas, angka ini tetap dapat dibaca sebagai kemajuan. Namun jika ditarik ke realitas lapangan, capaian tersebut justru menandakan sesuatu yang lebih serius: pembangunan yang berjalan tanpa lompatan berarti. Dalam pembahasan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2025, pertanyaan yang diajukan oleh anggota DPRK, Onesias Filep Tiris, seharusnya menjadi titik awal evaluasi yang jujur: distrik mana yang sebenarnya tertinggal?

Pertanyaan ini penting, karena rata-rata sering kali menipu. Dalam konteks daerah seperti Sarmi, angka agregat IPM berpotensi menyembunyikan ketimpangan yang nyata-sebagian wilayah mungkin mengalami kemajuan, sementara wilayah lain tetap tertinggal tanpa perubahan berarti. Di sinilah persoalan mulai terlihat. Ketika laporan pembangunan tidak mampu menunjukkan peta ketimpangan secara spesifik, maka ia kehilangan fungsi utamanya sebagai alat evaluasi. Pembangunan akhirnya hanya diukur dari angka, bukan dari perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Pihak Dinas Pendidikan menjelaskan bahwa indikator IPM merupakan hasil pengolahan Badan Pusat Statistik yang bersumber dari data nasional, termasuk Dapodik. Penjelasan ini benar secara metodologis. Namun, kebenaran teknis tidak serta-merta menjawab persoalan substantif. Masalahnya bukan pada bagaimana angka dihitung, melainkan pada mengapa angka tersebut tidak mencerminkan realitas di lapangan. Di sejumlah wilayah pedalaman seperti Denander dan Wamariri, keterbatasan guru dan fasilitas pendidikan masih menjadi persoalan yang berulang. Bahkan untuk jenjang pendidikan menengah, akses masih belum merata. Dalam kondisi seperti ini, sulit mengharapkan peningkatan rata-rata lama sekolah-yang merupakan komponen utama dalam IPM. Namun, di titik ini muncul persoalan yang lebih mendasar: logika kebijakan yang terbalik.

Pemerintah daerah menyatakan bahwa pembangunan sekolah menengah atas belum dapat dilakukan karena jumlah siswa belum memenuhi indikator yang ditetapkan. Secara administratif, argumen ini dapat dipahami. Tetapi secara substansi pembangunan, logika ini justru bermasalah. Tanpa sekolah, tidak akan ada siswa. Tanpa siswa, sekolah tidak akan dibangun. Sebuah lingkaran kebijakan yang pada akhirnya mempertahankan kondisi keterbatasan itu sendiri. Persoalan lain muncul dalam implementasi program. Target pengadaan perlengkapan belajar yang tidak terealisasi sepenuhnya dijawab dengan pernyataan normatif-

“sebagian sudah tersalur” tanpa disertai rincian yang dapat diverifikasi. Dalam praktik tata kelola yang sehat, jawaban seperti ini tidak cukup. Ia tidak memberikan kepastian, apalagi akuntabilitas. Hal yang sama terlihat pada distribusi tenaga pengajar. Ketika fakta di lapangan menunjukkan adanya sekolah di wilayah pedalaman yang kekurangan guru, absennya jawaban yang jelas dari pihak dinas justru memperkuat dugaan bahwa persoalan ini belum tertangani secara serius. Jika persoalan dasar seperti guru dan akses pendidikan belum teratasi, maka peningkatan IPM hanya akan berjalan lambat-bahkan stagnan. Di tengah situasi tersebut, pemerintah daerah juga merencanakan pembentukan puluhan koperasi di tingkat kampung. Secara konsep, langkah ini terlihat progresif. Namun tanpa kesiapan sumber daya manusia, program besar semacam ini berisiko tidak berjalan efektif. Pendekatan yang terlalu ambisius, tanpa fondasi yang kuat, justru berpotensi menghasilkan kegagalan yang berulang.

Dari seluruh dinamika ini, terlihat satu pola yang konsisten: ketidaksinkronan antara data, perencanaan, dan realitas lapangan. Pemerintah mampu menjelaskan angka, tetapi belum sepenuhnya mampu menjelaskan kondisi. Padahal, pembangunan yang baik tidak dimulai dari apa yang mudah diukur, melainkan dari apa yang paling mendesak untuk diselesaikan.

Stagnasi IPM di Kabupaten Sarmi pada akhirnya bukan sekadar persoalan statistik. Ia adalah refleksi dari cara berpikir dalam merancang kebijakan. Ketika kebijakan lebih patuh pada prosedur daripada kebutuhan nyata masyarakat, maka pembangunan tidak benar-benar bergerak-ia hanya tampak bergerak di dalam laporan. Sarmi tidak kekurangan program. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk membaca realitas secara jujur, hingga ke tingkat kampung, dan menyusun kebijakan yang benar-benar menjawabnya. Tanpa itu, angka IPM akan terus naik-perlahan, tapi tanpa makna yang signifikan. (*)

*) Arius Adeputra Sabarofek, penulis muda dari Sarmi, Papua.

Tags: IPM PendidikanKabupaten Sarmi
ShareTweetSendShareShare
Angela Flassy

Angela Flassy

Related Posts

dana abadi
Opini

Membangun dana abadi Papua untuk beasiswa dengan skema pembiayaan dipercepat

April 8, 2026
Dana
Opini

Triliunan Hilang, Masa Depan Terabaikan: Kisah Dana Abadi Papua yang Tak Pernah Ada

March 25, 2026
Leluhur
Opini

Ketika Leluhur Mengajari Kita Cara Merawat Bumi

March 11, 2026
freeport Papua
Opini

Dana Abadi Papua: Mengubah kekayaan alam menjadi warisan abadi bagi generasi mendatang

March 11, 2026
Damai
Opini

Sebelum Mendamaikan Dunia, Siapa Juru Damai bagi Papua?

March 10, 2026
MBG
Opini

Masyarakat menolak MBG juga merupakan HAM

February 27, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Gempa

Gempa guncang Kabupaten Bandung

September 18, 2024
Gerai

Ichiban Sushi dan Ta Wan buka gerai baru di Jayapura

November 19, 2024
Papua

Pemprov luncurkan kartu mudik gratis sebagai hadiah Natal bagi warga Papua

December 8, 2025

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara