Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Mamta

Dugaan penganiayaan terhadap siswa SMAN Buper dilaporkan ke Polda Papua

November 7, 2025
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: Hans Makabori - Editor: Arjuna Pademme
penganiayaan

Surat Tanda Penerimaan Laporan dari Polda Papua. -Dok. Jubi

Jayapura, Jubi – Kasus dugaan penganiayaan terhadap Anton Oechere, siswa kelas 10 SMA Negeri atau SMAN 3 Buper, Kota Jayapura, Papua dilaporkan ke Kepolisian Daerah atau Polda Papua oleh orangtua korban pada 17 Oktober 2025.

Polisi menerima laporan itu dengan surat tanda penerimaan laporan Nomor STTLP/B/17/X/2025/SPKT/POLDA PAPUA.

RELATED POSTS

Polda Papua didesak proses hukum terduga pelaku penembak warga Tolikara

Rilis akhir tahun: Polda Papua sampaikan evaluasi keamanan dan penegakan hukum

Polda Papua perkuat pengamanan jelang Nataru

Sarah Kaigere, orangtua Anton Oechere mengatakan, kasus yang dialami anaknya itu terjadi pada 18 Agustus 2025. Anton Oechere diduga dianiaya oleh lima orang kakak kelasnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan atau THT, gendang telinga korban pecah dan keadaannya sedang infeksi, sehingga membutuhkan pengobatan intens.

Menurut Kaigere, peristiwa dugaan penganiayaan terhadap anaknya itu baru diketahuinya setelah dua bulan, pascakejadian.

Kata Kaigere, dalam pelaporannya, tiga guru SMA N-3 Buper Kota Jayapura ditetapkan sebagai saksi karena dinilai mengetahui peristiwa tersebut, tetapi terkesan melakukan pembiaran.

Katanya, putranya tidak pernah mengadukan atau menceritakan peristiwa itu kepada siapapun, baik guru maupun orang tua. Ia pun baru mengetahui kejadian itu pada Rabu, 8 Oktober 2025 setelah melihat kuping anaknya itu tampak bengkak dan memerah.

“Ketika melihat kupingnya bengkak baru saya marah-marah dan tanya dia. Kenapa bengkak?, ko [kamu] dipukul?, siapa yang bikin ko seperti itu?” kata Sarah Kaigere kepada Jubi di kediamannya di Jalan  Bumi Perkemahan (Buper), Waena, Kota Jayapura, Papua, Kamis (6/11/2025) malam.

Sarah mengatakan, meski berkali-kali ditanya, korban hanya mengaku dianiaya kakak kelasnya dan tidak mau menyebut siapa pelakunya.

Korban diduga dianiaya hanya karena dianggap tidak menghormati kakak kelas. Korban dihukum dengan melakukan sikap ‘salam tapos’.

Sikap salam tapos biasanya dilakukan saat sedang berdiri atau duduk, kemudian menundukkan kepala, dan mengepal kedua tangan, serta menyilangkan tangan kiri ke arah pelipis di antara dahi dan telinga kanan, dan sebaliknya.

Setelah memasang sikap salam tapos, kakak kelas memberikan hukuman dengan meninju tubuh adik kelasnya itu, terutama pada bagian tangan yang sedang disilangkan ke arah kedua pelipisnya. Tak jarang pukulan tersebut mengenai bagian tubuh sekitar lainnya, seperti dahi, kuping, dan dagu.

Setelah korban memasang sikap salam tapos, kemudian dianiaya dan diancam, agar tidak mengungkapkan perbuatan mereka. Inilah yang diduga mengakibatkan Anton selama hampir dua bulan tidak berani mengungkapkan peristiwa yang dialaminya.

Sarah Kaigere mengatakan, sejak anaknya dipukul pada 18 Agustus 2025 sampai 8 Oktober 2025, Anton diam-diam membeli obat dan mengobati sakitnya sendirian.

“Syukurnya dia sudah tidak tinggal di Asrama Sekolah, jadi saya bisa tahu ketika kupingnya bengkak dan mengkonfirmasi peristiwa itu kepada pihak sekolah,” ujarnya.

Sementara itu, adik korban, Nelince Sarah Oechere mengatakan, pasca peristiwa itu, kakaknya selalu menceritakan semua yang dialaminya, dibanding Ibu mereka.

Menurut Nelince, pasca peristiwa itu pada 18 Agustus 2025, Anton menelepon adiknya untuk meminta tolong pesankan ojek online, karena Anton mau pulang ke rumah.

“[Sebelumnya] tanggal 18 Agustus itu sa punya kakak WhatsApp saya, bilang kalau dia sakit di sekolah. Akhirnya minta saya pesankan [ojek online] Maksim, setelah dia sampai di rumah, saya lihat kondisinya dia lemas karena saat masuk ke halaman rumah dia harus menahan diri di pohon-pohon,” kata Nelince.

Katanya, setelah Anton sampai di rumah, Ia masuk ke kamarnya dan menangis sekitar tiga jam, lalu keluar untuk menceritakan apa yang dialaminya di sekolah.

Menurut cerita Anton, ketika itu tepat pada jam istirahat kedua, salah satu pelaku berinisial AG mendatangi Anton di kelasnya, kemudian mengajaknya keluar ke belakang aula sekolah.

“Ariel ajak Anton ke belakang Aula, di sana ada empat siswa lainnya yang menunggu. Totalnya mereka lima orang, mereka murid kelas 12, kakak kelasnya Anton. Sesampainya, Anton langsung diseret, dikeroyok. Masing-masing dari mereka mengambil bagiannya, ada yang tinju, tendang, hingga menginjaknya di leher,” kata Nelince.

Menurut Nelince, ktika Anton dianiaya, mereka kemudian mengancamnya agar tidak membocorkan informasi itu kepada siapapun. Sejak hari itu, hingga tanggal 27 Agustus, Anton terus diancam dengan kalimat-kalimat yang membuatnya parno.

Pada 27 Agustus kejadian itu terulang lagi. Saat di sekolah, Anton sedang makan siang, kemudian datanglah AG dan mengajak Anton ke belakang kelas, di sana sudah ada dua orang menunggunya yaitu JS dan CP. Menurut pengakuan Anton kepada adiknya, JS hari itu tidak mengikuti jam pelajaran di sekolah.

“JS hari itu tidak memakai seragam sekolah, bersama CP. mereka menunggu Anton dan Ariel di belakang kelas. Saat diajak ke sana, Anton yang trauma dengan peristiwa pada tanggal 18 Agustus lalu, hanya bisa menuruti ajakan mereka,” ujarnya.

Sesampainya di belakang kelas, kedua kakak kelasnya itu lalu mengancamnya dengan berbagai alasan. Mereka memastikan bahwa Anton tidak akan melaporkan perbuatan mereka kepada siapapun. Mereka sempat mengatakan, “kami bisa fitnah kau, karena tidak mudah untuk jatuhkan kau”.

Esoknya pada 28 Agustus, Anton kembali diajak ke belakang aula sekolah dan diancam di sana. Sesampainy di sana, mereka memakaikannya sebuah helm di kepalanya. Kemudian mereka memutar bekas botol air mineral di atas tanah sebagai lotre atau undian.

Ketika botol tersebut berputar dan ujung tutupnya berhenti mengarah ke siapapun, maka dia bebas menghajar Anton.

Sesuai pengakuan Anton, Ia hanya mengingat bahwa saat itu botol pertama kali berhenti dan menunjuk JS, yang kemudian menghajar Anton habis-habisan.

JS menyuruh Anton berlutut di tanah, kemudian Ia menendang Anton, meninju di kepala lapis helm yang dipakai Anton. “Menurut Anton, JS menendangnya sebanyak sembilan kali di kepala, meninjunya berkali-kali hingga tersungkur di tanah,” kata Nelince. (*)

Tags: dugaan penganiayaanPolda PapuaSMAN 3 Buper
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

Lingkungan Perumahan
Mamta

Perumahan tak ramah lingkungan, bupati Jayapura panggil ratusan pengembang

April 25, 2026
Sampah Sisa makanan
Lingkungan

Sampah sisa makanan berdampak lebih kuat terhadap pemanasan global

April 25, 2026
Sampah
Mamta

Sisa makanan penyumbang sampah terbesar di Kabupaten Jayapura

April 24, 2026
Komunitas IBAYAUW
Lingkungan

Komunitas IBAYAUW bersihkan kawasan Hutan Perempuan

April 24, 2026
Yahamak
Mamta

Yahamak tunjuk Yakolina Kwalik sebagai direktur

April 22, 2026
Ulayat
Mamta

Sekolah dipalang pemilik ulayat, proses belajar di SDN Inpres Harapan terganggu

April 21, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

IPB

Pemprov Papua Barat tantang alumni IPB rumuskan konsep pengembangan pertanian

January 31, 2024
Tempo

Tempo kembali diteror, kali ini kiriman bangkai tikus di kardus motif mawar

March 23, 2025
Raja Ampat

Anak muda suarakan krisis tambang di Raja Ampat

August 3, 2025

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara