Jayapura, Jubi – Kasus dugaan penganiayaan terhadap Anton Oechere, siswa kelas 10 SMA Negeri atau SMAN 3 Buper, Kota Jayapura, Papua dilaporkan ke Kepolisian Daerah atau Polda Papua oleh orangtua korban pada 17 Oktober 2025.
Polisi menerima laporan itu dengan surat tanda penerimaan laporan Nomor STTLP/B/17/X/2025/SPKT/POLDA PAPUA.
Sarah Kaigere, orangtua Anton Oechere mengatakan, kasus yang dialami anaknya itu terjadi pada 18 Agustus 2025. Anton Oechere diduga dianiaya oleh lima orang kakak kelasnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter spesialis telinga, hidung dan tenggorokan atau THT, gendang telinga korban pecah dan keadaannya sedang infeksi, sehingga membutuhkan pengobatan intens.
Menurut Kaigere, peristiwa dugaan penganiayaan terhadap anaknya itu baru diketahuinya setelah dua bulan, pascakejadian.
Kata Kaigere, dalam pelaporannya, tiga guru SMA N-3 Buper Kota Jayapura ditetapkan sebagai saksi karena dinilai mengetahui peristiwa tersebut, tetapi terkesan melakukan pembiaran.
Katanya, putranya tidak pernah mengadukan atau menceritakan peristiwa itu kepada siapapun, baik guru maupun orang tua. Ia pun baru mengetahui kejadian itu pada Rabu, 8 Oktober 2025 setelah melihat kuping anaknya itu tampak bengkak dan memerah.
“Ketika melihat kupingnya bengkak baru saya marah-marah dan tanya dia. Kenapa bengkak?, ko [kamu] dipukul?, siapa yang bikin ko seperti itu?” kata Sarah Kaigere kepada Jubi di kediamannya di Jalan Bumi Perkemahan (Buper), Waena, Kota Jayapura, Papua, Kamis (6/11/2025) malam.
Sarah mengatakan, meski berkali-kali ditanya, korban hanya mengaku dianiaya kakak kelasnya dan tidak mau menyebut siapa pelakunya.
Korban diduga dianiaya hanya karena dianggap tidak menghormati kakak kelas. Korban dihukum dengan melakukan sikap ‘salam tapos’.
Sikap salam tapos biasanya dilakukan saat sedang berdiri atau duduk, kemudian menundukkan kepala, dan mengepal kedua tangan, serta menyilangkan tangan kiri ke arah pelipis di antara dahi dan telinga kanan, dan sebaliknya.
Setelah memasang sikap salam tapos, kakak kelas memberikan hukuman dengan meninju tubuh adik kelasnya itu, terutama pada bagian tangan yang sedang disilangkan ke arah kedua pelipisnya. Tak jarang pukulan tersebut mengenai bagian tubuh sekitar lainnya, seperti dahi, kuping, dan dagu.
Setelah korban memasang sikap salam tapos, kemudian dianiaya dan diancam, agar tidak mengungkapkan perbuatan mereka. Inilah yang diduga mengakibatkan Anton selama hampir dua bulan tidak berani mengungkapkan peristiwa yang dialaminya.
Sarah Kaigere mengatakan, sejak anaknya dipukul pada 18 Agustus 2025 sampai 8 Oktober 2025, Anton diam-diam membeli obat dan mengobati sakitnya sendirian.
“Syukurnya dia sudah tidak tinggal di Asrama Sekolah, jadi saya bisa tahu ketika kupingnya bengkak dan mengkonfirmasi peristiwa itu kepada pihak sekolah,” ujarnya.
Sementara itu, adik korban, Nelince Sarah Oechere mengatakan, pasca peristiwa itu, kakaknya selalu menceritakan semua yang dialaminya, dibanding Ibu mereka.
Menurut Nelince, pasca peristiwa itu pada 18 Agustus 2025, Anton menelepon adiknya untuk meminta tolong pesankan ojek online, karena Anton mau pulang ke rumah.
“[Sebelumnya] tanggal 18 Agustus itu sa punya kakak WhatsApp saya, bilang kalau dia sakit di sekolah. Akhirnya minta saya pesankan [ojek online] Maksim, setelah dia sampai di rumah, saya lihat kondisinya dia lemas karena saat masuk ke halaman rumah dia harus menahan diri di pohon-pohon,” kata Nelince.
Katanya, setelah Anton sampai di rumah, Ia masuk ke kamarnya dan menangis sekitar tiga jam, lalu keluar untuk menceritakan apa yang dialaminya di sekolah.
Menurut cerita Anton, ketika itu tepat pada jam istirahat kedua, salah satu pelaku berinisial AG mendatangi Anton di kelasnya, kemudian mengajaknya keluar ke belakang aula sekolah.
“Ariel ajak Anton ke belakang Aula, di sana ada empat siswa lainnya yang menunggu. Totalnya mereka lima orang, mereka murid kelas 12, kakak kelasnya Anton. Sesampainya, Anton langsung diseret, dikeroyok. Masing-masing dari mereka mengambil bagiannya, ada yang tinju, tendang, hingga menginjaknya di leher,” kata Nelince.
Menurut Nelince, ktika Anton dianiaya, mereka kemudian mengancamnya agar tidak membocorkan informasi itu kepada siapapun. Sejak hari itu, hingga tanggal 27 Agustus, Anton terus diancam dengan kalimat-kalimat yang membuatnya parno.
Pada 27 Agustus kejadian itu terulang lagi. Saat di sekolah, Anton sedang makan siang, kemudian datanglah AG dan mengajak Anton ke belakang kelas, di sana sudah ada dua orang menunggunya yaitu JS dan CP. Menurut pengakuan Anton kepada adiknya, JS hari itu tidak mengikuti jam pelajaran di sekolah.
“JS hari itu tidak memakai seragam sekolah, bersama CP. mereka menunggu Anton dan Ariel di belakang kelas. Saat diajak ke sana, Anton yang trauma dengan peristiwa pada tanggal 18 Agustus lalu, hanya bisa menuruti ajakan mereka,” ujarnya.
Sesampainya di belakang kelas, kedua kakak kelasnya itu lalu mengancamnya dengan berbagai alasan. Mereka memastikan bahwa Anton tidak akan melaporkan perbuatan mereka kepada siapapun. Mereka sempat mengatakan, “kami bisa fitnah kau, karena tidak mudah untuk jatuhkan kau”.
Esoknya pada 28 Agustus, Anton kembali diajak ke belakang aula sekolah dan diancam di sana. Sesampainy di sana, mereka memakaikannya sebuah helm di kepalanya. Kemudian mereka memutar bekas botol air mineral di atas tanah sebagai lotre atau undian.
Ketika botol tersebut berputar dan ujung tutupnya berhenti mengarah ke siapapun, maka dia bebas menghajar Anton.
Sesuai pengakuan Anton, Ia hanya mengingat bahwa saat itu botol pertama kali berhenti dan menunjuk JS, yang kemudian menghajar Anton habis-habisan.
JS menyuruh Anton berlutut di tanah, kemudian Ia menendang Anton, meninju di kepala lapis helm yang dipakai Anton. “Menurut Anton, JS menendangnya sebanyak sembilan kali di kepala, meninjunya berkali-kali hingga tersungkur di tanah,” kata Nelince. (*)











Discussion about this post