Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Mamta

Diduga dianiaya kakak kelas, gendang telinga siswa SMAN 3 Jayapura pecah

October 17, 2025
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: Hans Makabori - Editor: Syofiardi
siswa Jayapura

Kondisi gendang telinga Anton Oechere, siswa Kelas 10, SMA Negeri 3 Jayapura yang pecah dan berair terlihat pada layar monitor dokter THT di Jayapura, Kamis (9/10/2025). – Jubi/ Dok keluarga untuk Jubi

Jayapura, Jubi – Anton Oechere, siswa Kelas 10, SMA Negeri 3 Jayapura, Buper Waena, Kota Jayapura, Papua, diduga dianiaya empat atau lima kakak kelasnya, menyebabkan gendang telingaya pecah dan berair. Celakanya, kejadian itu baru diketahui orang tuanya dua bulan kemudian.

Sarah Kaigere, ibu dari Anto Oechere menuturkan, putranya tidak pernah mengadukan atau menceritakan peristiwa itu kepada siapa pun, baik guru maupun orang tua. Sarah Kaigere mengaku baru mengetahui kejadian itu pada Rabu, 8 Oktober 2025 setelah melihat kuping anaknya itu tampak bengkak dan memerah.

RELATED POSTS

Siswa SMK Taruna Manokwari dianiaya senior, orangtua laporkan ke Polisi

SMAN 3 Jayapura dipalang pemilik ulayat suku Heleuwbe

Tanggapi tertembaknya anak SD di Intan Jaya, ULMWP serukan rakyat Papua jaga diri

“Ketika melihat kupingnya bengkak baru saya marah-marah dan tanya dia. Kenapa bengkak?, ko [kamu] dipukul?, siapa yang bikin ko seperti itu?” kata Sarah Kaigere kepada Jubi ketika ditemui di salah satu rumah makan di Jalan SPG Teruna Waena, Distrik Heram, Kota Jayapura, Papua, Rabu (15/10/2025).

Sarah mengatakan, meski berkali-kali ditanya, korban hanya mengaku dianiaya kakak kelasnya dan tidak mau mengungkapkan siapa pelakunya.

“Ia baru mengaku pada keesokan harinya, yaitu Kamis, 9 Oktober 2025,” katanya.

Menurut Sarah, saat itu Anton dipanggil salah satu kakak kelasnya dan disuruh ikut ke salah satu ruang kosong di mana empat murid lain menunggunya. Sesampainya di sana, Ia lalu disuruh memasang sikap yang dikenal dengan ‘salam tapos’ oleh para murid di sekolah itu.

Informasi yang didapatkan Jubi, ’salam tapos’ biasa dilakukan sebagai hukuman ketika seorang adik kelas terkesan tidak menghormati kakak kelasnya.

Ciri-ciri sikap salam tapos biasanya dilakukan saat sedang berdiri atau duduk, kemudian menundukkan kepala, dan mengepal kedua tangan, serta menyilangkan tangan kiri ke arah pelipis di antara dahi dan telinga kanan, kemudian sebaliknya juga yang kanan disilangkan ke arah pelipis kiri.

Setelah memasang sikap salam tapos, kakak kelas memberikan hukuman dengan meninju tubuh adik kelasnya itu, terutama pada bagian tangan yang sedang disilangkan ke arah kedua pelipisnya. Tak jarang pukulan tersebut mengenai bagian tubuh sekitar lainnya, seperti dahi, kuping, dan dagu.

Setelah korban memasang sikap salam tapos, kemudian dianiaya dan diancam pelaku agar tidak mengungkapkan perbuatan mereka. Inilah yang diduga mengakibatkan Anton selama hampir dua bulan tidak berani mengungkapkan peristiwa yang dialaminya.

Sarah mengatakan sejak anaknya dipukul pada tanggal 18 Agustus 2025 sampai 8 Oktober 2025, Anton diam-diam membeli obat dan mengobati sakitnya sendirian.

“Syukurnya dia sudah tidak tinggal di Asrama Sekolah, jadi saya bisa tahu ketika kupingnya bengkak dan mengonfirmasi peristiwa itu kepada pihak sekolah,” ujarnya.

Setelah memastikan anaknya dianiaya dan menyebut nama seorang murid terduga pelaku yang juga memanggilnya ke ruangan kosong pada waktu itu, esoknya, 9 Oktober 2025 Sarah Kaigere mendatangi pihak sekolah untuk memberitahukan kejadian itu. Ia meminta pihak sekolah memanggil murid tersebut,untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

“Hari Kamis [9 Oktober] kami urus masalah itu di sekolah, murid yang dipanggil menghadap kami, mengaku memang terjadi pemukulan terhadap korban pada 18 Agustus 2025. Tapi dia mengaku tidak terlibat memukul korban, dia hanya disuruh untuk memanggil korban dari ruang kelasnya ke salah satu ruang kosong, di mana empat murid itu sedang menunggu,” kata Sarah.

Berdasarkan pengakuan murid tersebut, kata Sarah, pihaknya bersama pihak sekolah meminta keterangan terkait nama keempat murid tersebut. Setelah disebutkan, mereka kemudian dipanggil untuk memberikan keterangan.

“Namun, meski sudah menghadirkan masing-masing orang tua dari keempat murid itu, mereka tidak mengaku menganiaya korban,” katanya.

Melihat situasi saat itu yang sudah tidak memungkinkan, Sarah kemudian menunda mengurus masalah itu dan pulang untuk kembali lagi ke sekolah pada Senin, 13 Oktober 2025.

“Setelah pulang, saya antar anak [korban] ke dokter spesialis THT untuk memeriksa kondisi telinganya. Di layar monitor alat pemeriksaan dokter, terungkap bahwa gendang telinga Anton pecah atau robek. Dokter mengatakan bahwa kondisinya kategori parah. Bukti dari layar monitor itu saya foto dan saya tunjukan ke pihak sekolah pada hari Senin,” ujar Sarah.

Ketika kembali ke sekolah pada Senin, lanjut Sarah Kaigere, pihak sekolah pun memanggil para murid yang diduga terlibat untuk menunjukkan bukti dari dokter dan mereka dimintai keterangan lebih lanjut.

“Namun, murid yang sebelumnya dipanggil pertama dan mengaku disuruh memanggil korban, malah membantah pernyataannya sendiri dengan berkata ia tidak pernah jemput [panggil] korban, saya tidak begitu, kalau tidak percaya bisa cek CCTV katanya, padahal sebenarnya di lokasi penganiayaan memang tidak terpasang CCTV [Closed Circuit Television,” katanya.

Akan melaporkan ke polisi

Sarah Kaigere menegaskan, pihaknya bakal melaporkan kasus tersebut kepada polisi untuk diselesaikan secara hukum, supaya menjadi atensi pihak sekolah dan ke depan tidak terulang lagi kejadian serupa.

“Kami sebagai keluarga akan melakukan visum dokter dan setelah menerima hasilnya, kami akan bawa dan bikin laporan ke pihak kepolisian untuk diselesaikan secara hukum,” ujarnya.

Sarah juga menyampaikan telah meminta pihak sekolah supaya melarang tradisi-tradisi para murid di sekolah yang tidak menguntungkan dan malah merugikan. Pihak sekolah juga dituntut membenahi standar pengawasan terhadap para murid, baik di sekolah, maupun di asrama.

Kepala SMAN 3 Jayapura Joko Johanes yang dikonfirmasi Jubi di ruang kerjanya pada Rabu (15/10/2025) mengatakan pihaknya sama sekali tidak mengetahui motif atau penyebab terjadinya penganiayaan itu dan tidak bisa memaksa para siswa yang disebut sebagai pelaku untuk mengakui perbuatan mereka tanpa bukti yang valid. Sehingga, katanya, jika akan diproses secara hukum, pihaknya siap memberikan keterangan terkait upaya penanganan kasus yang telah dilakukan.

“Sampai sekarang kami belum tahu [seperti apa kejadiannya], karena anak-anak sendiri sudah dimintai keterangan oleh Guru BK [Bimbingan konseling] dan Bagian Kesiswaan, saya sendiri juga ada di sana, dan pengakuan mereka merasa tidak melakukan kejahatan itu,” kata Joko Johanes.

Menurut Johanes, sebagai guru, mereka memiliki keterbatasan wewenang untuk menggali informasi lebih dalam dari para siswa yang diduga sebagai pelaku. Para guru, katanya, juga hanya bisa menggali informasi dengan cara-cara yang ringan, mengingat jika dipaksakan tanpa bukti, maka pihak sekolah bakal disalahkan oleh para orang tua murid terduga pelaku.

“Apalagi sekarang ada hal-hal sensitif yang guru punya batasan-batasan yang tidak boleh dilewati, jadi kami menggali informasi dari murid dengan cara yang lembut. Tapi ketika anak mengaku tidak melakukan, kami tidak bisa paksa,” ujarnya.

Johanes juga mengakui, dahulu memang ada tradisi sikap ‘salam tapos’ di sekolah yang dipimpinnya itu. Namun, menurutnya pihaknya telah melarang karena itu bukan tradisi yang diajarkan sekolah.

Ia juga menjelaskan pihaknya belum membenahi standar pengawasan terhadap perilaku murid, baik di sekolah maupun di asrama, sehingga mereka bakal bersinergi bersama pihak terkait lainnya, seperti Dinas Pendidikan dan  Badan Perlindungan Anak untuk mengevaluasi standar pengawasan murid dan merumuskan aturan dan batasan-batasan yang harus dipatuhi para murid.

“Jadi kalau masih dilakukan berarti anak-anak itu sendiri yang melakukan, tapi yang jelas, sekolah tidak menginginkan, tidak memperbolehkan, dan melarang hal itu. Bahkan setiap kesalahan apapun yang dilakukan oleh anak murid, kami pasti langsung panggil anak yang bersangkutan dan orang tuanya, karena mereka harus tahu kejadian apa yang dilakukan anaknya,” ujarnya.

Johanes mengatakan pihaknya tentu akan menindaklanjuti setiap pengaduan yang dilaporkan para orang tua terkait dengan masalah-masalah yang dialami atau dilakukan oleh para siswa di sekolahnya.

“Makanya kemarin saya sudah diskusikan dengan pihak dinas [Dinas Pendidikan Kota Jayapura], tentang bagaimana supaya sekolah ini menjadi sekolah yang aman untuk anak-anak,” katanya.

Menurut Johanes, penting untuk memperbaiki keamanan di asrama, supaya menjadi tempat yang aman untuk anak-anak.

“Harus kami akui, standar [pengawasan dan ketertiban] di asrama itu belum kami buat secara baik, kami akan pikirkan bersama dan dibenahi,”ujarnya. (*)

Tags: kekerasan di sekolahPenganiayaan AnakSMAN 3 Jayapura
ShareTweetSendShareShare
Syofiardi Bachyul

Syofiardi Bachyul

Related Posts

Lingkungan Perumahan
Mamta

Perumahan tak ramah lingkungan, bupati Jayapura panggil ratusan pengembang

April 25, 2026
Sampah Sisa makanan
Lingkungan

Sampah sisa makanan berdampak lebih kuat terhadap pemanasan global

April 25, 2026
Sampah
Mamta

Sisa makanan penyumbang sampah terbesar di Kabupaten Jayapura

April 24, 2026
Komunitas IBAYAUW
Lingkungan

Komunitas IBAYAUW bersihkan kawasan Hutan Perempuan

April 24, 2026
Yahamak
Mamta

Yahamak tunjuk Yakolina Kwalik sebagai direktur

April 22, 2026
Ulayat
Mamta

Sekolah dipalang pemilik ulayat, proses belajar di SDN Inpres Harapan terganggu

April 21, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

PUPR Manokwari

PUPR Manokwari alokasikan Rp9 miliar bangun jalan di Distrik Mokwam

January 17, 2024
Kasus Kredit Fiktif Bank Papua

Perkara 3 tersangka kasus kredit fiktif Bank Papua segera disidangkan

September 21, 2023
kereta

Berburu tiket kereta mudik Tahun Baru Imlek di China

December 26, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara