Wamena, Jubi – Konflik antarwarga Distrik Wouma dan Asolokobal yang terjadi pada 12–14 Juni 2024, berimbas pada terhambatnya Penerimaan Peserta Didik Baru atau PPDB dan penerimaan rapor siswa di SMP Negeri 3 Wamena, Distrik Asolokobal, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Selain itu, sejumlah warga tidak bisa mengakses jalan menuju Kota Wamena, karena adanya pemalangan jalan.
Konflik antarwarga ini berawal dari kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Distrik Wouma, pada 10 Juni 2024 lalu. Pelaku yang membawa mobil berasal dari Distrik Asolokobal, menyenggol korban yang berasal dari Distrik Wouma. Meski korban hanya tersenggol mobil, ia melakukan pemalangan di ruas jalan Wamena menuju Kurima tepatnya di wilayah Wouma. Hingga akhirnya konflik meluas ke saling serang antarwarga dari Wouma dan Asolokobal.
Sejumlah warga dari 5 distrik juga tidak bisa mengakses jalan menuju ke Kota Wamena, karena jalur satu-satunya yakni jalan yang dipalang di Wouma. Lima distrik tersebut di antaranya Popukoba, Maima, Walesi, Asotipo, dan Asolokobal. Selain itu, pembagian rapor hingga PPDB pada sejumlah sekolah yang ada di 5 distrik ini juga terhambat. Sedikitnya terdapat 20 sekolah terdiri dari TK-PAUD, SD, dan SMP tersebar di sana.
Salah satu siswa SMP Negeri 3 Wamena berinisial KA mengaku, ia bersama dua orang temannya yang baru saja lulus harus mengurungkan niat mereka, untuk mendaftar ke SMA di Kota Wamena. Akses jalan yang dipalang mengakibatkan aktivitas warga menjadi lumpuh total.
“Saya bersama dua teman ini, tadi sekitar pukul 06.30 pagi mau ke kota untuk pendaftaran SMA, tapi sampai di mata jalan situ, sama orang tua disuruh pulang kembali ke rumah, karena tidak bisa ke kota [jalan dipalang] sehingga kami kembali ke rumah,” katanya, saat ditemui Jubi di depan SMP Negeri 3 Wamena, pada Senin (24/6/2024).
Ia bersama dua temannya, awalnya sudah nekat menuju Kota Wamena untuk pendaftaran siswa baru SMA. Namun sampai di Kali Hetokec tepat di perbatasan Wouma dan Asolokobal, langkah mereka harus terhenti.
“Kami tetap disuruh pulang karena situasi tidak memungkinkan,” ujarnya.
Menurut Kepala SMP Negeri 3 Wamena Ansgar Blasius Biru, konflik antarwarga membuat aktivitas sekolah lumpuh total. Meski kegiatan semester dan ujian telah selesai, namun penyerahan rapor pada 12 Juni 2024 lalu juga terhambat, bersama rencana PPDB.
“Kami juga mulai penerimaan peserta didik baru, tapi tanggal 12 [Juni] itu mulai kejadian, makanya kami [terpaksa] pulang lewat jembatan gantung di Sinakma,” katanya, ketika dihubungi Jubi melalui telepon seluler, Senin (24/6/2024).
Pada 13 Juni 2024 sampai sekarang, aktivitas PPDB juga terhalang atau belum bisa dilaksanakan. Padahal targetnya PPDB hanya dibuka selama dua pekan, namun selama itu konflik tak kunjung selesai.
“Terus ada pembangunan toilet sekolah dan pembuatan pagar sekola, akhirnya tidak jalan,” ujarnya.
Pihaknya sangat menyayangkan konflik yang tak kunjung usai ini, dan mengorbankan banyak pihak. Apalagi anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan.
“Saya sangat prihatin dengan situasi yang ada, anak-anak yang ingin mendaftar akhirnya semua tidak bisa dilayani, ada juga anak-anak kelas 9 yang ingin melanjutkan ke SMA/SMK, akhirnya tidak bisa, bahkan ada orang tua siswa yang sampai telepon saya, tapi mau bagaimana?” katanya.
Sementara itu, guru SD Inpres Minimo Distrik Asolokobal Sergius mengatakan, sesuai kalender pendidikan seharusnya pihaknya harus membagi rapor dan PPDB. Namun keduanya belum bisa dilakukan, karena konflik antarwarga belum selesai.
“Dalam waktu dua minggu ini kami harus bagi rapor ke anak-anak, dan terima siswa baru juga, tapi semua itu tidak jalan. Kita harap masalah ini cepat selesai supaya anak-anak bisa lanjutkan sekolah juga,” katanya.
Salah satu warga Distrik Asolokobal, Herly, yang anaknya bersekolah di SMP Santo Thomas, Kota Wamena, juga mengaku tidak bisa mengambil rapor anaknya karena konflik antarwarga tersebut. “Tanggal 18 Juni itu anak saya harus terima rapor, tapi kita tidak bisa jalan [ke Kota Wamena] sampai sekarang ini,” katanya. (*)











Discussion about this post