Wamena, Jubi – Sejumlah pedagang di kios sembako, sayur-mayur, serta buah-buahan di Pasar Misi Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, mengaku omzet selama tiga pekan terakhir sejak 12 Juni sampai 3 Juli 2024 menurun drastis. Penurunan omzet ini bahkan mencapai 95 persen disebabkan sepinya pembeli.
Kondisi tersebut dampak dari konflik antarwarga Distrik Asolokobal dan Wouma, yang terjadi sejak 12 Juni 2024 hingga sekarang. Aktivitas jual beli di pasar tersendat karena masyarakat masih trauma.
“Situasi pasar sangat sepi, tidak ada aktivitas jual beli di Pasar Misi terjadi sejak awal konflik antarwarga itu sampai sekarang. Akibatnya. semua barang dagangan kami tidak laku karena tidak ada pembeli,” kata pedagang sembako, Ahmad, di Pasar Misi Wamena, pada Rabu (3/7/2024) siang.
Ia mengaku jika tidak ada konflik antarwarga, omzet per harinya bisa mencapai Rp5 juta, dan paling rendah Rp2,5 juta. Namun sejak kejadian itu, untuk meraup keuntungan seperti biasanya cukup sulit.
“Sampai hari ini, kita mau dapat uang 100 ribu saja sangat susah, kadang sehari itu kita hanya dapat uang 100 sampai 300 ribu saja, kadang tidak dapat sama sekali karena tidak ada pembeli,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah maupun provinsi, segera mencari solusi penyelesaian konflik antarwarga tersebut agar tidak berlarut-larut. Masyarakat juga bisa beraktivitas seperti biasanya, atau tidak menjadi korban dari konflik tersebut.
“Kami masyarakat kecil ini sangat berharap dan meminta agar pemerintah segera tangani kedua belah pihak, agar masalah ini cepat selesai karena kasihan masyarakat juga kemarin ada yang datang sembunyi-sembunyi, katanya, di tempatnya sudah kehabisan bahan makanan, jadi efeknya ke masyarakat dan kami para pedangang sembako ini,” katanya.
Salah satu pedagang sayur-mayur dan buah-buahan, Eka Sulastri, juga mengalami hal serupa. Ia bahkan tidak bisa berdagang lagi, karena sepi pembeli.
“Jadi saya mulai hari ketiga konflik itu sudah tidak jualan sayur-mayur lagi, karena saya tidak ambil sayur dari masyarakat [sekitar], yang bawa [stok] dari Kurima dan Kampung Air Garam. Tapi khusus buah [stoknya] dari Jayapura, jadi saya jualan di minggu pertama saja, dan sekarang sudah tidak jualan lagi karena tidak ada pembeli, dan sebagian besar [dagangan] sudah busuk semua,” katanya.
Akibat konflik tersebut para pedagang sangat merasakan dampaknya, karena itu satu-satunya mata pencaharian mereka. Apalagi mereka harus membayar kontrak atau sewa tempat.
“Dalam sehari itu [sebelumnya] kami bisa dapat uang Rp1—2 juta, tetapi sekarang ini mau dapat uang 100 ribu saja sangat susah, bahankan tidak dapat uang sama sekali,” katanya. (*)











Discussion about this post