Wamena, Jubi – Mama-mama pedagang asal Kampung Pugima, Distrik Walelagama, terpaksa harus menumpang berjualan di depan ruko di di Kota Wamena, Jayawijaya, Papua Pegunungan. Dari pantauan Jubi pada Rabu (18/9/2024), mereka menggelar aneka ragam hasil kebun mereka di depan ruko.
Salah satu pedagang, Mage Isage (52), mengatakan setiap pagi mereka naik angkutan umum dari kampung, lalu menuju ke Kota Wamena untuk berdagang.
“Kami ikut [naik] taksi [angkutan umum] dari kampung pagi-pagi jam tujuh, bayar Rp20 ribu per orang, yang kami jual hasil kebun seperti sayur, ubi, buah, kacang tanah, dan ada kayu bakar,” katanya.
Isage menjelaskan mereka lebih memilih berjualan menumpang di depan ruko, karena ongkos angkutan umum menuju ke sana lebih murah. Selain itu, jualan mereka lebih cepat laku ketimbang harus berdagang di Pasar Potikelek.
“Sayur kami jual seharga Rp10 ribu per ikat, kacang tanah per ikat Rp10 ribu, umbi-umbian Rp20 ribu per tumpuk, buah Rp10 ribu, dan kayu bakar Rp20 ribu. Per hari kami bisa bawa pulang Rp200 ribu, kalau jualan laku semua kami bisa bawa pulang Rp300 ribu, hasil jualan kami gunankan untuk beli gula, kopi, teh, sabun, dan beras,” ujarnya.
Biasanya jika jualan mereka tidak laku, mereka akan menjualnya ke rumah warga di Karujaya, atau mereka terpaksa ke Pasar Potikelek untuk lanjut berjualan di sana. Untuk menuju pasar, mereka terpaksa harus membayar ongkos angkutan umum sebesar Rp40 ribu.
“Saya punya anak ada enam orang yang paling tua sudah berkeluarga. Lima orang masih sekolah, untuk tambahan biaya sekolah saya jualan hasil kebun, juga usaha ternak madu di rumah. Harga madu per botol yang kecil Rp200 ribu, besar Rp300, satu jeriken Rp1,2 juta. Untuk bulan ini madu belum banyak terisi, karena sering hujan,” katanya.
Salah seorang warga sekitar sekaligus pembeli, Merry Haluk (30), berharap pemerintah bisa memperhatikan mama-mama pedagang ini. Menurutnya jika ada pasar yang berdekatan dengan kampung mereka, maka mereka tidak perlu lagi berjualan ke Pasar Potikelek atau ke tempat lainnya yang jauh dari kampung.
“Mama-mama yang jualan di sini juga bantu kami warga di sini, jika beli sayur tinggal jalan kaki saja, itu sangat menghemat uang ojek ke pasar. Terus kasihan juga kalau hujan, biasa mereka berlindung di depan kos atau kios warga di sini, tapi tetap mereka kena hujan juga, karena sengnya juga tidak panjang keluar, kalau hujan tetap mama-mama ini kena hujan,” katanya. (*)











Discussion about this post