Manokwari, Jubi – bp Indonesia menyatakan telah melakukan sosialisasi dan komunikasi terbuka sebelum memulai aktivitas eksplorasi seismik di Teluk Arguni, Kabupaten Fakfak, Papua Barat. Penegasan itu disampaikan menyusul perhatian publik terhadap keberadaan kapal seismik di wilayah tersebut, yang disebut perusahaan sebagai bagian dari program eksplorasi hulu migas yang telah mendapat persetujuan pemerintah dan dijalankan sesuai standar keselamatan serta perlindungan lingkungan.
Juru bicara bp Indonesia, Wigra Hanafiah ingin menegaskan bp telah melaksanakan serangkaian kegiatan sosialisasi dan upacara adat bersama masyarakat di sejumlah distrik di Fakfak dan Sorong Selatan bersama pemerintah daerah. Termasuk di dalamnya kegiatan doa bersama di Arguni pada bulan Oktober 2025 dan rapat sosialisasi pada 23 Desember 2025 di Kokas, yang dihadiri oleh Bupati Fakfak, para unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Kami turut mengundang perwakilan pimpinan dari tujuh suku asli di Kabupaten Fakfak. Seluruh rangkaian sosialisasi ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk menghormati hak dan adat masyarakat setempat serta memastikan keselamatan masyarakat yang beraktivitas di laut,” kata Wigra Hanafiah dalam rilis yang diterima Jubi, Senin (16/2/2026).
Hanafiah ingin menegaskan bahwa seluruh kegiatan yang dilakukan merupakan bagian dari program eksplorasi hulu migas yang dilaksanakan sesuai dengan peraturan dan tata kelola hulu migas yang disetujui oleh Pemerintah Republik Indonesia, serta mengikuti standar keselamatan, keamanan, dan perlindungan lingkungan yang ketat.
Tidak hanya itu, wujud perhatian bp juga dituangkan secara nyata melalui program-program pengembangan masyarakat yang telah dijalankan sejak 2006.
“Pelaksanaan program sosial ini merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat (PPM) berdasarkan persetujuan pemerintah dan peraturan yang berlaku dan bertujuan membantu meningkatkan kehidupan masyarakat dan membantu keberlangsungan operasi,” ucapnya
Beberapa program yang telah bp Indonesia jalankan di Fakfak antara lain:
- Beasiswa kepada lebih dari 1.400 pelajar Papua di tingkat SMA dan universitas termasuk pelajar di Fakfak.
- Kegiatan Rumah Pintar di Kokas, Goras dan Arguni.
- Fasilitas Lab IPA dan pengembangan pembelajaran STEM di SMA Negeri 1 Kokas.
- Polinef sebagai pusat pelatihan untuk energi terbarukan.
- Program pendampingan kepada Koperasi di beberapa kampung terdampak sebagai pusat stocking point untuk supply produk pertanian dan perikanan ke Tangguh LNG.
- Pendampingan kepada pengusaha lokal Papua agar bisa ikut terlibat dalam proses pengadaan Tangguh LNG – termasuk 5 pengusaha asal Fakfak.
- Menyediakan fasilitator kesehatan di beberapa kampung terkait penanganan program Kesehatan Ibu dan Anak, Malaria, TB, Water Sanitation dan juga HIV AIDS.
- Perbaikan beberapa Fasum yang akan kami gunakan untuk kegiatan bersama seperti Rumah Pintar termasuk perbaikan fasilitas air bersih.
Khusus untuk Arguni, kami juga telah banyak melakukan program sosial yang berfokus pada pendidikan serta peningkatan ekonomi:
- Serapan produk perikanan dari Arguni untuk pemenuhan catering Tangguh LNG dimulai sejak tahun 2010 dengan jumlah yang terus meningkat tiap tahunnya. Sejak tahun 2010 – 2025, sekitar 850ton atau setara dengan 37 miliar Rupiah produk perikanan telah disuplai dari koperasi Enenem Jaya, Arguni. Untuk tahun 2025, serapan mencapai 95 on ikan. Selain itu, Tangguh juga memfasilitasi pembangunan gedung koperasi, pemasangan genset, kulkas penyimpanan. unit long boat mesin 15PK, long boat besar dengan motor tempel 40PK, peralatan nelayan, mesin pemurni air, dll.
- Dukungan bagi usaha produk turunan perikanan (abon ikan), mulai dari izin usaha, pengurusan label halal hingga pengemasan produk.
- Pelatihan penguatan UMKM dan usaha lokal kepada 21 pengusaha Arguni dan Taver serta 26 pengusaha Kokas berupa pelatihan keuangan, proses pembukuan bisnis hingga strategi pemasaran.
- Pendampingan dan penguatan kompetensi guru SD Arguni, yang melibatkan mitra pelaksana untuk pendampingan 7 orang guru. Selain itu, kami melaksanakan English Bootcamp untuk peningkatan kemampuan Bahasa Inggris serta beasiswa pendidikan.
- Pengembangan pembangkit listrik alternatif di Pulau Arguni yang menghasilkan daya hingga 150 kWh per hari dan diperuntukkan untuk rumah ibadah, koperasi, gedung PKK, SMP Arguni, Balai Kampung Arguni, Balai Kampung Taver, PAUD, dll.; dengan nilai investasi sebesar dua miliar Rupiah.
- Perbaikan jetty masyarakat yang pernah dilakukan di tahun 2016 dan akan dilakukan kembali di tahun 2026 dengan anggaran sebesar 573 juta Rupiah.
“Perlu kami tegaskan sekali lagi bahwa apa yang kami lakukan di Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak merupakan usaha untuk membantu pemerintah dalam mencapai kedaulatan energi. Dalam pelaksanaannya kami berkomitmen untuk tetap menjalankan dengan aman dan transparan, serta membuka pintu komunikasi dan diskusi membangun dengan seluruh pemangku kepentingan,” katanya.
Tuntutan Raja dan Masyarakat Arguni
Sebelumnya Raja dan Masyarakat Kampung Arguni sebagai pemilik kawasan tempat bakal dilaksanakan pembangunan sumur uba 1 dan uba 2 menyampaikan sejumlah tuntutan di antaranya.
- Sasi atau kera-kera ketika di pasang di lokasi tersebut menandakan pemberhentian kerja.
- Siapa yang mencabut atau melanggar dianggap mencederai Martabat adat kami, maka sanksinya denda Rp.5 Triliun.
- Meminta kejelasan mengenai kompensasi terhadap Nelayan selama Seismik berlangsung
- Kami meminta pemangku kepentingan selaku petinggi BP Berau LTD dan Pimpinan Pemerintah Daerah datang di tempat kami kampung raja untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ini.
- Hal-hal mengenai tuntutan adat lain dibicarakan dalam forum
- Jika hal ini tidak diindahkan maka kegiatan operasi hulu migas serta aktivitas BP Berau LTD kami akan hentikan total di seluruh wilayah Petuanan Raja Arguni.
Sekretaris LMA Mbarmbar S Dino Sarasa menegaskan bahwa apa yang diklaim oleh BP Indonesia bukan merupakan keinginan Masyarakat Arguni selaku pemilik petuanan tempat BP Berau akan mengeksplorasi Gas alam.
“Itu bukan permintaan warga dan raja karna selama ini pembicaraan menyangkut hal tersebut bukan dilakukan di Arguni tetapi di Distrik Kokas, secara pemerintah dan petuanan berbeda dengan Arguni, sebagai distrik sendiri,” kata S. Dino Sarasa
Dia mengaku masyarakat telah kecewa karena permintaan awal saat pelaksanaan Seismik pertama tidak direspon secara baik oleh pihak BP Indonesia.
“Permintaan pada Seismik awal kam Rp. 60 Miliar tetapi hingga saat ini sudah dilakukan kembali Seismik kemarin pihak BP tidak merespon secara baik, padahal itu merupakan bagian dari kompensasi atau gelar tikar adat,” ucapnya. (*)











Discussion about this post