Jayapura, Jubi – Kolaborasi para seniman menciptakan karya seni tentang makna air sebagai sumber kehidupan, dan penyeimbang ekosistem.
Karya tersebut dibuat dalam residensi yang digelar Alyakha Art Center selama sepekan di Kampung Yokiwa, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua.
Salah Satu Seniman asal Kampung Puay, George Deda mengatakan tahun ini menjadi tahun ketiga ia terlibat dalam pameran karya.
Kali ini karya yang dihadirkan berupa seni instalasi, bercerita tentang nafas kehidupan masyarakat setempat. Karya itu menggunakan berbagai simbol dan material, seperti kuali atau wajan, kendi, patung, dan berbagai bahan dari alam lainnya.
“Seluruh elemen tersebut berbicara tentang keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan spiritual. Dengan spiritualitas ditempatkan sebagai tingkatan paling atas,” kata George Deda di Kampung Yokiwa, Sabtu (20/12/2025).
Melalui karya ini, para seniman ingin menyampaikan adanya hubungan antara tingkatan mulai dari yang paling bawah, tengah, hingga ke atas, dan seni adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Seperti nafas, tanpa seni hidup terasa kosong.
“Dalam proses penciptaan karya, kami selalu berdasarkan dari persoalan-persoalan nyata. Dalam konteks karya ini, persoalan yang diangkat adalah relasi antara manusia, alam, dan spiritualitas,” ucapnya.
Karena itulah material yang digunakan dalam karya tersebut juga berasal dari alam, seperti kayu, tanah liat, dan tali-tali, yang semuanya menyatu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Setiap bagian dalam karya ini memiliki makna masing-masing.
Pada bagian atas terdapat dua kendi, dengan bentuk yang mengerucut dari bawah ke atas. Melambangkan tingkatan-tingkatan kehidupan yang harus terus dijaga keseimbangannya.
“Pada bagian paling atas juga terdapat bentuk rumah, atap, kendi, dan pelepah sagu yang merepresentasikan tiga unsur utama kehidupan yaitu manusia, alam, dan spiritual. Kami melihat ketiganya saling terhubung dan saling menopang dalam satu kesatuan kehidupan,” ujarnya.
Sementara itu, profesi visual artist seniman Alberto Wanma mengatakan, karya yang dihasilkan berangkat dari tema “Nafas Kehidupan”. Nafas dimaknai bukan sekadar sebagai aktivitas biologis, juga sebagai tanda kehidupan yang dapat diartikan ke dalam bentuk visual.
“Salah satu objek utama yang digunakan adalah sungai, yang dipahami sebagai nafas alam,” kata Wanma.
Ia mengatakan, dari cerita masyarakat dan seniman lokal tentang aliran air dari Pegunungan Cycloop, mengalir ke danau dan menopang kehidupan manusia di sekitarnya.
Cerita tersebut divisualisasikan dalam bentuk instalasi yang menggambarkan siklus air dari gunung, ke danau, lalu mengalir ke sungai yang disebut masyarakat sebagai jalur pembuangan terakhir.
“Instalasi tersebut berbentuk bangunan menyerupai rumah, yang merepresentasikan tiga tingkatan kehidupan, yakni spiritual, alam, dan manusia,” ucapnya.
Menurutnya, pada bagian paling bawah yaitu manusia yang digambarkan kembali menyatu dengan air sebagai bagian dari siklus kehidupan itu sendiri.
Rumah dimaknai sebagai seorang perempuan atau ibu yang merupakan simbol dari sumber kehidupan. Di bagian atas instalasi, terdapat dua gerabah berisi air yang mengalir ke bawah, menyerupai air susu ibu yang menghidupi.
“Selain itu tubuh-tubuh manusia yang dialiri air melalui pipa transparan menjadi bagian dari cerita visual karya tersebut,” ujarnya.
Karya ini juga mengekspresikan sikap kritis terhadap kerusakan lingkungan. Ada pelepah sagu yang membentuk timbangan dengan wajan di kedua sisinya.
Ini dimaknai sebagai kritik terhadap aktivitas pertambangan yang marak di sekitaran Kampung Yokiwa, sekaligus refleksi atas peran sungai sebagai penyeimbang ekosistem danau.
“Bagi masyarakat di sini, sungai adalah penjaga keseimbangan. Kalau airnya berubah, dampaknya langsung dirasakan manusia dan alam. Karena itu sungai disebut sebagai nafas,” katanya.
Melalui seni instalasi ini, para seniman membuat objek-objek yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, sebagai simbol dan tanda.
Objek-objek tersebut disusun layaknya abjad yang membentuk sebuah kalimat visual. Tentang kegelisahan, pengalaman, dan cara masyarakat Kampung Yokiwa merespons realitas lingkungan dan kehidupan mereka. (*)











Discussion about this post