Jayapura, Jubi – Anak-anak di Kampung Yokiwa, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua belajar seni dengan pendekatan alam dan budaya lewat residensi yang bertema bahasa Sentani “Wali no” atau nafas kehidupan yang digelar Alyakha Art Center selama sepekan di kampung itu.
Ketua Alyakha Art Center, Markus Rumbino mengatakan residensi kali ini berbeda dari sebelumnya. Pada residensi sebelumnya, para seniman yang diundangan datang dengan gagasannya. Kali ini proses penciptaan karya lahir dari perjumpaan langsung dengan masyarakat, dan realitas yang terjadi di Kampung Yokiwa.
Katanya, ada beragam karya instalasi yang direpresentasikan dengan membuat simbol-simbol tradisi, sekaligus refleksi atas kerusakan lingkungan di wilayah Danau Sentani.
Selain instalasi, residensi ini juga menampilkan pertunjukan dari anak-anak Sanggar Nafas Danau Sentani yang memainkan tarian folklor akhoykoy.
Folklor tersebut menyimpan nilai-nilai ekologis dan kisah hubungan manusia dengan alam yang hingga kini masih relevan.
Dalam folklor itu diceritakan bagaimana manusia pada masa lalu menjaga kedekatan dengan alam melalui ritual dan kepercayaan terhadap kekuatan alam.
Keyakinan bahwa keharmonisan hidup hanya dapat tercipta jika relasi manusia dan alam dijaga dengan baik. Sebaliknya, kerusakan pada suatu unsur akan berdampak luas pada kehidupan.
“Selain pertunjukan folklor, anak-anak juga menghasilkan karya kolase dan patung dari tanah liat. Proses belajar ini dilakukan tanpa metode formal seperti di sekolah,” kata Rumbino, Sabtu (20/12/2025).
Katanya, seluruh proses berangkat dari budaya dan pengalaman anak-anak sendiri, sehingga mereka lebih mudah menyerap dan menghasilkan karya yang jujur.
Ia mengatakan residensi ini juga menghadirkan karya audio visual dan eksperimen bunyi. Ia bersama anak-anak melakukan eksplorasi suara air dengan menggunakan mikrofon yang dimasukkan ke dalam pipa.
Pendekatan ini bertujuan agar anak-anak belajar tidak hanya melalui sains, tetapi juga melalui bunyi-bunyian di sekitar lingkungan tempat dimana anak tinggal yang menyimpan pengetahuan tersendiri.
“Presentasi karya dalam program ini bukanlah hasil akhir. Fokus utama kami adalah proses belajar berpikir, dan membangun daya pikir kritis anak-anak terhadap lingkungan, identitas budaya, serta kehidupan sehari-hari,” ucapnya.
Anak-anak diajak mencipta karya dengan bahan-bahan alam, sementara penggunaan material dari toko dikurangi, agar proses kreatif tetap berakar pada budaya lokal.
Seni menjadi metode belajar yang efektif karena dalam budaya lokal terdapat kecerdasan yang tidak dimiliki budaya lain. Itulah potensi yang perlu dikembangkan di Papua
“keterlibatan anak-anak usia dini mulai belajar, proses ini diharapkan memperkuat identitas dan jati diri mereka sebagai anak-anak pemilik wilayah adat di Sentani,” ujarnya.
Menurutnya, kedepan Alyakha Art Center berencana mengembangkan program lanjutan yang lebih pada kebutuhan kampung, khususnya dalam bidang pendidikan berbasis seni dan budaya.
Sebab, seni adalah bahasa yang universal. Melalui seni, karakter, empati, dan kreativitas anak-anak dapat tumbuh, sehingga mereka mampu melihat dan menentukan masa depan mereka sendiri.
Sementara itu, salah satu seniman Fasmaqullah mengatakan, ia tidak membawa banyak bahan dari kota sebagai bahan belajar, karena lebih memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar. Seperti kulit kayu, biji-bijian, ranting, daun kering, dan bahan lainnya yang disediakan alam.
“Semua itu kami olah untuk menunjukkan bahwa apa yang ada di lingkungan sekitar sebenarnya bisa digunakan sebagai karya seni,” kata Fasmaqullah.
Menurutnya, pameran ini menjadi bentuk apresiasi terhadap anak-anak, agar anak-anak, orang dewasa, maupun masyarakat umum dapat melihat bahwa hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kalau diolah dengan kreativitas, dapat menjadi karya seni yang bisa dinikmati bersama.
Ia mengatakan, banyak belajar dari anak-anak di Yokiwa. Baik itu secara fisik maupun cara berpikir, karena anak-anak sangat kritis dan memahami betul kondisi lingkungan tempat dimana anak-anak itu hidup.
“Anak-anak benar-benar tahu seperti apa alam dan ruang hidup mereka,” ucapnya.
Katanya, karya yang dihasilkan anak-anak menggunakan teknik kolase atau tempel-menempel, dalam prosesnya bertujuan melatih kemampuan sensorik dan motorik halus anak, mulai dari memegang bahan, memilih warna, hingga menempelkan satu per satu material menggunakan lem.
“Semua itu menjadi bagian penting dari proses belajar mereka.Harapan saya, baik untuk adik-adik maupun untuk Alyakha Art Center, semoga kegiatan seperti ini dapat terus berjalan. Akulturasi dari berbagai budaya sangat memperkaya imajinasi, sudut pandang, dan cara melihat dunia anak-anak,” katanya. (*)











Discussion about this post