Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Seni & Budaya

Anak-anak Kampung Yokiwa belajar seni dengan pendekatan alam

December 21, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Aida Ulim - Editor: Arjuna Pademme
Seni

Anak-anak sedang memainkan tarian akhoykoy pada hari terakhir kegiatan residensi di Kampung Yokiwa, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua Sabtu (20/12/2025).-Jubi/Aida Ulim

Jayapura, Jubi – Anak-anak di Kampung Yokiwa, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Papua belajar seni dengan pendekatan alam dan budaya lewat residensi yang bertema bahasa Sentani “Wali no” atau nafas kehidupan yang digelar Alyakha Art Center selama sepekan di kampung itu.

Ketua Alyakha Art Center, Markus Rumbino mengatakan residensi kali ini berbeda dari sebelumnya. Pada residensi sebelumnya, para seniman yang diundangan datang dengan gagasannya. Kali ini proses penciptaan karya lahir dari perjumpaan langsung dengan masyarakat, dan realitas yang terjadi di Kampung Yokiwa.

RELATED POSTS

Time for Papua : Jejak Orang Asli Papua di komunitas global sejak puluhan ribu tahun lalu ada di Leiden, Belanda

Alyakha Art Center gelar residensi seni ‘Wali No’

Posyadu Kampung Yokiwa rutin melakukan pelayanan kesehatan

Katanya, ada beragam karya instalasi yang direpresentasikan dengan membuat simbol-simbol tradisi, sekaligus refleksi atas kerusakan lingkungan di wilayah Danau Sentani.

Selain instalasi, residensi ini juga menampilkan pertunjukan dari anak-anak Sanggar Nafas Danau Sentani yang memainkan tarian folklor akhoykoy.

Folklor tersebut menyimpan nilai-nilai ekologis dan kisah hubungan manusia dengan alam yang hingga kini masih relevan.

Dalam folklor itu diceritakan bagaimana manusia pada masa lalu menjaga kedekatan dengan alam melalui ritual dan kepercayaan terhadap kekuatan alam.

Keyakinan bahwa keharmonisan hidup hanya dapat tercipta jika relasi manusia dan alam dijaga dengan baik. Sebaliknya, kerusakan pada suatu unsur akan berdampak luas pada kehidupan.

“Selain pertunjukan folklor, anak-anak juga menghasilkan karya kolase dan patung dari tanah liat. Proses belajar ini dilakukan tanpa metode formal seperti di sekolah,” kata Rumbino, Sabtu (20/12/2025).

Katanya, seluruh proses berangkat dari budaya dan pengalaman anak-anak sendiri, sehingga mereka lebih mudah menyerap dan menghasilkan karya yang jujur.

Ia mengatakan residensi ini juga menghadirkan karya audio visual dan eksperimen bunyi. Ia bersama anak-anak melakukan eksplorasi suara air dengan menggunakan mikrofon yang dimasukkan ke dalam pipa.

Pendekatan ini bertujuan agar anak-anak belajar tidak hanya melalui sains, tetapi juga melalui bunyi-bunyian di sekitar lingkungan tempat dimana anak tinggal yang menyimpan pengetahuan tersendiri.

“Presentasi karya dalam program ini bukanlah hasil akhir. Fokus utama kami adalah proses belajar berpikir, dan membangun daya pikir kritis anak-anak terhadap lingkungan, identitas budaya, serta kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Anak-anak diajak mencipta karya dengan bahan-bahan alam, sementara penggunaan material dari toko dikurangi, agar proses kreatif tetap berakar pada budaya lokal.

Seni menjadi metode belajar yang efektif karena dalam budaya lokal terdapat kecerdasan yang tidak dimiliki budaya lain. Itulah potensi yang perlu dikembangkan di Papua

“keterlibatan anak-anak usia dini mulai belajar, proses ini diharapkan memperkuat identitas dan jati diri mereka sebagai anak-anak pemilik wilayah adat di Sentani,” ujarnya.

Menurutnya, kedepan Alyakha Art Center berencana mengembangkan program lanjutan yang lebih pada kebutuhan kampung, khususnya dalam bidang pendidikan berbasis seni dan budaya.

Sebab, seni adalah bahasa yang universal. Melalui seni, karakter, empati, dan kreativitas anak-anak dapat tumbuh, sehingga mereka mampu melihat dan menentukan masa depan mereka sendiri.

Sementara itu, salah satu seniman Fasmaqullah mengatakan, ia tidak membawa banyak bahan dari kota sebagai bahan belajar, karena lebih memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar. Seperti kulit kayu, biji-bijian, ranting, daun kering, dan bahan lainnya yang disediakan alam.

“Semua itu kami olah untuk menunjukkan bahwa apa yang ada di lingkungan sekitar sebenarnya bisa digunakan sebagai karya seni,” kata Fasmaqullah.

Menurutnya, pameran ini menjadi bentuk apresiasi terhadap anak-anak, agar anak-anak, orang dewasa, maupun masyarakat umum dapat melihat bahwa hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari kalau diolah dengan kreativitas, dapat menjadi karya seni yang bisa dinikmati bersama.

Ia mengatakan, banyak belajar dari anak-anak di Yokiwa. Baik itu secara fisik maupun cara berpikir, karena anak-anak sangat kritis dan memahami betul kondisi lingkungan tempat dimana anak-anak itu hidup.

“Anak-anak benar-benar tahu seperti apa alam dan ruang hidup mereka,” ucapnya.

Katanya, karya yang dihasilkan anak-anak menggunakan teknik kolase atau tempel-menempel, dalam prosesnya bertujuan melatih kemampuan sensorik dan motorik halus anak, mulai dari memegang bahan, memilih warna, hingga menempelkan satu per satu material menggunakan lem.

“Semua itu menjadi bagian penting dari proses belajar mereka.Harapan saya, baik untuk adik-adik maupun untuk Alyakha Art Center, semoga kegiatan seperti ini dapat terus berjalan. Akulturasi dari berbagai budaya sangat memperkaya imajinasi, sudut pandang, dan cara melihat dunia anak-anak,” katanya. (*)

Tags: Kampung YokiwaPendekatan AlamSeniWali No
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

Kampung Yobeh
Mamta

Masyarakat Kampung Yobeh sambut wisatawan mancanegara dengan atraksi budaya

April 16, 2026
Topeng roh Doro
Headline

Time for Papua : Jejak Orang Asli Papua di komunitas global sejak puluhan ribu tahun lalu ada di Leiden, Belanda

February 26, 2026
Bahasa Daerah
Mamta

Penerapan perda bahasa daerah di Tanah Papua sebagai upaya melindungi identitas OAP

February 9, 2026
Seni
Seni & Budaya

Kolaborasi para seniman lahirkan karya makna air dalam kehidupan

December 21, 2025
residensi seni
Seni & Budaya

Alyakha Art Center gelar residensi seni ‘Wali No’

December 16, 2025
Kabupaten Jayapura
Mamta

Dewan Kesenian Tanah Papua Kabupaten Jayapura gelar musda ke-V

December 9, 2025

Discussion about this post

Recommended Stories

KPKC

Pentingnya pendidikan non litigasi bagi anggota KPKC di Klasis Port Numbay

June 11, 2022
Biak

RI-Jepang tandatangani pengembangan pelabuhan perikanan senilai Rp1,6 triliun

December 25, 2024
KPK

KPK sebut pengacara LE sengaja menghalangi proses penyidikan

May 23, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara