Jayapura, Jubi – Komunitas seni rupa Alyakha Art Center menggelar residensi seni bertema bahasa Sentani ‘Wali No’ atau nafas kehidupan. Residensi seni ini digelar di Kampung Yokiwa, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, Senin (15/12/2025) hingga Sabtu (20/12/2025).
Residensi ini melibatkan kolaborasi antara seniman muda Papua, dengan anak-anak Sanggar Nafas Danau Sentani.
Ketua Alyakha Art Center, Markus Rumbino mengatakan program residensi ini berangkat dari kosmologi masyarakat adat Sentani yang memaknai aliran Sungai Itauwifili sebagai nafas kehidupan Danau Sentani. Pemahaman tersebut diwariskan secara turun-temurun melalui cerita rakyat atau folklore akhoykoy.
Menurutnya, melalui program ini Alyakha Art Center membuka ruang dialog antara tradisi dan praktek seni kontemporer, serta menjadi salah satu upaya merawat pengetahuan lokal untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya masyarakat adat di wilayah Kenambai Umbai.
“[Kegiatan] uni berangkat dari kepercayaan masyarakat adat Kampung Yokiwa yang percaya Sungai Itaufili sebagai simbol penting keseimbangan ekologi Danau Sentani,” kata Markus Rumbino.
Katanya, Sungai Itaufili memiliki peran penting sebagai penyeimbang debit air Danau Sentani, khususnya dalam mengalirkan air dari danau menuju laut.
Selain itu, keberadaan sungai ini tidak hanya penting secara ekologis, juga memiliki nilai budaya dan kosmologis bagi masyarakat adat Sentani.
“Dalam program ini kami melibatkan sejumlah seniman lintas daerah, diantaranya Albertho Wanma, serta Fasmaqullah, seniman asal Kalimantan yang aktif berkarya dan mengembangkan pendidikan seni untuk anak-anak di Yogyakarta. Ada juga seniman lokal Sentani Agus Ohe,” ujarnya.
Dalam program tersebut para seniman berkolaborasi dengan anak-anak di Sanggar Nafas Danau Sentani, serta Rumah Baca Kampung Yokiwa. Puncak acara akan diisi presentasi dan pameran karya seni, serta pertunjukan folklor akhoykoy.
“Folklor akhoykoy menyimpan nilai-nilai ekologis dan sejarah masyarakat adat Sentani, termasuk kisah Sungai Itaufili, suara alam, dan burung-burung yang dipercaya menyampaikan pesan kehidupan. Nilai-nilai tersebut masih relevan dalam konteks kehidupan modern saat ini,” ucapnya.
Katanya, karya-karya yang dihasilkan dalam residensi ini memanfaatkan bahan-bahan organik dari alam, serta limbah plastik yang ditemukan di danau maupun daratan.
Program ini diharapkan menjadi ruang refleksi, sekaligus ekspresi kegelisahan generasi muda Kampung Yokiwa terhadap kondisi lingkungan dan masa depan budaya masyarakat.
Sementara itu, profesi visual artist seniman, Alberto Wanma mengatakan Alyakha Art Center secara konsisten telah menghadirkan seniman dari berbagai latar belakang, untuk berkreasi bersama, khususnya dengan seniman muda setempat.
Katanya, kegiatan tersebut memperluas wawasan seni rupa, dengan menghubungkan pengalaman seni tradisi lokal dengan perkembangan seni kontemporer, yang berkembang di luar daerah, sehingga memiliki perspektif yang lebih luas.
“Dengan kolaborasi seperti ini, bisa menciptakan komposisi yang seimbang antara praktik penciptaan karya dan kajian seni. Sekitar satu minggu [kami] akan mendampingi para peserta dalam menggali dan mengolah potensi seni yang mereka miliki,” kata Alberto Wanma.
Menurutnya, sekitar 80 persen karya yang dihasilkan berasal dari para peserta lokal, sementara peran seniman hanya mendorong proses eksplorasi dan pengembangan ide.
Karya yang akan dirumuskan bersama peserta direncanakan berbentuk instalasi seni visual. Karya tersebut akan mengangkat tema siklus hidup masyarakat Sentani secara umum, dan secara khusus kehidupan di Kampung Yokiwa.
“Proses pengkaryaan akan melibatkan berbagai kelompok usia, yang dibagi berdasarkan pertimbangan teknis dan kemampuan fisik,” ucapnya.
Menurutnya, untuk peserta usia anak-anak lebih difokuskan pada mewarnai, menggambar, serta pengenalan simbol dan motif yang berasal dari lingkungan Kampung Yakiwa.
Sementara itu, kelompok remaja hingga dewasa akan terlibat dalam kerja-kerja seni yang lebih menggunakan aktivitas fisik.
Ia berharap keberadaan seniman dan kegiatan seni seperti ini dapat terus hadir karena seniman memiliki kepekaan terhadap fenomena alam dan sosial yang seringkali luput dari perhatian masyarakat umum, sehingga berperan penting dalam merawat kesadaran akan hubungan manusia dengan alam dan lingkungannya.
“Kegiatan kali ini saya harapkan menjadi penyegar sekaligus penguat dari proses yang sudah berjalan, agar tetap tumbuh, terawat, dan semakin kuat ke depannya,” katanya. (*)











Discussion about this post