Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Seni & Budaya

Warga Kampung Tua Depapre rencanakan gelar Tiyatiki, upacara tutup laut

June 30, 2024
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Dominggus Mampioper - Editor: Syam Terrajana
Tiyatiki

 Laut di Teluk Tanah Merah, Depapre- Jubi/christ Ansaka/nieuwguinea.co

Jayapura, Jubi- Masyarakat adat di Kampung Tablasufa, alias Kampung Tua (Bitoyo) hendak melakukan kembali tradisi tutup laut, atau dalam bahasa lokal Depapre disebut Tiyatiki.

“Iya masyarakat sudah merencanakan untuk kembali lagi mengaktifkan Tiyatiki di lokasi Kampung Tua, Bitoyo,”kata Amos Sumaliena kepada Jubi,  di Jayapura pekan lalu.

RELATED POSTS

Pembangunan di Papua Tengah mesti berbasis kearifan lokal

Masyarakat adat dan warga lokal, adalah benteng terakhir menjaga konservasi

Jejak tukik, patung penginjil, dan harapan warga Yewena-Doromena

“Saya sudah dengar warga mau bikin Tiyatiki di Kampung Tua tapi sekarang belum ada informasi lebih lanjut. Saya harap segera terlaksana,”kata tokoh adat yang juga pengacara itu.

Era 1990 an tepatnya pada Oktober 1999 turis dari Jepang sempat ikut dalam upacara buka sasi Tiyatiki di Kampung Bitoyo.

Sebenarnya sejak 1999 sampai dengan era 2018-2019 , upacara Tiyatiki di pesisir Kampung Tablasufa telah beberapa kali dilaksanakan. Tradisi ini telah berlaku sejak nenek moyang.

Tiyatiki sendiri sangat penting bagi masyarakat di Tablasufa karena bertujuan  pertama, menjaga dan melestarikan nilai-nilai adat yang berlaku dalam masyarakat adat suku Tepera khususnya Kampung Tablasufa. Kedua, mengingatkan  generasi muda agar tradisi Tiyatiki harus dilanjutkan dari generasi ke generasi.

Ketiga,  melindungi sumber daya laut yang hampir punah alias rusak karena peristiwa alam maupun perbuatan manusia dalam menangkap ikan, teripang dan lobster dengan memakai bahan perusak, bahan peledak, obat bius dan akar tuba.

“Jadi upacara Sasi atau Tiyatiki di Kampung Tablasufa ini telah dilaksanakan sejak nenek moyang untuk melindungi potensi sumber daya alam laut terutama habitatnya dan ekosistem,”kata   mantan pengurus adat Deponsero Utara di wilayah Depapre itu.

Apa itu tradisi Sasi ?

Pelaksanaan upacara adat berupa larangan terhadap penangkapan  ikan, bia, teripang dan lobster di dalam suatu areal tertentu selama beberapa waktu,  merupakan salah satu model konservasi trasional di tanah Papua. Sasi sendiri memang berasal dari Maluku yang artinya melarang warga mengambil (tutup) lokasi tertentu selama beberapa waktu yang ditentukan dan akan dibuka kembali untuk warga.

“Biasanya dalam acara tutup sasi atau Tiyatiki harus melalui upacara, zaman sekarang biasanya pendeta yang berdoa dalam buka maupun tutup sasi,”kata JR Mansoben.

Menurut JR Mansoben, MA antroplog dari Unversitas Cenderawasih,  di tanah Papua tradusu sasi dikenal luas. Mulai   dari Kabupaten Raja Ampat, Fakfak, Kaimana sampai dengan di teluk Cenderawasih termasuk Kabupaten Teluk Wondama, Biak Numfor sampai ke Sarmi.   Mereka semua mengenal tradisi sasi ini dengan nama yang berbeda beda.  Tetapi fungsinya sama, yaitu menjaga agar habitat dan ekosistem selalu lestari dari generasi ke generasi.

Misalnya masyarakat di Teluk Depapre mengenal tradisi sasi dengan sebutan Tiyatiki, warga Suku Matbat di Pulau Misool mengenal tradisi pelarangan ini adalah, Samsom, sedangkan di Fakfak disebut Rojaha dan di Kaimana Suku Mairasi disebut Gama.

“Meskipun namanya berbeda beda tetapi fungsinya sama yaitu menjaga dan melindungi sumber daya alam laut, habitat dan ekosistem. Mungkin lebih tepatnya model konservasi tradisional suku-suku di tanah Papua,”kata Mansoben.

Sementara itu Yunus Paulangan, Ketua Pusat Studi Sumberdaya Kelautan dan Perikanan [PS2KP] Universitas Cenderawasih mengatakan Tiyatiki terbagi dua, yakni umum dan khusus.

Dia mengatakan Tiyatiki Umum itu adalah penutupan area oleh pemiliki ulayat atau suku klan, sedangkan Tiyatiki khusus hanya untuk pemilik keluarga atau klan atau marga tertentu saja.

Selanjutnya kata dia untuk penentuan areal lokasi Tiyatiki biasanya ditentukan berdasarkan dua indikator antara lain, keberadaan ikan target dan hak ulayat komunitas atau keluarga.

Tantangan kini dan ke depan lanjut peneliti perikanan dari FMIPA Uncen itu,  adalah kondisi terumbu karang di kawasan tersebut, khususnya di Depapre, mengalami degradasi.

Padahal ekosistem terumbu karangnya besar dan bervariasi, relatif asli. Di saat bersamaan, pengaruh luar masuk ke kampung, memperkenalkan praktik pengambilan ikan dengan cara merusak seperti menggunakan bom dan akar tuba.

“Kerusakan lain disebabkan kegiatan wisata bahari seperti snorkeling dan diving yang kurang profesional serta pemasangan jangkar oleh nelayan,” kataYunus Paulangan dalam penelitian terbarunya “Distribution and condition of coral reef ecosystem in Tanah Merah Bay, Jayapura, Papua, Indonesia” tahun 2019.

Selain itu, ancaman lain adalah pengembangan kawasan Teluk Depapre sebagai pelabuhan kontainer,   dikhawatirkan pula akan berpengaruh terhadap populasi ikan akibat rusaknya terumbu karang oleh  aktivitas bongkar muat dan lainnya.(*)

 

Tags: Kampung TablasufaKearifan LokalKonservasiTiyatikiUpacara adat
ShareTweetSendShareShare
Syam Terrajana

Syam Terrajana

Related Posts

Kampung Yobeh
Mamta

Masyarakat Kampung Yobeh sambut wisatawan mancanegara dengan atraksi budaya

April 16, 2026
Topeng roh Doro
Headline

Time for Papua : Jejak Orang Asli Papua di komunitas global sejak puluhan ribu tahun lalu ada di Leiden, Belanda

February 26, 2026
Bahasa Daerah
Mamta

Penerapan perda bahasa daerah di Tanah Papua sebagai upaya melindungi identitas OAP

February 9, 2026
Seni
Seni & Budaya

Anak-anak Kampung Yokiwa belajar seni dengan pendekatan alam

December 21, 2025
Seni
Seni & Budaya

Kolaborasi para seniman lahirkan karya makna air dalam kehidupan

December 21, 2025
residensi seni
Seni & Budaya

Alyakha Art Center gelar residensi seni ‘Wali No’

December 16, 2025

Discussion about this post

Recommended Stories

DOB

DOB berikan ruang OAP menduduki jabatan struktural

July 20, 2022
Yapen

Seleksi DPRK Kepulauan Yapen Mekanisme Pengangkatan diproses di tingkat distrik

October 6, 2024
keamanan

Keamanan berperan penting dalam pertumbuhan pariwisata

April 21, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara