Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

Kisah pengungsi di Tanah Papua yang tak kunjung diselesaikan

November 21, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Aida Ulim - Editor: Arjuna Pademme
Pengungsi

Cerita situasi pengungsi Maybrat dan Nduga pada Festival Literasi dan Resiliensi Merawat Ingatan Melalui Kata di, Kota Jayapura Papua Kamis (20/11/2025).-Aida Ulim

Jayapura, Jubi – Yarti Gwijangge, salah seorang perempuan asal Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan yang mengungsi ke daerah Ilekma, Kabupaten Jayawijaya, ibu kota Provinsi Papua Pegunungan menceritakan bagaimana awal ia bersama ribuan warga Nduga meninggalkan tanah kelahiran mereka.

Kisah itu diceritakan Yarti Gwijangge saat menjadi Narasumber pada Festival Literasi dan Resiliensi ‘Merawat Ingatan Melalui Kata’, yang diselenggarakan Dewan Gereja Papua bekerja sama dengan Pusat Studi HAM Sosial dan Pastoral Pastoral STT Walter Post Jayapura di Kota Jayapura, Papua, Jumat (21/11/2025).

RELATED POSTS

Dewan Gereja Papua: Ada 107.000 pengungsi internal di Tanah Papua

DPRK salurkan bantuan untuk pengungsi asal Puncak di Mimika

Pemerintah tidak serius urus pengungsi konflik bersenjata Papua

Yarti Gwijangge berkisah, ketika itu konflik pecah di Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Sabtu (1/12/2018). Orang-orang berhamburan keluar rumah, meninggalkan kampung mereka.

Banyak dari warga sipil lari ke hutan, tinggal di goa-goa, dan lainnya mencari selamat ke Kota Kenyam, ibu kota Nduga. Ada pula yang menyelamatkan diri ke kabupaten tetangga seperti Lanny Jaya, Timika, Jayawijaya, hingga Jayapura.

“Mereka tinggal bersama di rumah sederhana, yang menampung lima hingga enam kepala keluarga. Mereka tidak baik-baik saja banyak yang mengalami kematian,” kata Yarti Gwijangge.

Katanya, di lokasi pengungsian, para pengungsi asal Kabupaten Nduga kesulitan mempertahankan hak-hak hidupnya. Mereka tak punya akses pangan, pakaian, kesehatan, dan pendidikan.

Yanti Gwijangge bersama relawan lainnya pun perlahan membangun jejaring, salah satunya dengan STT Walter Post Jayapura yang membantu pakaian layak pakai, bahan pangan, dan alat-alat tulis.

Sejak pertengahan 2019, Yarti Gwijangge membuka sekolah di rumahnya. Membagi ruangan menjadi beberapa kelas.

“Kita tidur di tempat yang sama. Siang adalah waktu belajar. Saya cuma ingin anak-anak tidak ketinggalan pendidikan,” ucapnya.

Sementara itu, Lami Faan Pengungsi asal Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, juga berkisah tentang kehidupan para pengungsi wilayahnya.

Katanya, lima tahun berselang, konflik bersenjata pecah di Kabupaten Maybrat. Pasukan Tentara Nasional Indonesia atau TNI menempati di rumah -rumah milik masyarakat sipil sejak 2023. Gedung sekolah dijadikan pos militer, rumah warga diawasi dan Kebun-kebun dijaga ketat, seakan-akan itu milik mereka.

“Kalau kita jalan ke kebun, militer pasti tanya kita bikin apa. Kami hidup dalam teror dan kekuatan,” kata Lami Faan.

Lami Faan, kini tinggal di Sorong, ibu kota Provinsi Papua Barat untuk sementara waktu. Menurutnya persoalan yang dihadapi warga Maybrat sama seperti situasi di Kabupaten Nduga.

Masyarakat sipil terpaksa meninggalkan kampungnya, bertahan di hutan-hutan dan pergi tinggal di kota. Hidup di tanah yang bukan milik mereka, membuat para pengungsi semakin rentan.

“Di kota, mereka bisa berkebun tapi sulit menjual karena dianggap merebut lahan pencaharian milik warga lama. Jadi mereka hanya bisa titip jual. Nanti bagi hasil dengan orang ia titip jualannya,” ucapnya.

Masalah kesehatan menjadi sesuatu yang sulit bagi pengungsi di kota maupun di hutan. Tinggal jauh dari permukiman dan akses kesehatan yang sulit, membuat pengungsi seringkali gagal melanjutkan pengobatannya saat sakit.

“Ada ibu hamil yang melahirkan di tengah jalan. Ada yang anaknya meninggal dalam kandungan,” ujarnya.

Pengungsi yang berada di Kota pun sama. Meski dekat dengan layanan kesehatan seperti rumah sakit, Puskesmas atau klinik, akan tetapi merek terkendala masalah administrasi. Pihak layanan kesehatan memprioritaskan masyarakat yang terdaftar sebagai penerima manfaat BPJS.

“Tanpa kartu BPJS, mereka harus membayar. Akibatnya banyak yang memilih berdiam di rumah meski sakit. Tidak sedikit berujung pada kematian, antara bulan Oktober hingga November ini, ada 7 atau 8 orang meninggal, berturut-turut,” kata Lami Faan.

Situasi yang dihadapi para pengungsi Maybrat itu membuat Lami Faan dan kawan-kawan perempuannya membentuk komunitas bernama Perempuan Seberang Jalan.

Komunitas ini berefleksi bahwa peran perempuan pengungsi dalam situasi konflik bersenjata amat besar. Perempuan adalah benteng bagi komunitas dan keluarga, lantaran pihak aparat selalu memburu para laki-laki yang lebih erat dengan pelabelan bagian dari TPNPB-OPM.

“Saat berkumpul dalam komunitas, Ada roh-roh yang bangkit. Kita harus cari tempat lebih aman, cari jalan. Perempuan yang cari kayu bakar, cari sayur. Perempuan jadi pagar melindungi suami, anak-anak, dan saudara laki-laki.”

Ia menyampaikan sikap resiliensi secara personal yang muncul dari perenungannya adalah ketidak percayaannya kepada skema kelembagaan yang ditawarkan negara. Misalnya, Komnas HAM, yang berulang kali datang dan membungkus dirinya untuk mempedulikan situasi pengungsian.

Namun hasilnya nihil, Komnas HAM melapor kepada pihak pemerintah pusat bahwa pengungsi sudah kembali ke kampungnya masing-masing, itu hanya untuk menandakan situasi sudah kembali aman.

“Saya juga mengkritik sikap Gereja Katolik yang secara institusional tidak menerangkan isu pengungsi internal di Tanah Papua, meski para korbannya adalah umat mereka dan pos-pos militer yang dibangun di atas gedung sekolah milik yayasan Katolik,” kata Faan. (*)

Tags: Festival Literasi dan ResiliensiKisah PengungsiPengungsiYarti Gwijangge
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

Hak Perempuan dan Anak
Perempuan dan Anak

Hak perempuan dan anak korban kekerasan dibahas dalam seminar KUHP

April 25, 2026
perempuan Papua yang terdampak konflik bersenjata
Perempuan dan Anak

Negara didesak penuhi keadilan bagi perempuan terdampak konflik bersenjata

April 23, 2026
Puncak
Polhukam

Perempuan KINGMI: Negara mesti bertanggungjawab dalam peristiwa Puncak

April 22, 2026
Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Dewan Gereja Papua
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

April 22, 2026
Pengungsi
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Ada 107.000 pengungsi internal di Tanah Papua

April 21, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Covid-19, RSUD Abepura

RSUD Abepura diminta percepat pembayaran insentif Covid-19

December 20, 2023
Bendungan Sadawarna

Jokowi resmikan Bendungan Sadawarna di Subang

December 27, 2022
Pelabuhan Jayapura, Pas Masuk Pelabuhan

Pelabuhan Jayapura uji coba pembayaran pas masuk pelabuhan dengan e-money 

December 10, 2024

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara