Jayapura, Jubi – Sekretaris Jenderal Dewan Adat Papua atau DAP, Leonard Imbiri mengatakan perayaan hari Masyarakat Adat Internasional, bertujuan membangkitkan kesadaran semua pihak, masyarakat adat itu pemilik tanah dan sumber daya alamnya. Karena itu masyarakat adat harus diakui, dilindungi dihormati di atas tanahnya sendiri.
“Hari Masyarakat Adat Internasional ini untuk mengingatkan kita masyarakat adat Papua adalah pemilik tanah dan sumber daya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu kita tidak boleh menjual tanah dan hak-hak adat kita kepada orang lain. Jangan pernah jual tanah seperti kacang goreng,” kata Imbiri dalam sambutan perayaan hari Masyarakat Adat Internasional, di halaman Museum Loka budaya Universitas Cenderawasih atau Uncen, di Kota Jayapura, Papua, Jumat (9/8/2024).
Imbiri mengatakan, masyarakat adat harus berjuang supaya negeri yang penuh dengan kekacauan konflik ini, kelak menemukan keadilan. Perdamaian dirasakan oleh orang-orang yang hidup di tanah ini. Ia menjelaskan, sampai hari ini masyarakat adat mengungsi dari tanah airnya sendiri.
“Kita punya kekayaan sumber daya kita yang melimpah ruah, tetapi dengan rakus orang banyak eksploitasi hak masyarakat adat atas tanah sumber dayanya. Oleh karena itu suaramu, suara kita semua dibutuhkan untuk selalu mendengungkan hak kita. Jangan membisu, jangan berdiam, tapi kita yang ada ini mulai bersuara maka suara kita akan terdengar dan orang lain akan diajak,” katanya.
Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi Papua, Maikel Primus Peuki mengatakan anak muda Papua itu sebagai pewaris dan penentu secara adat untuk tanah Papua dan masyarakat adat Papua.
“Sebagai generasi muda, pewaris dan penentu bahwa bagaimana jadinya Tanah Papua ke depan kita pewarisnya, dan bagaimana jadinya ke depan Tanah Papua kita penentunya,” kata Peuki.
Ia mengutip suatu pernyataan, jika kita tidak tahu apa yang kita punya, sementara orang lain tahu apa yang kita punya, maka kita sudah mulai terjajah. Ketika kita merasa nyaman dan tidak melakukan upaya-upaya untuk melawan dan mengambil hak-hak kita, maka kita akan menjadi antek dari penjajah.
“Dari pernyataan ini kita anak muda harus mengambil sikap, menjadi pewaris dan penentu itu kembali kepada diri kita dengan gerakan kita. Upaya kita terlebih pada persatuan dan perjuangan kita tetap melihat pada pentingnya masyarakat adat Papua dan juga sumber daya alam tapi juga hutan yang kita miliki,” katanya. (*)











Discussion about this post