Sentani, Jubi – Jurnalis Jubi, Aida Nursanti Ulim mengungkapkan salah satu tantangan jurnalis perempuan di Papua untuk mengangkat isu perempuan adalah keterbatasan akses, karena luas wilayah.
Aida Ulim mengatakan, situasi inilah yang menyulitkan jurnalis menemui atau mendapatkan narasumber, untuk menulis isu perempuan.
Ini disampaikan Aida Ulim saat membagikan pengalamannya sebagai jurnalis perempuan dalam diskusi peluncuran Kabar Perempuan dan Microsite Perempuan Timur yang diselenggarakan secara hybrid (offline dan virtual), Kamis (12/2/2026).
Menurut Aida Ulim, banyak masalah atau isu perempuan di Tanah Papua yang bisa ditulis. Namun keterbatasan akses menjadi tantangan tersendiri. Selain itu, sangat sedikit narasumber perempuan yang bersuara.
“Kami terbatas dalam akses [terutama] biaya. Apalagi biaya ke luar [daerah] sangat mahal [karena sebagian besar wilayah di Tanah Papua hanya bisa dijangkau dengan transportasi udara]. Lalu, di Papua, khususnya Jayapura, kita mau menulis tentang isu-isu perempuan, narasumber yang mau bicara tentang isu perempuan itu agak susah,” kata Aida Ulim.
Katanya, sejak beberapa tahun lalu di sejumlah kabupaten di Tanah Papua ada warga pengungsi akibat konflik bersenjata antara aparat keamanan dan kelompok pro kemerdekaan Papua.
Dalam situasi ini perempuan menjadi rentan. Namun isu-isu perempuan di daerah rawan konflik dan pengungsian hampir tidak pernah diberitakan oleh media.
“Saya sebagai jurnalis, saya rasakan banyak masalah di [Tanah] Papua, apalagi konflik bersenjata, kami belum mengangkat secara luas masalah perempuan [dampak dari konflik bersenjata] di Tanah Papua karena lokasinya jauh,” ucapnya.
Katanya, di Tanah Papua butuh waktu untuk mendapatkan narasumber yang mau berbicara terkait isu perempuan. Keterbukaan narasumber dalam memberikan informasi juga menjadi salah satu tantangan.
“Di [Tanah] Papua banyak isu yang bisa ditulis, tapi paling banyak yang dilihatnya yaitu terkait isu politik. Sedangkan, isu perempuan masih kurang. Kebanyakan media-media masih banyak yang menulis pada umumnya isu politik, ekonomi, dan lainnya, tapi kalau untuk isu perempuan kayaknya masih kurang sekali,” ucapnya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi Terasmaluku.com, Insany Syahbarwaty mengatakan pada umumnya di Indonesia Timur, dari 10 narasumber perempuan mungkin hanya satu yang mau berbicara tentang isu perempuan.
Insany mengatakan untuk menemukan narasumber yang berkapasitas, perlu meyakinkan narasumber agar narasumber percaya diri, membangun trust, dan berjejaring.
Katanya, apabila dapat membangun kepercayaan narasumber terhadap jurnalis, dikemudian hari narasumber akan percaya diri dan berani berbicara.
“Saya butuh berhari-hari untuk meyakinkan narasumber untuk membangun kepercayaan dirinya, untuk berani bicara tentang isu sensitif kepada masyarakat. Saya pepetin terus, lalu kesempatan ngobrol, saya nge-lead dia, akhirnya dia berani bicara. Kemudian, saya menulisnya dengan jurnalisme sastrawi yang bahasanya soft dan enak untuk dibaca. Saya kirim ke dia, [ia bilang] kok statement saya jadi bagus begini,” kata Insany. (*)











Discussion about this post