Jayapura, Jubi – Dinamika jurnalisme di Papua berselimut tantangan berlapis bagi para pelakunya, tak terkecuali para jurnalis perempuan. Profesi jurnalis menuntut keberanian fisik sekaligus ketahanan mental dalam menghadapi stigma gender dan risiko keselamatan di lapangan.
Realita sering kali lebih keras dari apa yang terlihat di layar kaca. Bagi jurnalis perempuan di Papua, profesi yang diembannya tak cuma soal mencari berita, tapi bagaimana upaya menjaga diri dan menyiapkan mental setiap hari.
Masih ada anggapan bahwa perempuan lebih aman bekerja di balik meja. Stigma itu membuat mereka harus bekerja keras untuk membuktikan kalau mereka punya nyali dan kemampuan yang setara dengan jurnalis laki-laki. Belum lagi soal ancaman di dunia maya, wartawan perempuan kerap menjadi sasaran doxing atau perundungan siber (cyber bullying).
Meski kerap mendapati tantangan dan harus bergulat dengan stigma, masih ada semangat yang masih terus membara dalam nadi jurnalis perempuan di Papua. Jubi coba mengulas para perempuan tangguh lintas generasi di Papua yang bekerja di balik layar, menyuarakan kabar dari ujung pena.
Panggilan jiwa
Diwawancarai Jubi pada Minggu (8/2/2026), Cornelia Mudumi, Ketua Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Papua menuturkan jurnalisme adalah panggilan moral untuk bekerja dengan nurani dan tanggung jawab publik. Sebagai jembatan antara masyarakat dan pengambil kebijakan, jurnalis memiliki tugas memperjuangkan keadilan sosial, terutama bagi kelompok rentan.
“Bagi saya, wartawan bukan hanya profesi, tetapi panggilan moral untuk bekerja dengan nurani, akal sehat, dan tanggung jawab publik. Ketertarikan menjadi wartawan [berawal] dari keinginan untuk menyuarakan kebenaran dan menghadirkan realitas yang sering luput dari perhatian publik,” kata perempuan asli Papua itu yang sudah 15 tahun menjadi jurnalis.
Hendrina Dian Kandipi, Kepala Biro Antara Papua, juga merefleksikan profesi jurnalis sebagai “panggilan jiwa”. Ia memulai perjalanannya sebagai kuli tinta sejak 2007. Bagi Dian, jurnalistik merupakan muara dari kegemarannya dalam menulis, membaca, dan berbicara.
“Saya merasa jurnalistik adalah satu-satunya profesi yang mampu mengakomodasi semua kegemaran tersebut dalam satu wadah kerja yang dinamis,” kata jurnalis perempuan Papua yang akrab disapa Dian itu.

Odeodata Julia Vanduk, jurnalis perempuan yang telah aktif sejak 1999 silam, punya persepsi berbeda. Ia menyebut jurnalisme merupakan proses seleksi alam yang menguji konsistensi seseorang di lapangan.
Ia mencatat, integritas profesional menjadi pembeda antara jurnalis yang mendedikasikan diri pada kebenaran dengan mereka yang hanya menjadikan profesi ini sebagai batu loncatan karier.
“Saya menjadi wartawan dimulai dari Harian Cenderawasih Pos, kemudian pernah di Harian Papua Pos, dan Harian Sore Nasional Sinar Harapan. Awalnya tidak pernah terpikir akan menjadi seorang jurnalis. Namun akhirnya profesi ini lama-lama membuat saya jatuh cinta dan bertahan sampai saat ini, menjadi seorang jurnalis yang masih aktif turun di lapangan,” ujar Julia.
Berbeda dengan para seniornya yang sudah puluhan tahun melintang, Putri Nurjannah Kurita, jurnalis perempuan Papua yang kini bekerja di media Tribun Papua, mengawali perjalanannya dari ketidaksengajaan. Ia mengaku awalnya sama sekali tidak tertarik dengan profesi ini, namun sebuah kesempatan mengikuti fellowship Econusa tahun 2021 telah mengubah jalan hidupnya.
”Perjalanan saya dimulai saat mendapat tawaran menulis untuk media online lokal, Papua Unik. Setelah mengirimkan tulisan pertama, redaktur menilai karya saya bagus dan potensial,” kenang Putri.
Sejak idenya tentang isu lingkungan lolos dan ia mulai dibimbing menyusun laporan ekologi, Putri menyadari bahwa menulis adalah hal yang menyenangkan. Ia pun mulai berani meminta redakturnya untuk diturunkan dan meliput langsung ke lapangan. Namun, realita lapangan di Papua segera memberikan ujian baginya.
”Menjadi wartawan perempuan di Papua memiliki tantangan luar biasa. Jika hanya meliput pemerintahan, situasinya cenderung aman. Namun, ceritanya berbeda saat saya harus meliput aksi demonstrasi. Saya harus berlari ke sana kemari dan sangat waspada untuk mengamankan diri ketika situasi mulai chaos,” jelasnya.
Suka dan duka di Lapangan
Bekerja di wilayah dengan dinamika sosial, politik, dan keamanan yang fluktuatif seperti Papua menempatkan jurnalis perempuan pada garis depan risiko yang nyata. Hendrina Dian Kandipi mengenang salah satu momen paling tak terlupakan dalam kariernya saat melakukan peliputan ke daerah konflik.
”Kala itu, kami disambut dengan rentetan tembakan senjata dari atas bukit. Jika saya memilih profesi lain, mungkin saya tidak akan pernah mengalami momen yang begitu memacu adrenalin tersebut,” kenang Dian.
Namun, di balik risiko itu, ia merasakan privilese luar biasa menjadi seorang wartawan, seperti kesempatan bertemu langsung dengan Presiden Republik Indonesia. Dian juga bertemu dengan tokoh-tokoh penting dunia.
Meski begitu, tantangan juga sering kali hadir dalam bentuk hambatan gender. Dian mengungkapkan, jurnalis perempuan masih kerap dipandang sebelah mata oleh narasumber, bahkan mengalami kekerasan verbal hingga pelecehan fisik dengan dalih keakraban yang tidak pantas.
“Hal ini sering kali menimbulkan rasa minder dan ketakutan, padahal ada tugas besar yang harus diselesaikan. Masih ada paradigma yang menganggap profesi jurnalis bagi perempuan hanyalah sampingan. Inilah mengapa kita harus terus menunjukkan kegigihan untuk mematahkan stigma tersebut,” tegasnya.
Senada dengan Dian, Cornelia Mudumi menanggapi suka dan duka menjadi wartawan perempuan berjalan beriringan. Di satu sisi, perempuan sering lebih mudah membangun empati dan kedekatan dengan narasumber. Namun di sisi lain, mereka harus menghadapi keraguan atas kapasitas profesional serta tekanan psikologis.
”Risiko adalah bagian tak terpisahkan. Rasa takut tentu ada, tetapi tidak boleh mengalahkan profesionalisme. Wartawan perempuan dituntut cerdas membaca situasi, disiplin terhadap standar keselamatan, serta mampu menjaga integritas. Berani meliput, tetapi juga tahu kapan harus melindungi diri,” katanya.
Pengalaman menghadapi situasi ekstrem juga pernah dialami oleh Odeodata Julia Vanduk. Selama hampir 26 tahun berkarier, ia telah melewati berbagai medan konflik, termasuk peristiwa “Uncen Berdarah” tahun 2006 yang sangat menguras tenaga dan pikiran.
“Saat itu kami bertugas di tengah situasi yang genting. Sebagai wartawan kami bingung, apakah berada di posisi pendemo atau aparat karena situasi sudah tidak terkontrol,” ungkap Julia.

Baginya, jurnalis perempuan harus pintar membawa diri dan “menghitung ombak” saat menghadapi narasumber.
“Kita harus melihat mood narasumber. Jangan sampai karena mengejar deadline, kita memaksa wawancara lalu akhirnya dibentak. Selain itu, saat meliput konflik anarkis, kita harus berada di posisi aman, tepat di belakang aparat. Karena, tidak ada berita seharga nyawa,” tambahnya.
Tantangan tidak hanya datang secara fisik, tetapi juga dalam bentuk tekanan terhadap integritas karya. Putri Nurjannah Kurita menceritakan pengalamannya menghadapi pihak yang terganggu oleh pemberitaan kritis. Ia pernah ditekan untuk menurunkan berita (take down), padahal seluruh prosedur kode etik dan konfirmasi telah dijalankan.
”Sering kali mereka memberikan pernyataan saat dikonfirmasi, namun setelah berita terbit, mereka justru meminta berita tersebut dihapus,” kata Putri.
Tantangan fisik dan mental pun ia rasakan saat melakukan laporan mendalam (in-depth) tentang isu lingkungan. Terjun ke lokasi terpencil di pedalaman Papua menjadi salah satu pengalaman paling menantang sepanjang kariernya di dunia jurnalistik.
Peran ganda dan spirit Roehana Koeddoes
Jejak pena jurnalis perempuan di Indonesia hari ini tak lepas dari sosok inspiratif Roehana Koeddoes, wartawati pertama di Indonesia. Putri Nurjannah Kurita menyoroti betapa monumentalnya sosok pendiri surat kabar Soenting Melajoe itu.
Di masa ketika akses pendidikan bagi perempuan sangat dibatasi, Roehana membuktikan jurnalisme adalah alat perlawanan untuk memperjuangkan hak-hak kaumnya. Meski sekolah kerajinannya “Amai Setia” dan surat kabarnya Soenting Melajoe sempat dibredel oleh pemerintah Belanda, ia tidak menyerah.
“Semangatnya menunjukkan bahwa jurnalisme adalah alat perlawanan dan pemberdayaan,” ujar Putri.
Di Papua, semangat emansipasi Roehana diwarisi oleh para jurnalis perempuan yang kini memegang posisi strategis. Salah satunya Hendrina Dian Kandipi, yang memandang Roehana sebagai sosok inspiratif.
“Dalam menjalani profesi ini, saya selalu melihat kembali pada sosok Roehana Koeddoes. Beliau membuktikan betapa kuatnya perempuan dalam mempertahankan prinsip dan keinginannya. Berkat perjuangan panjang para pendahulu itulah, kita jurnalis perempuan di era sekarang dapat menikmati kesempatan-kesempatan yang mungkin tidak pernah didapatkan di zaman mereka,” ungkap Dian.

Cornelia Mudumi berpendapat nilai-nilai Roehana tetap relevan di tengah arus disinformasi digital. Roehana Koeddoes adalah simbol keberanian intelektual dan perlawanan terhadap ketidakadilan melalui pena.
“Nilai yang diwariskan, keberanian bersuara, kecerdasan, dan integritas tetap relevan hingga kini. Wartawan perempuan justru dituntut lebih kritis, beretika, dan tidak terjebak sensasi. Semangat Roehana harus diterjemahkan dalam praktik jurnalistik yang akurat, berimbang, dan berpihak pada kebenaran,” jelas Ketua FJPI Papua itu.
Julia Vanduk pun mengaku sangat terinspirasi dengan sosok Roehana Koeddoes sebagai pionir sejarah pers perempuan di Indonesia.
“Latar belakang pendidikan saya ini tidak [belajar ilmu] jurnalistik, saya seorang sarjana hukum, tetapi saat ini justru lebih suka di bidang jurnalistik. Dari sosok Roehana Koeddoes ini kita bisa lihat selain memperjuangkan kesetaraan kaum perempuan untuk pendidikan dan bekerja, di sisi lain sosok kewanitaannya muncul,” tutur Julia.
Namun, di balik spirit tersebut, realita peran ganda menjadi tantangan tersendiri. Julia mengakui sulitnya mengimbangi tugas lapangan dan rumah tangga.
“Ini yang susah, cara mengimbangi tugas bagi seorang wartawan dan mengurus rumah tangga karena menjadi seorang jurnalis itu sebenarnya tidak ada waktu kerjanya seperti orang di kantoran. Beruntung keluarga saya termasuk yang sangat memahami profesi saya,” akunya.
Dian Kandipi menambahkan bahwa bagi jurnalis yang sudah berkeluarga, tantangannya berlipat ganda, harus bergelut dengan manajemen waktu antara kewajiban profesi dan tanggung jawab sebagai ibu rumah tangga.
“Sering kali kita harus keluar pagi-pagi sekali untuk mencari berita, sementara pikiran tetap tertuju kepada kondisi anak-anak dan kesehatan mereka. Dalam hal ini, dukungan dari keluarga, terutama pasangan, menjadi kunci utama. Tanpa dukungan suami, akan sangat sulit bagi seorang perempuan untuk bertahan dalam ritme kerja jurnalistik yang tinggi,” tutur Dian.
Menyikapi beban ganda tersebut, Cornelia Mudumi menekankan pentingnya keseimbangan dan dukungan lingkungan. Keseimbangan dicapai melalui manajemen waktu, komunikasi yang sehat dengan keluarga, serta dukungan lingkungan kerja yang ramah gender.
“Perempuan tidak boleh dipaksa memilih antara karier dan keluarga. Justru pengalaman sering memperkaya perspektif jurnalistik. Yang penting adalah disiplin, komitmen, dan kesadaran bahwa profesionalisme tidak menghapus peran personal, melainkan saling melengkapi,” tegas Cornelia.
Harapan dan perlindungan jurnalis perempuan
Masa depan jurnalisme di Papua sangat bergantung kepada bagaimana ekosistem media memberikan ruang aman dan dukungan bagi para perempuan. Hendrina Dian Kandipi melihat keberhasilan para jurnalis perempuan yang kini menduduki posisi strategis sebagai bahan bakar motivasi bagi jurnalis perempuan generasi berikutnya.
”Saya berharap rekan-rekan jurnalis perempuan di Papua tetap bertahan, menekuni profesi ini dengan tulus. Jangan mudah menyerah hanya karena menghadapi mitra yang tidak menyenangkan atau kurangnya kesempatan di kantor,” ujar Dian.
Ia juga menitipkan pesan bagi jurnalis senior untuk terus membina dan memberdayakan jurnalis baru melalui kaderisasi, agar lahir sosok jurnalis perempuan “super” yang setara dengan laki-laki.
“Jurnalis perempuan Papua tidak boleh cepat puas, harus terus belajar, dan tetap berani menjaga integritas profesi ini,” tambahnya.

Sejalan dengan itu, Cornelia Mudumi menekankan pentingnya perlindungan keselamatan dan peningkatan kapasitas agar jurnalis perempuan semakin berdaya.
“Dibutuhkan solidaritas sesama jurnalis untuk menjaga marwah profesi. Wartawan perempuan hari ini memikul tanggung jawab ganda, yaitu menyampaikan kebenaran sekaligus menjaga martabat profesi. Integritas, etika, dan keberpihakan kepada kepentingan publik adalah fondasi utama agar jurnalisme tetap dipercaya dan bermakna,” kata Cornelia.
Harapan untuk masa depan juga disuarakan oleh Odeodata Julia Vanduk. Ia mendambakan lahirnya sosok-sosok jurnalis perempuan yang tidak hanya berani, tetapi juga bijak dan mencerahkan melalui tulisan mereka.
“Khususnya dalam hal penulisan mengenai Papua. Sehingga jurnalis perempuan di Papua ini bisa menginspirasi orang lain dengan tulisannya dan menjadi berkat untuk orang lain,” tutur Julia.
Putri Nurjannah Kurita menambahkan fokus kepada aspek isu yang spesifik. Ia mendorong agar perempuan Papua lebih berani terjun langsung meliput isu lingkungan dan hak masyarakat adat.
“Kehadiran jurnalis perempuan sangat penting untuk memberikan sudut pandang yang lebih mendalam, empati, dan inklusif dalam setiap pemberitaan di tanah ini,” tegas Putri.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Papua, Hans Bisay mencatat bahwa minat perempuan muda Papua untuk berkarier sebagai jurnalis kian meningkat dari tahun ke tahun. Secara kuantitas, jumlah jurnalis perempuan di Papua kini bahkan lebih banyak jika dibandingkan dengan laki-laki.
Hans menilai kemampuan adaptasi mereka sangat positif, terlihat dari banyaknya jurnalis perempuan yang telah kompeten dan berkontribusi nyata bagi pembangunan di Tanah Papua. PWI Papua berkomitmen untuk memastikan perlindungan bagi mereka melalui Bidang Hukum PWI serta rutin memantau tugas-tugas di lapangan.
“PWI dalam tahun terakhir bekerja sama dengan Dewan Pers menggelar pelatihan yang menitikberatkan SOP standar bagi para jurnalis perempuan. Kami memberikan kesempatan luas untuk meningkatkan kompetensi dan mitigasi, sehingga mereka mengetahui risiko, ancaman, dan cara menanggulangi masalah di lapangan,” jelas Hans.
PWI Papua berencana menambah bidang atau komite khusus untuk mengawasi dan mendampingi jurnalis perempuan dengan bersinergi bersama LBH Pers. Hans juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas organisasi.
“[Kami ingin] meningkatkan sinergi dengan organisasi seperti AJI, AWP, dan FJPI untuk terus meningkatkan kapasitas wartawan, perlindungan keamanan, dan solidaritas jaringan guna mencegah sejak dini ancaman maupun intimidasi terhadap jurnalis perempuan di Papua,” pungkasnya. (*)











Discussion about this post