Jayapura, Jubi – Hingga pekan pertama September 2024, capaian imunisasi dalam Pekan Imunisasi Nasional atau PIN Polio 2024 di Tanah Papua belum bertambah signifikan. Pemerintah daerah di Tanah Papua diminta melakukan percepatan vaksinasi Polio bagi anak-anak umur 0-7 tahun.
Jumlah anak yang menjadi sasaran program PIN Polio 2024 di Tanah Papua mencapai 865.690 anak. Health Officer – Immunization UNICEF Papua, dr Husny Muttaqin mengatakan hingga Minggu (1/9/2024) cakupan imunisasi Polio untuk dosis 1 baru mencapai 469.146 anak, setara 54,2 persen dari total jumlah sasaran.
Jumlah anak-anak yang telah menerima vaksin Polio dosis 2 adalah 313.243 anak, atau setara 36,2 persen dari total sasaran. Padahal, program PIN Polio 2024 yang dimulai sejak 27 Mei 2024 itu akan berakhir pada September 2024. Pada akhir program nanti, seharusnya setiap anak sasaran PIN Polio telah menerima paket lengkap yang terdiri dari empat dosis vaksin polio.
“Cakupan imunisasi Polio masih rendah sekali di Tanah Papua,” ujar Husny kepada Jubi.
Husny mengatakan di Provinsi Papua jumlah anak yang telah menerima vaksin Polio dosis 1 mencapai 112.134 anak, namun jumlah anak yang menerima dosis kedua turun menjadi 74.171 anak. Itu berarti ada 37.963 anak yang telah menerima vaksin Polio dosis 1, namun tidak melanjutkan program vaksinasi Polio dosis 2.
Di Provinsi Papua Tengah, jumlah anak yang telah menerima dosis 1 mencapai 92.731 anak, namun yang jumlah anak yang menerima dosis 2 hanya mencapai 63.328 anak. Di Provinsi Papua Pegunungan, jumlah anak yang telah menerima vaksin Polio dosis 1 mencapai 23.335 anak, namun anak yang menerima dosis 2 hanya 9.319 anak. Di Provinsi Papua Selatan, jumlah anak yang menerima vaksin Polio dosis 1 ada 88.948 anak, dan yang telah menerima dosis 2 hanya 53.218 anak.
Di Provinsi Papua Barat, jumlah anak yang telah menerima vaksin Polio dosis 1 mencapai 80.367 anak, dan dari jumlah itu ada 70.037 anak yang telah menerima dosis 2. Di Papua Barat Daya, jumlah anak yang telah menerima vaksin Polio dosis 1 mencapai 71.631 anak, dan baru 43.169 anak yang telah menerima dosis 2.
Husny mengatakan cakupan imunisasi PIN Polio di Tanah Papua sangat mengkhawatirkan, lantaran program itu akan berakhir pada September 2024. Targetnya, 95 persen dari 865.690 anak yang menjadi sasaran PIN Polio di Tanah Papua yang mendapat 4 dosis vaksin Polio.
“Tentu saja [cakupan imunisasi Polio] itu mengkhawatirkan. Anak-anak yang belum diimunisasi tidak memiliki kekebalan. Kembali perlu kami ingatkan, [dampak penyakit] Polio itu tidak main-main. Kelumpuhannya bisa seumur hidup dan belum ada obatnya,” katanya.

398.283 anak belum divaksin Polio
Hingga 1 September 2024, setidaknya 398.283 anak-anak di Tanah Papua belum divaksin Polio. Ratusan ribu anak-anak yang belum divaksin Polio itu tersebar di Provinsi Papua (76.525 anak), Papua Tengah (112.390 anak), Papua Pegunungan (151.892 anak). Ada juga anak-anak yang belum divaksin di Provinsi Papua Barat (6.822 anak), Papua Barat Daya (19.680 anak), dan Papua Selatan (30.974 anak).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Arinius Weya SKM, MKes mengatakan pihaknya mendorong agar pemerintah kabupaten/kota di Provinsi Papua menggenjot cakupan imunisasi Polio. Weya mengakui bahwa cakupan PIN Polio di beberapa kabupaten/kota Provinsi Papua masih rendah.
“Mungkin belum input [data imunisasi Polio] dalam aplikasi ASIK. Karena [data imunisasi Polio] itu memang harus dimutakhirkan ke aplikasi itu,” ujarnya.
Data per 1 September 2024, sejumlah 76.525 anak-anak di Provinsi Papua belum divaksin Polio. Ribuan anak-anak itu tersebar di Kabupaten Biak Numfor (2.128 anak), Kabupaten Sarmi (1.760 anak), Kabupaten Keerom (395 anak), Kabupaten Jayapura (12.480 anak), Kabupaten Supiori (2.028 anak), Kabupaten Waropen (3.196 anak).
Adapun anak-anak yang belum mendapatkan vaksin Polio juga ada di Kabupaten Kepulauan Yapen (9.250 anak), Kota Jayapura (36.682 anak), dan Kabupaten Mamberamo Raya (5.043 anak).
Weya mengatakan pihaknya hanya melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan imunisasi Polio. Weya berharap tokoh agama hingga tokoh masyarakat mendukung pelaksanaan PIN Polio. “Target kami untuk nasional 95 persen. Tapi mencapai itu memerlukan perjuangan. [Tapi] kami berteriak sendiri kan tidak bisa, harus [ada] kesadaran masyarakat sendiri,” katanya.
Health Officer – Immunization UNICEF Papua, dr Husny Muttaqin mengatakan pemerintah provinsi/kabupaten/kota sebaiknya menetapkan satu momentum atau rencana aksi mengejar cakupan imunisasi Polio. Husny juga mengatakan strategi percepatan itu termasuk mengoptimalkan sosialisasi yang melibatkan semua elemen masyarakat.
“Semakin lama sepertinya gaung PIN Polio semakin tidak terasa, padahal cakupannya masih rendah. Kegiatan sweeping atau pelacakan dari rumah ke rumah juga perlu dilakukan,” ujarnya.
Husny mengatakan pemerintah harus terus melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, serta mengoptimalkan kader posyandu. Menurutnya, masyarakat dari daerah yang sulit dijangkau dan sedang bepergian ke pusat pemerintahan perlu ditapis. Misalnya, dengan melakukan penapisan di terminal atau pelabuhan. “Tentu itu perlu koordinasi yang baik antara Dinas Kesehatan, puskesmas, dan mitra lainnya,” katanya.
Petugas Puskesmas Sarmi, Bidan Risma mengatakan per Juli 2024 pihaknya baru memberikan vaksin polio dosis 1 bagi 1.775 anak dan dosis 2 bagi 835 anak. Total sasaran PIN Polio Puskesmas Sarmi sebanyak 2.789 anak-anak berumur 0 – 7 tahun. “[Data Agustus dan September] belum [kami] rekapitulasi,” ujar Risma saat dihubungi melalui panggilan telepon pada Kamis.
Risma mengatakan pihaknya telah berusaha untuk melakukan imunisasi Polio melalui Posyandu maupun mengunjungi rumah warga. Ia mengatakan pihaknya sedang berupaya agar semua anak yang telah mendapatkan vaksin Polio dosis 1 juga mendapat dosis 2. “Kita sudah berusaha. [Untuk pemberian] vaksin Polio dosis 3 masih tunggu instruksi,” ujarnya. (*)











Discussion about this post