Jayapura, Jubi – Bougainville Copper Ltd (BCL) dan bekas perusahaan induknya, Rio Tinto, telah menyetujui rencana untuk membersihkan infrastruktur tua dari lokasi tambang Panguna di daerah Otonomi Bougainville, PNG yang telah lama ditutup.
Ketua BCL, Sir Mel Togolo, dan direktur Rio Tinto untuk Papua Nugini, Andrew Cooper, menandatangani nota kesepahaman pekan lalu, demikian dilansir test.jubi.id dari rnz.co.nz, Rabu (21/8/2024).
Kedua perusahaan mengatakan mereka ingin mengatasi kekhawatiran seputar resiko masa depan dari penuaan infrastruktur di area bekas tambang.
Hal itu dikatakan sebagai tanggapan terhadap informasi yang diperoleh dari Penilaian Dampak Warisan independen, yang menunjukkan struktur yang menua berpotensi menimbulkan ancaman.
Tujuannya adalah untuk mengakhiri potensi resiko terkait memburuknya infrastruktur untuk meningkatkan keselamatan di wilayah tersebut.
Pekerjaan ini akan dilaksanakan terhadap aset BCL lama, termasuk Stasiun Pompa Jaba dan Jembatan Sungai Momau, serta bekas bengkel area tambang, fasilitas penyimpanan, dan tembok beton di area kota Panguna. Pekerjaan ini diharapkan akan dimulai pada bulan November 2024 dan akan memakan waktu beberapa bulan untuk menyelesaikannya.
Sekretaris utama Bougainville, Kearnneth Nanei mengatakan kekhawatiran soal infrastruktur yang rusak telah disampaikan kepada pemerintah setelah kerja lapangan dilakukan, sebagai bagian dari Penilaian Dampak Warisan Tambang Panguna.
“Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan BCL yang mendapat dukungan dari Rio Tinto dalam menanggapi masalah ini, demi kepentingan terbaik rakyat kami,” katanya.
“Sambil menunggu hasil akhir penilaian dampak warisan, pekerjaan ini menunjukkan tanda positif kerja sama antara BCL dan Rio Tinto,” lanjutnya.
Hasil Penilaian Warisan Tahap 1 akan diumumkan ke publik pada kuartal keempat tahun 2024. (*)










Discussion about this post