Oleh Grace Swarobin Rumaseb*
Biak, sebagai wilayah kepulauan yang kaya sumber daya alam, memiliki potensi besar dalam membangun ekonomi lokal yang berkelanjutan. Namun, posisinya yang langsung berhadapan dengan Samudra Pasifik juga menjadikan Biak sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim, seperti kenaikan muka laut, gelombang ekstrem, dan perubahan pola cuaca yang mengancam sektor perikanan, pertanian, hingga infrastruktur dasar.
Ekonomi Berkelanjutan
Kabupaten Biak Numfor memiliki agenda tahunan berupa Festival Biak Munara Wampasi yang menampilkan beragam atraksi, seperti pondok jualan UMKM, kerajinan tangan dari kelompok mama-mama kampung, pertunjukan budaya seperti Apen Beyeren, snapmor atau panah ikan, tur ke Kepulauan Padaido, serta pertunjukan musik rakyat. Festival ini bertujuan memperkenalkan Biak dengan keunikan alam dan budayanya kepada dunia.

Langkah ini tentu positif sebagai strategi promosi daerah, namun sayangnya belum disertai dengan mekanisme pengelolaan jangka panjang. Padahal, festival hanyalah momentum untuk menarik perhatian nasional dan internasional. Ketika dunia telah menaruh perhatian, seharusnya ada pengelolaan berkelanjutan agar manfaatnya tidak bersifat sementara. Salah satunya melalui langkah strategis dari pemerintah daerah dengan mengundang investor untuk terlibat dalam pengembangan potensi lokal.
Sebagai contoh, Biak memiliki sumber daya perikanan yang melimpah. Potensi ini bisa dioptimalkan dengan melibatkan para nelayan dan mama-mama yang mengelola pangan lokal. Mereka perlu dipersiapkan secara serius melalui pelatihan dan pendampingan selama enam bulan hingga satu tahun untuk menghasilkan produk berkualitas yang akan ditampilkan dalam Festival Munara Wampasi dan mampu menarik perhatian investor. Dengan cara ini, Munara Wampasi tidak lagi sekadar perayaan tahunan, melainkan menjadi pemicu lahirnya ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Selain mempersiapkan produk yang berkelanjutan, penting juga untuk memberikan pelatihan ekonomi kreatif bagi para pelaku usaha lokal yang akan menawarkan produknya kepada investor. Pelatihan ini bisa sesederhana mengajarkan cara meyakinkan investor bahwa produk mereka layak untuk dijadikan investasi, baik dari segi kualitas, nilai budaya, maupun potensi pasar.
Langkah ini bukan hanya meningkatkan kapasitas masyarakat, tetapi juga membuka peluang kolaborasi yang lebih luas. Dengan demikian, pemerintah secara konkret telah mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 8 dan 9, yakni decent work and economic growth serta industry, innovation, and infrastructure.
Masyarakat, Budaya, dan Perubahan Iklim
Pulau Biak mengalami deforestasi sekitar 7% sejak tahun 2000 — termasuk berkurangnya hutan primer sebesar ~2,5% (tandfonline.com, en.wikipedia.org). Secara nasional, Indonesia memiliki sekitar 42 juta orang yang tinggal di ketinggian kurang dari 10 m dpl, yang rentan terhadap erosi dan intrusi air asin, sejalan dengan tren global kenaikan permukaan laut sebesar 3,2 mm per tahun atau lebih (en.wikipedia.org).
Data ini menunjukkan bahwa masyarakat Pulau Biak rentan menghadapi risiko lingkungan nyata, dan Festival Munara Wampasi bisa menjadi platform strategis untuk advokasi iklim berbasis budaya lokal.
Mengangkat tema perubahan iklim dalam Festival Biak Munara Wampasi merupakan langkah penting yang dapat memperluas dampak sosial-budaya acara tersebut. Misalnya, dialog tentang adaptasi tradisional Suku Biak terhadap pasang surut atau pengarusutamaan folklore cuaca (phenological knowledge), yang dapat meningkatkan kesadaran sekaligus merestorasi kebijaksanaan lokal (westpapuavoice.ac).
Festival BMW dapat menghadirkan edukasi dari BMKG (misalnya dalam bentuk pameran) mengenai dinamika perubahan iklim seperti peningkatan suhu, perubahan pola cuaca, dan potensi gelombang ekstrem. Edukasi ini penting agar masyarakat memahami kondisi aktual wilayahnya dan mampu mengambil langkah mitigatif maupun adaptif yang tepat.
Di samping itu, penyuluhan mengenai pengurangan emisi dan gas rumah kaca juga perlu ditingkatkan untuk mendorong kesadaran terhadap kontribusi individu dan komunitas dalam menjaga lingkungan.
BMKG melaporkan bahwa antara Januari 2014–Desember 2023, muka laut di wilayah Indonesia, termasuk Samudra Pasifik bagian barat, meningkat rata-rata 10 mm per tahun — lebih tinggi dari rata-rata global (4,7 mm per tahun) (en.antaranews.com).
Data satelit dari 2022–2023 menunjukkan kenaikan muka laut global mencapai rekor 0,76 cm per tahun, dengan total kenaikan sekitar 9,4 cm dalam 30 tahun terakhir (sumber data). Tahun 2024 bahkan mencatat kenaikan 0,59 cm, melebihi proyeksi NASA (~0,43 cm/tahun). Wilayah Indonesia — khususnya Biak dan sekitarnya — mengalami kenaikan muka laut yang lebih tinggi, yaitu 10 mm per tahun, dibandingkan angka global yang sekitar 5–7 mm per tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Oleh karena itu, Festival BMW tak hanya menjadi peluang pariwisata, tetapi perlu dirancang sebagai platform aksi nyata: menggabungkan edukasi iklim, advokasi perlindungan ekologi, dan kampanye pengurangan emisi. Dengan begitu, festival bukan hanya ruang budaya, tetapi juga ruang mitigasi dan adaptasi iklim yang berkelanjutan.
(*Penulis adalah warga Kota Biak)











Discussion about this post