Jayapura, Jubi – Gerakan Sadar Budaya Papua atau Gersap menilai pemerintah dan kampus kurang memperhatikan upaya pelestarian budaya di Tanah Papua.
Hal ini disampaikan Leonard Sibi saat Festival Goes to Museum di halaman museum Universitas Cenderawasih atau Uncen Jaya, di Kota Jayapura, Papua Jumat (14/11/2025).
Pengarah Festival Goes To Museum, Leonard Sibi mengatakan, festival ini digagas oleh Gerakan Sadar Budaya Papua atau Gersap untuk mengajak generasi papua sejak dini memahami akar budaya Papua.
Namun menurutnya Festival Goes To Museum tersebut kurang mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan kampus. Gersap sendiri terbentuk sebagai gerakan anak muda yang sadar akan budaya Papua.
“Kami menggunakan istilah sadar, kalau orang hanya peduli, dia cukup bilang peduli tapi tidak benar-benar bergerak. Sehingga kami menggunakan istilah sadar,” kata Sibi.
Katanya, Festival Goes To Museum ini merupakan kegiatan awal Gersap untuk menarik anak-anak Papua sadar akan budayanya.
“jadi kami tarik mereka ke museum ini untuk kembali belajar tentang budaya kita seperti apa. Karena di museum semua tentang kita ada, kita bicara masa lalu semuanya ada dari hal-hal kecil seperti inilah bisa membuat kita sadar dan bangga jadi anak Papua,” ucapnya.
Peserta Festival Goes To Museum sekira 250 orang. Mereka adalah siswa Taman Kanak-Kanak atau TK, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.
Dalam festival itu ada sekitar delapan kategori lomba, di antaranya lomba mewarnai, lomba menggambar, lomba melukis diatas kulit kayu, lomba musik akustik, lomba yosip pancar, lomba ayam rambut, lomba fashion show kulit kayu modifikasi, dan bazar UMKM dan pemutaran film budaya.
“Kami sedikit mengrkritisi pihak pemerintah dan kampus, karena kami mencoba mencari dukungan dari pemerintah juga kampus, namun [mereka] kurang memberikan dukungan kepada kami. Padahal tujuan kami hanya ingin anak-anak sadar akan budaya sejak dini,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Festival Goes To Museum, Acho Ansanay juga menyatakan kekecewaannya terhadap kurangnya dukungan dari institusi terkait. Padahal menurutnya, kegiatan itu dalam rangka dies natalis Uncen.
Menurutnya panitia sudah meminta untuk mengunakan auditorium Uncen, namun dibebankan biaya sehingga mereka hanya menggunakan museum untuk peserta mengikuti perlombaan.
“Kami pikir kampus dukung, ternyata didalam situ ada biayanya, kami juga sudah berupaya mencari dukungan dari pemerintah namun tidak ada dukungan juga. Kami hanya ingin melakukan kegiatan positif tentang budaya Papua untuk generasi ini,” kata Ansanay.
Katanya, kegiatan itu bertujuan mengajarkan anak-anak Papua dari dini untuk tahu akar budayanya seperti apa. Para peserta pun begitu antusias mengikuti kegiatan.
“Budaya itu penting sekali kita terapkan sejak dini kepada mereka, dan yang paling luar biasa lagi banyak juga adik-adik kita yang non orang asli Papua, sadar akan budaya. Hal ini diajarkan supaya mereka tahu akar budaya itu bagaimana,” ucapnya.
Ia mengatakan tema Goes to Museum yang dipilih, artinya mau mengajak orang-orang untuk datang melihat budaya Papua yang disimpan dalam museum dan belajar.
Ia berharap Gubernur Papua dapat lebih mendukung upaya pelestarian budaya Papua, karena budaya adalah aset besar juga bagi pariwisata. (*)











Discussion about this post