Jayapura, Jubi – Koalisi 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan atau Koalisi 16 HAKTP menyuarakan isu perempuan di Tanah Papua lewat workshop pembuatan zine di Kota Jayapura, Papua, Sabtu (6/12/2025).
Workshop dalam rangka kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan ini, sebagai ruang berekspresi bagi perempuan yang peduli terhadap isu-isu perempuan di Tanah Papua.
Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk ajakan menyuarakan pandangan, pengalaman, dan keresahan terkait dengan kondisi perempuan, yang masih menghadapi berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi serta tantangan dalam situasi konflik.
Kampanye Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan diperingati setiap tahunnya berlangsung 25 November, bertepatan dengan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.
Narriswari dari Koalisi 16 HAKTP mengatakan, kegiatan ini sebagai salah satu cara sederhana untuk membantu perempuan menuangkan apa yang ada di pikiran dan perasaannya.
Hasil dari workshop pembuatan zine itu, akan dipamerkan saat puncak peringatan 16 HAKTP di Pusat Pembinaan dan Pengembangan Wanita atau P3W Padang Bulan, Distrik Heram, Kota Jayapura pada 10 Desember 2025.
“pertanyaan dasarnya adalah mengapa saya peduli dengan isu perempuan dan Papua?. Kemudian peserta yang pikir dan memaknainya sendiri lalu dituangkan dalam bentuk zine,” kata Narriswari saat workshop.
Menurutnya, kegiatan tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar dan memahami lebih jauh terkait isu-isu perempuan yang diperjuangkan. Mulai dari kondisi perempuan dalam situasi konflik pengungsian internal, kesehatan perempuan hingga kebebasan berekspresi.
“Saya rasa itu bukan hanya isu teman-teman gerakan perempuan saja tapi itu isu bersama kita semua,” ucapnya.
Sementara itu, seorang peserta Meryam Sembay mengatakan, zine memberikan ruang berekspresi yang lebih bebas dibandingkan media tulisan formal.
“Zine itu bagus membantu kita untuk menyampaikan apa yang kita rasakan tanpa banyak aturan. Selama ini saya juga punya kebiasaan mengumpulkan foto dan menuliskannya dalam buku, ternyata bagian dari membuat zine,” kata Meryam Sembay.
Menurutnya, zine adalah salah satu media yang efektif untuk menyebarkan informasi penting yang sulit disampaikan melalui tulisan formal, karena banyak keterbatasan, apalagi sebagai seorang perempuan.
Tema yang ia pilih dalam pembuatan zine tersebut adalah perlindungan dan kesehatan mental perempuan, terutama dalam lingkungan yang tidak aman.
Katanya, berbagai kasus kekerasan terhadap perempuan yang sering ia lihat di lingkungan sekitarnya, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga hingga tindakan fisik yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Akan tetapi, sebagian orang menganggap itu, wajar karena hubungan keluarga.
“Sering sekali perempuan dapat pukul dari pasangannya dengan alasan itu hak seorang suami atau karena itu sa punya saudara perempuan jadi sa berhak pukul, padahal itu jelas adalah bentuk kekerasan terhadap perempuan,” ucapnya.
Ia berharap kepada pemerintah dan masyarakat, khususnya kaum laki-laki untuk menghentikan segala bentuk diskriminasi dan intimidasi terhadap perempuan.
Workshop ini pun diharapkan menjadi ruang aman bagi perempuan dan masyarakat luas untuk terus bersuara, belajar dan saling menguatkan sebagai upaya menghentikan kekerasan terhadap perempuan di Tanah Papua dan Indonesia.
“Tolong hentikan [kekerasan terhadap perempuan oleh mereka yang] merasa berhak melakukan kekerasan terhadap perempuan. Ketika kami berjalan atau bepergian, ada yang sering ganggu kami, itu setop karena kami takut dan tidak nyaman. Jangan lihat kami perempuan sebagai objek seksual,” ujarnya. (*)











Discussion about this post