Wamena, Jubi – Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian dan perdagangan atau Disnakerindag Jayawijaya mulai mengkhawatirkan adanya kelangkaan komoditi pertanian seperti cabai rawit, tomat, bawang merah dan bawang putih di pasaran Wamena ibu kota Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua Pegunungan yang memicu terjadinya kenaikan harga.
Dari pengawasan tingkatan harga di pasaran yang dilakukan tiap Senin dan Kamis, Disnakerindag Jayawijaya mendapati adanya kenaikan harga cabai rawit dan tomat serta beberapa komoditi lainnya di pasaran wamena.
“Saat ini untuk cabai rawit ini merupakan stok lama yang harga pasaranya mulai dari Rp 90.000 per kg, tadi kita sudah menanyakan ke para pedagang dan diketahui jika untuk komoditi cabai rawit ini akan naik siang ini ke Wamena dari Jayapura dengan kisaran harga Rp 100.000 sampai dengan Rp 120.00 per kg,” kata Kepala Seksi Ekspor Impor Disnakerindag Jayawijaya, Sammy Rumbino di pasar Potikelek Wamena Kamis (3/72025).
Menurutnya, kenaikan harga beberapa komoditas pertanian ini terjadi karena memang stok di Jayapura sedang berkurang, dan juga para pedagang pemasok yang ada di Pasar Youtefa Jayapura tak hanya menyuplai ke Wamena saja, tapi juga ke Kabupaten Mimika dan juga Merauke
“Kalau cabai rawit saat ini sudah Rp 90.ribu per Kg, untuk tomat yang tadinya Rp 20.ribu kini harganya mencapai Rp. 30.ribu sampai 35.ribu per kg, masalah ini membuat kami meminta kepada pedagang agar bisa menjaga ketahanan stok untuk pasaran Wamena,”kata Sammy.
Ia mengaku yang ditakutkan saat ini adalah stok barang di pasaran berkurang, maka harganya juga akan terus menerus mengalami kenaikan, karena untuk sementara ini hanya beberapa komoditi pertanian tersebut boleh dikategorikan mulai masuk dalam kelangkaan karena dua faktor gagal panen karena hujan dan suplainya harus ke 3 daerah.
“Saat ini kita berusaha untuk stok barang di pasaran Wamena ini tetap bisa memenuhi permintaan pasar, agar tidak ada kelangkaan yang memicu melonjaknya harga di pasaran Wamena,”jelas Kasie ekspor Import Disnakerindag.
Perwakilan pedagang yang ada di pasar Potikelek, Ahmad Faruq, menjelaskan bawa harga cabai merah awalnya perkilo ada di harga Rp80.000 hingga 90.000. namun sejak awal pekan lalu naik menjadi Rp120.000 hingga 130.000. Bahkan ada pedagang jual perkilo Rp 140.000.
“Harga itu mengalami kenaikan 10 persen disebabkan karena kita di Wamena petani lokal belum musim panen sehingga kita mengalami kehabisan stok jadi saat ini semua stok kita datangkan luar Kota Wamena yakni dari Jayapura semua,” kata pemilik toko Zidan Jaya .
Faruq mendapatkan informasi dari Kota Jayapura, musim hujan masih berlangsung sehingga petani banyak yang mengalami gagal panen. Sedangkan produksi Cabai dari Kota Jayapura dikirimkan ke Kota Timika, Wamena dan Jayapura. “Jadi saat ini memang mengalami kenaikan sekitar 10 persen,” katanya
Sementara untuk harga bawang merah awalnya perkilo ada di harga Rp40.000 hingga 50.000, kini dibandrol menjadi Rp60.000. Sedangkan untuk bawang putih harga tetap stabil yakni di Rp60.000 per kilo.
“Harga ini mungkin akan bertahan hingga beberapa minggu atau hari ke depan nanti akan kembali stabil jika ketersedian stok sudah memadai lagi,” katanya.
Selain itu Perwakilan pedagang Tokoh Rizky, Billa yang ada di Jalan Safri Darwin Wamena mengaku kehabisan stok cabai rawit dan tomat.
“Jadi saya mulai hari Senin kemarin sudah tidak jualan lagi untuk kedua komoditi tersebut karena kalau saya paksakan untuk tetap ambil di Jayapura takutnya malah saya yang rugi kalau tidak jual habis sampai busuk malah saya yang rugi, apalagi saat ini kondisi keuangan sedang tidak stabil,” katanya.
Jika penyedian stok lancar harga normal untuk di daerah kota ini perkilo ada di harga Rp.90.000 hingga 100.000. Namun saat ini harga cabai merah naik menjadi Rp130.000 hingga Rp140,000, sedangkan tomat yang bisanya Rp20.000 hingga Rp30.000, kini naik menjadi Rp40.000.
“Karena itu untuk beberapa hari atau minggu ini saya hanya jualan Sembako serta beberapa komoditi yang bisa bertahan lama yakni seperti bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit dan bumbu-bumbu instan lainnya,” kata Billa (*)











Discussion about this post