Sentani, Jubi – Dinas Lingkungan Hidup atau DLH Kabupaten Jayapura, Papua menyatakan berdasarkan hasil riset timbulan sampah, sampah di wilayah itu didominasi sisa makan, terutama di kawasan perkotaan. Persentasenya mencapai 60,48 persen atau 54,73 ton sehari.
Hal ini disampaikan Kepala Seksi Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Jayapura, Ciana Magdalena Morin saat konsultasi publik terkait hasil studi timbulan sampah di Kabupaten Jayapura di Aula lantai II Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (11/9/2025).
Katanya, riset timbulan sampah itu melibatkan DLH Kabupaten Jayapura, Yayasan World Wide Fund for Nature (WWF) Indonesia Program Papua, dan Fakultas Teknik Universitas Cenderawasih Jayapura.
Data tersebut diambil dari sampling sampah rumah tangga dan sampah non rumah tangga seperti hotel, restoran, kafe, pasar, dan tempat pembuangan akhir (TPA).
“Dari sembilan jenis (komposisi) sampah menunjukkan sampah sisa makanan sisa makanan memiliki persentase tertinggi yaitu sebesar 60,48 persen, kemudian sampah plastik 15,30 persen, dan sampah kertas/karton 7,90 persen,” kata Ciana Magdalena Morin.
Menurutnya, sampah sisa makanan berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau melalui biokonversi lalat BSF maggot. Pemanfaatan sisa makanan untuk menjadi pakan ternak adalah 19,92 persen dari total sampah perkotaan.
Katanya, semakin besar jumlah sisa makanan, akan semakin besar pula gas metana yang dihasilkan.
“Oleh karena itu, pengelolaan sampah mulai dari pencegahan, pengurangan, hingga penanganan sampah sangat penting dilakukan untuk mengurangi potensi gas metana yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim,” ujarnya.
Sementara itu, Pelaksana tugas Kepala DLH Kabupaten Jayapura, Salmon Telenggen mengatakan pengelolaan sampah di Kabupaten Jayapura terkendala ketersediaan sarana dan prasarana.
“Sistem pengelolaan sampah di Kabupaten Jayapura, dari sumber [sampah] langsung diangkut ke TPA, sehingga penanganannya tidak sesuai dengan yang direkomendasikan,” kata Telenggen.
Katanya, alur pengelolaan sampah yang ideal yaitu sampah diangkut dari sumber sampah baik rumah tangga dan non rumah tangga, ke tempat pengolahan sampah, setelah itu berakhir di TPA. (*)











Discussion about this post