Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Domberai

Suku Na-Sfa-Tehit Sorsel lawan Negara lewat upacara sakral

November 11, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Gamaliel M. Kaliele - Editor: Angela Flassy
negara

Masyarakat Adat Sub Suku Na-Sfa, subsuku dari Suku Besar Tehit di Sorong Selatan, Papua Barat Daya, melakukan ritual adat sakral di Hutan Adat Misyarmase, Kampung Magis, Distrik Teminabuan - Jubi/IST

Sorong, Jubi – Masyarakat Adat Sub Suku Na-Sfa, subsuku dari Suku Besar Tehit di Sorong Selatan, Papua Barat Daya, melakukan ritual adat sakral di Hutan Adat Misyarmase, Kampung Magis, Distrik Teminabuan, Minggu (09/11/2025). Upacara adalah bentuk protes keras terhadap Negara yang telah merampas dan membatasi ruang hidup masyarakat adat di tanah leluhur mereka.

Warga dari Kampung Magis dan Kampung Wehali mengenakan busana adat khas Sub Suku Na-Sfa, datang ke tengah hutan. Mereka menyalakan api, menabuh tifa, dan memanjatkan doa leluhur sebagai simbol bahwa hutan bukan sekadar bentangan pepohonan, melainkan ibu yang memberi kehidupan bagi generasi mereka sejak dahulu sampai saat ini.

RELATED POSTS

Aktivis pertanyakan kedatangan puluhan ekskavator di wilayah adat Imekko

Puluhan ekskavator tiba di Sorong Selatan, warga diimbau waspada

Kain dan cat merah, upaya masyarakat adat Papua jaga paru-paru dunia

Tokoh adat, Kristian Sesa menuturkan pengalaman pahitnya ketika negara masuk terlalu jauh mengatur tanah adatnya.

“Saya bikin kebun, lalu ada polisi datang pakai mobil patroli, mereka bilang ada kebakaran di hutan. Saya jawab, tidak ada kebakaran. Api dari saya punya kebun. Mereka tetap ambil gambar dan pergi begitu saja. Saya mau tanya, kapan negara ini pernah berkompromi dengan kami? Ini hutan adat saya, bukan hutan pemerintah,” kata Kristian.

Menurut Kristian, intervensi negara ke dalam ruang hidup masyarakat adat sudah berlangsung lama dan kini semakin parah. Masyarakat adat di Kampung Magis dan Kampung Wehali selama ratusan tahun menjadikan hutan sumber pangan, obat, dan kehidupan. Kini pemerintah menetapkan menjadi kawasan hutan negara tanpa konsultasi dengan pemilik sahnya.

Na dalam bahasa Tehit berarti orang atau sekelompok komunitas adat. Sfa berarti dataran tinggi atau kawasan gunung. Na-Sfa bermakna “Orang yang berasal dari gunung,” yakni masyarakat adat dari dataran tinggi Sorong Selatan.

Ketua Pemuda Adat Sub Suku Na-Sfa, Abner Bleskadit menegaskan bahwa status kawasan hutan yang ditetapkan oleh pemerintah telah menutup ruang masyarakat adat dalam mengurus keperluan dasar. Wilayah adat mereka mereka mulai kampung hingga hutan, seluruhnya telah berstatus kawasan hutan negara. “Jadi kalau kami mau buat sertifikat untuk bangun gereja atau sekolah saja, tidak bisa. Kami ini hidup di tanah sendiri tapi seperti orang asing,” ujar Abner.

Pengakuan negara terhadap keberadaan masyarakat adat seharusnya tidak berhenti di atas kertas. Pemerintah, kata dia, harus berani mengembalikan hak hak adat yang dirampas atas nama konservasi atau kebijakan kehutanan.

“Kalau negara benar mau bicara keadilan, kembalikan dulu hutan kami Jangan hanya datang bikin peta, bikin aturan, tapi kami pemilik hutan tidak pernah diajak bicara,” kata Abner.

Bagi masyarakat Na-Sfa, hutan adalah ruang spiritual dan sosial yang tidak bisa digantikan dan Di sanalah mereka berburu, berladang, dan melakukan ritual leluhur yang menjadi bagian dari identitas mereka sebagai orang Tehit Sfa.

Hutan Misyarmase ini bukan tanah kosong. Mereka menegaskan bahwa masyarakat adat bukan “penyewa” di tanah sendiri

Mereka juga mengingatkan bahwa pemerintah agar tidak lagi menggunakan status “hutan konservasi” sebagai dalih untuk menyingkirkan komunitas adat dari tanah leluhur. “Konservasi tanpa manusia adat hanyalah bentuk kolonialisme baru.

Pemerintah selalu bilang mau jaga lingkungan. Tapi kenapa kami yang dari dulu jaga hutan justru dibilang perusak? Siapa yang sebenarnya perusak hutan kalau bukan mereka yang datang dengan alat berat?” kata Kristian.

Masyarakat Adat Sub Suku Na-Sfa dalam pernyataan sikapnya menuntut agar Negara segera:

Mengakui dan menetapkan wilayah adat mereka secara resmi dalam peta hukum nasional

Mengembalikan penguasaan dan pengelolaan hutan adat kepada komunitas pemiliknya;

Menghentikan seluruh bentuk kriminalisasi terhadap masyarakat adat yang memanfaatkan sumber daya hutan secara tradisional;

Melibatkan masyarakat adat dalam seluruh proses penetapan kawasan hutan dan konservasi.

Ritual adat yang digelar di Hutan Misyarmase itu menjadi simbol perlawanan terhadap segala bentuk kebijakan yang menyingkirkan masyarakat adat dari ruang hidupnya. Masyarakat Na-Sfa ingin menunjukkan bahwa perjuangan menjaga hutan bukan semata demi lingkungan, tetapi demi keberlangsungan hidup manusia adat di kampung magis kampung wehali Papua yang selama ini menjadi benteng terakhir alam.(*)

Tags: Defrorestasi Hutan PapuaHutan AdatKabupaten Sorong Selatantehit
ShareTweetSendShareShare
Angela Flassy

Angela Flassy

Related Posts

Sampah Sisa makanan
Lingkungan

Sampah sisa makanan berdampak lebih kuat terhadap pemanasan global

April 25, 2026
Foto saat IDAI Gelar Skrining Jantung Anak Gratis di RSUD Sele Be Solu Sorong (23/4/2026).. Ditemukan sejumlah kasus serius yang butuh operasi - Jubi/ Gamaliel
Domberai

IDAI gelar skrining jantung anak gratis di RSUD Sele Be Solu Sorong, temukan sejumlah kasus serius yang butuh operasi

April 24, 2026
Komunitas IBAYAUW
Lingkungan

Komunitas IBAYAUW bersihkan kawasan Hutan Perempuan

April 24, 2026
e-Sport
Domberai

Cabor E-Sport dan Perbasi sinergi dorong perbaikan KONI Papua Barat

April 24, 2026
Taruna
Domberai

Polisi periksa 12 orang pascainsiden SMK Taruna Kasuari Manokwari

April 23, 2026
SMK Taruna
Domberai

Siswa SMK Taruna Manokwari dianiaya senior, orangtua laporkan ke Polisi

April 24, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

DOB

DOB berikan ruang OAP menduduki jabatan struktural

July 20, 2022
Yapen

Seleksi DPRK Kepulauan Yapen Mekanisme Pengangkatan diproses di tingkat distrik

October 6, 2024
keamanan

Keamanan berperan penting dalam pertumbuhan pariwisata

April 21, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara