Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

‘Pesta Babi, Kolonialisme di Zaman Kita’: Perjuangan mempertahankan tanah adat

March 7, 2026
Waktu Membaca: 4 mins read
0
Penulis: Aida Ulim - Editor: Arjuna Pademme
Kolonialisme

Suasana pre-launching film dokumenter investigatif bertajuk “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” di Jayapura, Papua Jumat (06/03/2026) - Jubi/Aida Ulim

Jayapura, Jubi – Film dokumenter investigatif ‘Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita’ menceritakan bagaimana perjuangan masyarakat adat di Provinsi Papua Selatan mempertahankan tanah adatnya dari gempuran investasi.

Pre-launching film dokumenter ini digelar di berbagai daerah di Tanah Papua, Selandia Baru, dan Australia sejak 5 Maret 2026 hingga 18 Maret 2026.

Di Kota Jayapura, Papua, Solidaritas Merauke menggelar pre-launching film, Jumat (6/3/2026).

Film yang disutradarai oleh Dandhy Laksono bersama Cypri Dale ini, merupakan hasil kolaborasi antara Jubi Media, Watchdoc, Ekspedisi Indonesia Baru, Pusaka Bentala Rakyat, dan Greenpeace Indonesia,

Film ‘Pesta Babi’ merekam dinamika yang terjadi di wilayah selatan Papua ketika jaringan politikus, investor, militer, dan gereja berhadapan dengan gerakan sosial masyarakat juga komunitas adat yang mempertahankan tanah adat.

Theresia Putri dari Greenpeace Indonesia, yang merupakan bagian dari tim pembuatan film tersebut mengatakan, dokumenter ini menyoroti perjuangan masyarakat adat Marind, Yei, Awyu, dan Muyu yang menolak proyek biodiesel berbasis kelapa sawit serta bioetanol dari tebu yang dirancang sebagai bahan bakar kendaraan.

“Melalui kisah-kisah itu, film ini menggambarkan dampak proyek pembangunan skala besar terhadap tanah adat dan ruang hidup masyarakat di Papua,” kata Theresia Putri saat pre-launching film di Kota Jayapura, Jumat (6/3/2026).

Film ini juga menyinggung konteks politik lebih luas, termasuk isu separatisme dan perjalanan panjang operasi militer Indonesia selama lebih dari enam dekade, yang memiliki kaitan dengan eksploitasi sumber daya alam di Tanah Papua.

Menurut Theresia, pre-launching ini bertujuan membawa film tersebut kembali kepada masyarakat di Tanah Papua, sebelum dirilis secara luas kepada publik.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah membawa film ini pulang terlebih dahulu ke rumahnya, yaitu ke Tanah Papua, sebelum nantinya diputar secara luas kepada publik,” ucapnya.

Pemutaran awal ini juga untuk menghimpun berbagai masukan dari masyarakat di Tanah Papua, khususnya masyarakat adat korban langsung dari Proyek Strategis Nasional atau PSN yang diceritakan dalam film tersebut.

Theresia Putri mengatakan, panitia menyediakan ruang bagi para penonton untuk menyampaikan tanggapan dan refleksi terhadap isi film. Masukan tersebut dituliskan penonton melalui catatan yang ditempelkan di lokasi pemutaran.

“Catatan-catatan dari penonton ini akan menjadi masukan bagi tim produksi maupun para kolaborator film,” ucapnya.

Menurut Theresia Putri, masukan penonton mengenai alur film akan dibawa ke tim produksi untuk didiskusikan bersama sutradara dan para produser.

“Masukan-masukan tersebut akan kami bawa ke tim produksi untuk menjadi bahan diskusi bersama,” ujarnya.

Ia berharap, ketika film tersebut nantinya dirilis secara publik, isi dan pesan yang disampaikan benar-benar merepresentasikan suara, keresahan, dan pengalaman masyarakat adat Papua yang terdampak langsung berbagai proyek pembangunan di Tanah Papua.

“Rencananya peluncuran resmi film “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita” rencananya akan dilakukan pada April mendatang, meski jadwal pastinya masih akan diumumkan lebih lanjut oleh tim produksi,” katanya.

Katanya, film tersebut masih berada pada tahap pre-launching di beberapa lokasi sebelum diluncurkan secara resmi kepada publik.

Pre-launching telah dilakukan di Kampung Mabari, Kabupaten Merauke, ibu kota Papua Selatan dan akan dilanjutkan di sejumlah lokasi lain di sana.

RELATED POSTS

Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

Penggusuran paksa tanah masyarakat adat Biak diadukan ke Komnas HAM

Gereja mesti tegas terhadap krisis tanah dan lingkungan di Tanah Papua

Tim produksi juga menggelar pemutaran awal di New Zealand atau Selandia Baru dan Australia.

Antropolog Universitas Cenderawasih, Dr. Hanro Lekitoo sebagai penanggap dalam pre-launching film dokumenter itu mengatakan, film mencerminkan praktik kolonialisme dalam bentuk baru, ketika penguasaan ruang hidup masyarakat adat terjadi melalui proyek-proyek pembangunan berskala besar.

“Film ini berhasil menggambarkan secara nyata kondisi kehidupan masyarakat adat di Papua, khususnya yang menghadapi tekanan akibat berbagai proyek pembangunan,” kata Henro Lekitoo.

Ia juga memberikan masukan terkait film tersebut. Menurutnya, film harus diawali dengan pesta babi, sesuai judul.

Katanya, kelompok masyarakat adat di Tanah Papua seperti suku Marind, Yei, dan Awyu memiliki hubungan yang sangat erat dengan alam.

Sebagian dari mereka hidup sebagai peramu dan pemburu-pengumpul, yang bergantung langsung pada hutan dan lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menurutnya, hubungan masyarakat Melanesia dengan alam tidak hanya bersifat ekonomi, juga spiritual dan kultural. Alam dipandang sebagai bagian dari relasi dengan sesama manusia, leluhur, dan Tuhan.

Karena itu kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada ekologi, juga pada kebudayaan dan identitas masyarakat.

“Jika hutan hilang, masyarakat mempertanyakan bagaimana mereka dapat melanjutkan kehidupan,” ucapnya.

Henro Lekitoo mengatakan, kerusakan lingkungan yang terjadi dapat memicu lekosida, yaitu kehancuran lingkungan secara besar-besaran.

Dampaknya tidak hanya pada alam, juga memicu hilangnya kebudayaan, termasuk bahasa, tradisi, pengetahuan lokal, dan identitas masyarakat.

Jika hutan sagu sebagai makanan pokok masyarakat adat Papua rusak atau hilang, masyarakat akan dipaksa bergantung pada sumber pangan dari luar seperti beras, yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketergantungan pada sistem ekonomi yang berbeda dari budaya mereka.

Tanah lanjut Henro Lekitoo, memiliki dimensi politik yang sangat kuat karena menjadi dasar kehidupan masyarakat. Ia juga mengkritik berbagai kesalahan pembangunan yang pernah terjadi di daerah lain, seperti di Kalimantan, justru kembali terulang di Tanah Papua.

“Film ini harus ditonton masyarakat luas, terutama mahasiswa dan generasi muda, untuk memahami situasi tersebut dengan lebih kritis,” ujarnya.

Film ini diharapkan dapat membuka kesadaran publik tentang kondisi yang dialami masyarakat adat di Tanah Papua, serta mendorong refleksi mengenai arah pembangunan yang sedang berlangsung.

“Pembangunan seharusnya membawa kesejahteraan bagi masyarakat, bukan justru mengorbankan ruang hidup masyarakat adat dan lingkungan yang selama ini mereka jaga secara turun-temurun,” katanya. (*)

Tags: Film DokumenterkolonialismeTanah adat
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

Hak Perempuan dan Anak
Perempuan dan Anak

Hak perempuan dan anak korban kekerasan dibahas dalam seminar KUHP

April 25, 2026
perempuan Papua yang terdampak konflik bersenjata
Perempuan dan Anak

Negara didesak penuhi keadilan bagi perempuan terdampak konflik bersenjata

April 23, 2026
Puncak
Polhukam

Perempuan KINGMI: Negara mesti bertanggungjawab dalam peristiwa Puncak

April 22, 2026
Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Dewan Gereja Papua
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

April 22, 2026
Pengungsi
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Ada 107.000 pengungsi internal di Tanah Papua

April 21, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Prosesi penyerahan peta tiga wilayah adat kepada PJ Bupati sebagai simbol selesainya pemetaan tiga wilayah adat tersebut, kepada PJ Bupati Kabupaten Jayawijaya, di Aula Hotel Gran Sartika, Jl Bhayangkara, Kota Wamena, Papua, Rabu (9/10/2024). - Jubi/ Ratty Auparai

Lokakarya pemetaan tiga wilayah adat Suku Lanny di Jayawijaya

October 9, 2024
Jayapura

Pemkot Jayapura harap di Hari Kartini perempuan berperan aktif memutus penyebaran Covid-19

April 21, 2022
Pemprov Papua Pegunungan

Pemprov Papua Pegunungan launching identitas kependudukan digital

April 5, 2023

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara