Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

OPM dari GPL, GPK hingga sebutan KST bagi gerakan Papua Merdeka

Apalah arti sebuah nama jika nama itu melahirkan trauma-trauma yang mendalam

April 16, 2024
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Dominggus A Mampioper - Editor: Alberth Yomo
Dr JRG Djopari,MA mantan Dubes RI di PNG dan Wagub Papua- Jubi/ist

Dr JRG Djopari,MA mantan Dubes RI di PNG dan Wagub Papua- Jubi/ist

Jayapura, Jubi- Adalah mendiang Dr Johanes Rudolf Gerzon Djopari, MA  mantan dosen Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta  dan juga Duta Besar RI di Papua New Guinea sebagai orang Papua pertama yang menulis judul disertasinya di Fisip Universitas Indonesia, ‘Pemberontakan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Disertasi itu kemudian dicetak oleh Percetakan Grasindo di Jakarta pada 1993 dengan judul yang sama Pemberontakan OPM dengan cover depan foto John Hembring pentolan OPM di perbatasan di Papua New Guinea.

RELATED POSTS

Satu anggota TPNPB tewas saat kontak senjata di Nabire

TPNPB klaim rampas dua pucuk SS1 saat menyerang pos keamanan PT Kristalin

Perbatasan rawan dilintasi OPM, Prabowo: PNG hormati kedaulatan RI

Meskipun singkatan tiga huruf “OPM”  sudah ditulis oleh Dr John Djopari panggilan akrabnya, namun sebutan nama itu masih tabu. Sejak dulu nama perjuangan kemerdekaan di Papua Barat selalu melekat dengan nama Gerakan Pengacau Liar (GPL), Gerakan Pengacau Keamanan (GPK) hingga sebutan Kelompok Bersenjata Separatis Teroris (KST).

Tentunya sebutan OPM sudah menjadi trauma yang mendalam bagi orang-orang di tanah Papua. Terutama yang menyangkut dengan operasi-operasi militer melawan separatisme di tanah Papua. Meskipun kini tanah Papua sudah banyak Daerah Otonom Baru justru praktek dan modus operandinya mirip-mirip. Apalagi DOB itu menyimpan sumber daya alam terutama lokasi pendulangan emas setelah era logging berakhir alias kayu Merbau ditebang habis.

Pdt Herman Awom saat masih bersekolah di SMP di Manokwari mengenang bagaimana mereka harus menjadi saksi ketika gurunya menyebut nama Papua. Akibatnya Herman Awom dan kawan-kawan harus diinterogasi dan menjadi saksi di depan aparat keamanan. Ia membayangkan bagaimana gurunya dipukul dan ditendang hanya gara gara menyebut nama Papua kala itu.

Waktu itu gerakan Papua Merdeka masih dipimpin mendiang Ferry Awom dan kawan-kawan yang menyerbu markas militer di Arfai. Penyerbuan itu kemudian dikenang dalam lagu, pada tahun 1965 markas Arfai diserang oleh Batalion Kasuari. “Kami tentara sapu rata, batalion Kasuari, berjanji akan setia sampai Papua Merdeka,”demikian syair lagu tersebut  dipopulerkan Group Band Black Brother di era 1980 an di Pasifik.

Nama OPM semakin popular ketika peristiwa penyerangan di Markas Militer Arfai, 1965 waktu itu ada pimpinan OPM Guru Teryanus Aronggear dan juga Ferry Awom. Kedua pentolan OPM ini didukung warga Arfak dibawah koordinasi Lodewijk Mandacan.

“Pemberontakan di bawah pimpinan Ferry Awom dimulai dengan menyerang Pos Militer di Kebar, 26 Juli 1965. Dua hari kemudian asrama Batalion 751 di Arfai diserang pula. Sebelumnya telah beredar pamflet pada 19 April 1965 berisi tuntutan pembentukan Nagara Papua Merdeka. Agaknya pamflet ini berkaitan dengan komando Presiden Sukarno pada hari yang sama,agar Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Komando ini sangat mempengaruhi tokoh tokoh pemberontak OPM, karena Sukarno juga membatalkan rencana pelaksanaan act of free choice di Irian Barat pada 1969, yang sedianya akan diawasi oleh PBB,”demikian dikutip dari buku berjudul Integrasi Politik di Indonesia yang ditulis Prof Dr Nazaruddin Sjamsuddin.

Nama Organisasi Papua Merdeka (OPM) juga ditulis dalam buku Mayjend TNI (Purn) Samsudin berjudul Pergolakan di Perbatasan, Operasi Pembebasan Sandera Tanpa Pertumpahan Darah terbitan Gramedia, 1995 masih memakai nama OPM.

Samsudin menulis ada kelompok Papua Merdeka yang dipimpin Yacob Pray bekas mahasiswa Universitas Cenderawasih dan Zeth Rumkorem lulusan Sekolah Calon Perwira TNI AD di era 1960 an  dan juga ada kelompok Marthen Tabu di Kabupaten Keerom yang terlibat dalam penyanderaan di perbatasan.

Kemudian dalam buku berjudul Poisoned Arrows, An investigative journey through the forbidden lands of West Papua, yang ditulis George Monbiot. “Disegel dari dunia luar oleh tentara Indonesia, kawasan ini adalah rumah bagi suku-suku yang telah mengembangkan budaya unik dan luar biasa, dan kini, bersama dengan lahan hutan mereka, dilenyapkan secara sistematis.

Monbiot mengungkap sebuah cerita yang belum pernah didokumentasikan dengan baik sebelumnya. Ini adalah  salah satu karya klasik penulisan perjalanan investigative.

Dalam buku ini Monbiot menulis susunan operasi militer pimpinan Zeth Rumkorem dalam menyusun Komando Daerah Militer Papua (Kodap) dan juga latihan militer serta bergerilya sesuai dengan kondisi medan tempur di hutan-hutan tanah Papua.

Selanjutnya dalam buku berjudul Sandera, 130 Hari Terperangkap di Mapunduma yang ditulis Adinda Arimbi Saraswati di mana Jenderal Prabowo Subiyanto masih menjadi Komandan Kopasus juga memakai nama Gerakan Pengacau Keamanan (GPK)-Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang disingkat dalam penulisan buku itu, GPK-OPM.

Kini Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang memutuskan untuk mengembalikan istilah OPM. Pasalnya kata Panglima TNI,mereka sendiri yang menamakan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), sama dengan OPM,” kepada wartawan di Jakarta Pusat, Rabu (10/4/2024).

Agus mengatakan OPM telah melakukan teror dalam berbagai bentuk, mulai dari pembunuhan hingga pemerkosaan. Sehingga, kata dia, tentu hal ini harus ditindak tegas.

“Masa harus kita diamkan (kejadian) seperti itu dan dia kombatan membawa senjata. Saya akan tindak tegas untuk apa yang dilakukan oleh OPM,” kata Agus sebagaimana dilansir dari https://www.inilah.com

Sementara itu, Polri masih menggunakan istilah KKB. Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz AKBP Bayu Suseno mengatakan, belum ada arahan untuk mengubah istilah KKB kembali ke OPM.

Terlepas dari pro dan kontra apalah arti sebuah nama jika nama itu melahirkan trauma-trauma yang mendalam. Pasalnya ketika konflik itu terjadi jelas memakan banyak korban jiwa terutama anak anak,kaum perempuan dan orang tua serta pengungsian. Perang dan konflik akan merugikan semua pihak baik yang pro maupun yang kontra,sama sama jadi korban.(*)

Tags: Gerakan Papua MerdekaOPMSebutan OPM dari GPL sampai KST
ShareTweetSendShareShare
News Desk

News Desk

Related Posts

Hak Perempuan dan Anak
Perempuan dan Anak

Hak perempuan dan anak korban kekerasan dibahas dalam seminar KUHP

April 25, 2026
perempuan Papua yang terdampak konflik bersenjata
Perempuan dan Anak

Negara didesak penuhi keadilan bagi perempuan terdampak konflik bersenjata

April 23, 2026
Puncak
Polhukam

Perempuan KINGMI: Negara mesti bertanggungjawab dalam peristiwa Puncak

April 22, 2026
Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Dewan Gereja Papua
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

April 22, 2026
Pengungsi
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Ada 107.000 pengungsi internal di Tanah Papua

April 21, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Pedagang melayani pembeli bungkus ketupat jelang Hari Raya Idul Fitri di Pasar Paldam, Jayapura, Papua, Minggu (1/5/2022) / (ANTARA/GUSTI TANATI)

Sebentuk toleransi dari seikat ketupat

April 11, 2024
Migrasi Penduduk dari Luar Papua

Dewan Adat Papua: Migrasi ke Tanah Papua harus dibatasi

May 14, 2022
Sinak Papua

Senjata anggota TNI di Sinak hilang, anak-anak ditangkap, satu dikabarkan meninggal dunia

February 27, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara