Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Polhukam

DOB hasil pemekaran Provinsi Papua dianggap belum menunjukkan dampak positif

November 11, 2023
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: - Editor:
Ilustrasi

Ilustrasi-Dok. Jubi

Jayapura, Jubi – Daerah otonomi baru atau DOB hasil pemekaran Provinsi Papua dianggap belum menunjukkan dampak positif hingga kini. Anggota komisi bidang pemerintahan, politik, hukum, Hak asasi manusia, dan keamanan, Laurenzus Kadepa mengatakan pembentukan tiga provinsi baru hasil pemekaran Provinsi Papua sudah hampir setahun. Akan tetapi hingga kini belum ada perkembangan positif di daerah otonomi baru itu.

Menurutnya, justru sebaliknya berbagai polemik terjadi di provinsi baru hasil pemekaran Provinsi Papua.

RELATED POSTS

Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura

Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

West Papua National Committee (KNPB) issues demands over alleged civilian casualties in Puncak Military Operation.

“DOB ini sudah hampir berumur setahun, akan tapi dampak positifnya seperti apa? saya bingung. Menurut saya dampak positifnya belum ada. Justru banyak polemik muncul setelah DOB,” kata Laurenzus Kadepa saat menghubungi Jubi, Jumat (10/11/2023) malam.

Katanya, kini berbagai pihak menyoroti kebijakan pemerintah yang melantik Penjabat Gubernur (Pj) Papua Selatan dan Papua Tengah merangkap jabatan sebagai Sekretaris Daerah atau Sekda di wilayah itu.

“Begitu DOB ada, penjabat-penjabat gubernur itu [seakan] hanya lambang atau simbol yang gampang diatur Kemeterian Dalam Negeri (Kemendagri). Jadi menurut saya, wajah sebuah provinsi tidak terlihat, karena penjabat gubernur diatur-atur oleh Kemendagri tanpa ada pengawasan DPR provinsi di DOB itu,” ucapnya.

Kadepa mengatakan, selama ini APBD mini untuk provinsi baru yang nilainya Rp 1 triliun lebih pun tidak diketahui pemanfaatnya untuk apa saja. Apalagi tidak ada lembaga dewan, yang mengawasi penggunaan dana itu selama setahun ini.

Ia mengatakan, yang tahu persis penggunaan anggaran itu adalah Kemendagri atau pemerintah pusat dan penjabat gubernur. Sedangkan pihak yang lain, terutama DPR Papua tidak tahu pasti.

Apalagi setelah pemekaran, DPR Papua tidak lagi memiliki kewenangan melakukan pengawasan sepenuhnya ke provinsi baru, meski sebagian besar anggota DPR Papua berasal dari daerah pemilihan kabupaten yang kini masuk wilayah Provinsi baru, hasil pemekaran Provinsi Papua.

“Jadi penggunaan anggaran di DOB ini bisa dikatakan dilaksanakan tanpa DPR tingkat provinsi. Kami tidak tahu kemana dana ini. Kemudian penempatan sekda oleh pemerintah pusat atau Kemendagri, dengan alasan mendukung untuk melengkapi administrasi dan sampai pada persiapan Pemilu. Ini kan merangkap jabatan, karena mereka masih menjabat sebagai Pj gubernur,” kata Kadepa.

Ia mengatakan, apabila benar-benar ingin melaksanakan tata kekola pemerintahan yang baik, mestinya yang ditempatkan sebagai sekda mesti benar-benar orang profesional.

Kadepa mempertanyakan mengapa jabatan Pj Gubernur di Provinsi Papua Selatan dan Papua Tengah yang diperpanjang, diberi jabatan baru sebagai Sekda lagi. Sebab kataya, mestinya dievaluasi dulu kinerja mereka selama satu tahun.

“Namun justru merangkap jabatan. Padahal banyak ASN orang asli yang mumpuni bahkan lebih di atas atau lebih mampu dari yang ada. Gampang sekali seseorang dipindahkan  posisi jabatannya lalu ditarik. Semacam ada sesuatu yang dicari begitu. Kita butuh konsisten dan konsentrasi membangun negeri ini. Bukan karena unsur politik dan lainnya,” ujarnya.

Laurenzus Kadepa juga menyoroti rekrutmen anggota Majelis Rakyat Papua atau MRP di Provinsi Papua dan Papua Tengah, yang hingga kini masih menyisahkan masalah dan dianggap sarat kepentingan politik.

“Misalnya di Papua Tengah, kursi MRP untuk Pokja agama bermasalah. Hingga pelantikan anggota MRP Papua Tengah dari Pokja Agama masih ditunda. Kenapa pelantikan tergesa-gesa, padahal masalahnya belum selesai. Menurut saya itu menjadi salah satu indikator untuk mengevaluasi kinerja Pj Gubernur,” ujarnya.

Politikus Partai Nasional Demokrat (NasDem) itu pun mempertanyakan, mengapa Pj Gubernur di daerah hasil pemekaran Provinsi Papua diperpanjang masa jabatannya dan diberi jabatan baru, padahal proses rekrutmen MRP sebagai lembaga kultur orang asli Papua bermasalah.

Ia berpendapat, mestinya kinerja Pj Gubernur itu dievaluasi karena dianggap gagal sebagai pembina politik di provinsi. Selain itu, masih banyak masalah lain yang ada setelah pemekaran Papua atau pembentukan DOB seperti di Kabupaten Nabire dan Mimika, Papua Tengah.

Di sana, angka pengangguran disebut masih terbilang tinggi padahal di Mimika ini ada PT Freeport.

“Sudah tahu pengangguran tinggi, lalu pada 2017 silam, moker 8.700 sampai saat ini pemerintah diam. Justru itu menambah masalah, menambah pengangguran. Makanya saya bilang DOB ini belum memperlihatkan dampak positif. Semoga ke depannya, cara pandang dan cara kerja diubah agar DOB ini benar-benar sesuai tujuannya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat,” kata Laurenzus Kadepa. (*)

Tags: dampakDOBLaurenzus KadepaLegislatorPapua
ShareTweetSendShareShare
Reinardo Sinaga

Reinardo Sinaga

Related Posts

Hak Perempuan dan Anak
Perempuan dan Anak

Hak perempuan dan anak korban kekerasan dibahas dalam seminar KUHP

April 25, 2026
perempuan Papua yang terdampak konflik bersenjata
Perempuan dan Anak

Negara didesak penuhi keadilan bagi perempuan terdampak konflik bersenjata

April 23, 2026
Puncak
Polhukam

Perempuan KINGMI: Negara mesti bertanggungjawab dalam peristiwa Puncak

April 22, 2026
Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Dewan Gereja Papua
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

April 22, 2026
Pengungsi
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Ada 107.000 pengungsi internal di Tanah Papua

April 21, 2026

Recommended Stories

Pedagang melayani pembeli bungkus ketupat jelang Hari Raya Idul Fitri di Pasar Paldam, Jayapura, Papua, Minggu (1/5/2022) / (ANTARA/GUSTI TANATI)

Sebentuk toleransi dari seikat ketupat

April 11, 2024
Migrasi Penduduk dari Luar Papua

Dewan Adat Papua: Migrasi ke Tanah Papua harus dibatasi

May 14, 2022
Sinak Papua

Senjata anggota TNI di Sinak hilang, anak-anak ditangkap, satu dikabarkan meninggal dunia

February 27, 2022

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara