Jubi Papua
No Result
View All Result
  • Login
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
PRICING
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks
SUBSCRIBE
No Result
View All Result
Jubi Papua
No Result
View All Result
Home Perempuan dan Anak

Militerisasi perparah kerentanan perempuan dan anak di Tanah Papua

December 17, 2025
Waktu Membaca: 3 mins read
0
Penulis: Aida Ulim - Editor: Arjuna Pademme
Tanah Papua

Suasana peluncuran laporan “Papua dalam Cengkeraman Operasi Militer” 2023-2025 secara live streaming di YouTube YLBHI Selasa (16/12/2025).-tamgkapan layar

Jayapura, Jubi – Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan atau Komnas Perempuan menilai pendekatan militeristik yang terus berlangsung di Tanah Papua, memperparah kerentanan perempuan dan anak.

Ini disampaikan komisioner Komnas Perempuan, Yuni Asriyanti dalam peluncuran laporan situasi pelanggaran HAM di Papua 2023-2025 oleh YLBHI secara live streaming, Selasa (16/12/2025).

RELATED POSTS

Ada perubahan cara pandang terhadap perempuan di Tanah Papua

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

KNPB nyatakan sikap terhadap situasi Tanah Papua

Yuni Asriyanti pun menilai laporan itu sangat penting di tengah semakin terbatasnya akses informasi mengenai kondisi di Tanah Papua.

“Laporan ini seperti membuka kembali mata publik terhadap realitas yang sesungguhnya terjadi di Papua,” kata Yuni Asriyanti.

Menurutnya, Komnas Perempuan juga telah lama bekerja terkait isu Papua, melalui kemitraan dengan salah satunya Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia atau PGI.

Dalam kerja-kerja tersebut, Komnas Perempuan mendokumentasikan secara khusus situasi perempuan Papua, termasuk berbagai bentuk kerentanan dan pelanggaran hak asasi manusia yang dialami perempuan dan anak.

Pembaruan laporan periode 2018–2021 menunjukkan bahwa situasi perempuan Papua tidak banyak berubah. Bahkan, merujuk laporan terbaru YLBHI dan LBH Papua, kondisi dinilai semakin memburuk.

Komnas Perempuan juga mencatat berbagai pengaduan kasus kekerasan dari Papua. Pengaduan tersebut mencakup kekerasan dalam ranah negara atau struktural, terutama yang berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional atau PSN dan konflik sumber daya alam.

Selain itu, ada pula banyak laporan kekerasan terhadap perempuan di ranah personal, dengan pelaku yang memiliki relasi kuasa, seperti aparat keamanan atau pejabat pemerintah.

“Ini menunjukkan tingginya kerentanan perempuan di wilayah konflik bersenjata,” ujarnya.

Selain aparat, pengaduan juga melibatkan pejabat publik, DPR dan kepala daerah. Menindaklanjuti hal tersebut, Komnas Perempuan juga telah mengirimkan surat rekomendasi kepada kepolisian dan pemerintah agar proses hukum dapat dilanjutkan dan dipercepat.

Katanya, pola kekerasan yang terjadi saat ini bahkan lebih buruk dibandingkan kondisi 13 tahun lalu. Pada masa penyusunan laporan “Stop Sudah”, masih tersedia ruang yang relatif cukup untuk pendokumentasian partisipatif bersama perempuan.

Namun kini ruang tersebut semakin menyempit, akses ke Papua makin terbatas, dan dukungan sumber daya semakin sulit, sehingga pemantauan menjadi sangat menantang.

“Laporan LBH Papua dan YLBHI penting bagi kami juga, karena memperlihatkan keterkaitan antara militerisasi, konflik bersenjata, pengungsian, pemiskinan, industri ekstraktif, dan Proyek Strategis Nasional. Seluruh faktor tersebut membentuk lingkaran persoalan yang sulit dipisahkan,” ucapnya.

Ia mengatakan laporan ini penting bagi generasi muda yang selama ini minim paparan informasi tentang Tanah Papua. Banyak masyarakat hanya memahami Tanah Papua sebagai wilayah konflik politik, tanpa mengetahui dampak luas konflik bersenjata terhadap kehidupan masyarakat sipil, termasuk krisis pengungsian yang parah.

Komnas Perempuan berpendapat bahwa laporan tersebut masih dapat diperdalam, khususnya terkait analisis dampak krisis terhadap kelompok rentan, terutama perempuan dan anak.

Apalagi dalam praktiknya, perempuan pengungsi menghadapi beban ganda, kehilangan sumber penghidupan, keterbatasan akses pangan, serta trauma dan ketakutan yang terus direproduksi akibat pendekatan militeristik.

“Selama pendekatan militeristik masih digunakan, akan sangat sulit membayangkan terwujudnya situasi damai di Papua. Karena pendekatan itu hanya menyingkirkan suara perempuan, mengabaikan kebutuhan spesifik mereka, dan memperdalam kekerasan struktural,” katanya.

Ia menegaskan, pendekatan militer tidak akan menyelesaikan persoalan Papua. Pemerintah didorong mengambil langkah pemulihan yang spesifik dan serius, terutama bagi masyarakat di wilayah pengungsian.

Selain itu, pelibatan perempuan dalam setiap proses penyelesaian konflik lebih mutlak agar upaya perdamaian memiliki makna. Komnas Perempuan kedepannya akan memprioritaskan penguatan layanan bagi perempuan korban kekerasan di Papua, serta terus mendorong perhatian terhadap isu pengungsi internal dan tahanan politik.

“Laporan ini diharapkan menjadi sumber pengetahuan bagi publik dan menumbuhkan kesadaran serta kepedulian terhadap situasi Papua,” ujar Yuni Asriyanti.

Sementara itu, anggota Dewan Perwakilan Daerah atau DPD Republik Indonesia daeri daerah pemilihan Papua Tengah, Eka Kristina Yeimo mengatakan bahwa situasi yang terjadi di Tanah Papua, khususnya terkait konflik dan dampak kemanusiaan, bukanlah ilusi, mitos, maupun cerita belaka, melainkan fakta yang benar-benar terjadi di lapangan.

“laporan yang disampaikan YLBHI memang itu fakta bukan ilusi, peristiwa di Papua yang selama ini kerap disampaikan secara abu-abu dan sulit dipahami publik. Tapi semua yang sudah disampaikan YLBHI faktanya begitu,” Eka Yeimo.

Katanya, penelitian yang dilakukan LBH dan YLBHI telah menyusun rangkaian peristiwa di Papua secara sistematis dan utuh, sehingga memberikan pemahaman yang jelas tentang realitas yang dihadapi masyarakat.

Untuk itulah, keberpihakan pada kebenaran dan keadilan, tanpa melihat latar belakang suku atau kelompok, merupakan nilai penting yang harus terus dijaga.

“Yang paling saya sesalkan adalah penggunaan rumah ibadah sebagai tempat militer. Saya lahir dan besar di kampung, sangat menyedihkan melihat rumah doa dijadikan tempat kegiatan militer,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman langsung yang dialaminya menjadi alasan kuat untuk ia menyampaikan apa yang terjadi di Papua adalah kenyataan, sehingga setiap orang memiliki tanggung jawab moral untuk meninggalkan jejak sejarah dengan memperjuangkan kebenaran dan keadilan selama hidup. (*)

Tags: Militerisasiperempuan dan anak di PapuaTanah Papua
ShareTweetSendShareShare
Arga Reysamputra

Arga Reysamputra

Related Posts

Hak Perempuan dan Anak
Perempuan dan Anak

Hak perempuan dan anak korban kekerasan dibahas dalam seminar KUHP

April 25, 2026
Suara Perempuan Papua Bersatu
Perempuan dan Anak

Ada perubahan cara pandang terhadap perempuan di Tanah Papua

April 24, 2026
perempuan Papua yang terdampak konflik bersenjata
Perempuan dan Anak

Negara didesak penuhi keadilan bagi perempuan terdampak konflik bersenjata

April 23, 2026
Puncak
Polhukam

Perempuan KINGMI: Negara mesti bertanggungjawab dalam peristiwa Puncak

April 22, 2026
Kabupaten Tolikara
Lapago

Mahasiswa desak penegakan hukum kasus penembakan di Tolikara

April 22, 2026
Dewan Gereja Papua
Polhukam

Dewan Gereja Papua: Penting mencari solusi damai situasi di Tanah Papua

April 22, 2026

Discussion about this post

Recommended Stories

Persipura

Liga 2 sudah dekat, Manajemen Persipura fokus pagari pemain

June 8, 2022
KPUD Merauke

KPUD Merauke bakal laksanakan Kirab Pemilu pada 1 Maret

February 25, 2023
Politik

Isu politik dan olahraga, pemikat paling dinanti para pembaca Papua

April 30, 2024

Popular Stories

  • Pesta Babi

    ‘Pesta Babi’ di Yogyakarta, membuka mata publik melihat persoalan Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Indonesia Raya : Ketika lagu kebangsaan menjadi luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tokoh Gereja dan Pimpinan Mahasiswa Tolikara Kecam Pernyataan Pangdam XVII Cenderawasih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • PAHAM Papua desak Komnas HAM RI dan panglima TNI gerak cepat sikapi video penyiksaan warga sipil di Papua

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Panglima WPA tegaskan Indonesia harus hargai OAP, jika tidak perang total!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Jubi Papua

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc. Visit our landing page to see all features & demos.

LEARN MORE »

Recent Posts

  • PBSI Papua Barat dorong Pengcab siapkan atlet hadapi event regional hingga nasional
  • Indigenous women lead cleanup of polluted ‘Women’s Forest’ in Jayapura
  • Seminar Examines Protection of Women and Child Victims under Indonesia’s New Criminal Code

Categories

  • 2007
  • Advertorial
  • Animha
  • Bali NTT
  • Berita Papua
  • Bomberai
  • Domberai
  • Dunia
  • Ekonomi
  • Features
  • Headline
  • Indepth Story
  • Infografis
  • Jayapura Membangun
  • Kabupaten Jayapura
  • Kabupaten Jayawijaya
  • Kabupaten Merauke
  • KMAN VI
  • Lapago
  • Lingkungan
  • Majelis Rakyat Papua
  • Mamta
  • Mappi
  • Meepago
  • Memilih untuk Indonesia
  • Menyapa Nusantara
  • Nasional & Internasional
  • Nusa
  • Olahraga
  • Opini
  • Pacnews
  • Papua
  • Papua Tengah
  • Pasifik
  • Pemilu
  • Penkes
  • Perempuan dan Anak
  • Polhukam
  • Provinsi Papua
  • Rilis Pers
  • Saireri
  • Seni & Budaya
  • Tanah Papua
  • Uncategorized

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Bomberai
    • Domberai
    • La Pago
    • Mamta
    • Mee Pago
    • Saireri
    • Arsip
  • Indepth
  • LEGO
  • Nasional
  • Dunia
  • Pasifik
  • Kerjasama
    • Pulitzer
    • Menyapa Nusantara
    • Provinsi Papua Tengah
    • Kabupaten Jayapura
    • Kabupaten Mappi
    • Provinsi Papua
    • Kabupaten Jayawijaya
  • Networks
    • Jubi TV
    • English
    • Deutsch
    • France
    • Pacnews
    • Indeks

© 2025 Jubi - Berita Papua Jujur Bicara