Jayapura, Jubi – Perdana Menteri Papua Nugini, James Marape mengatakan pemerintahnya ingin “meningkatkan kesadaran” tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dialami perempuan di negara tersebut.
“Sebanyak 64 persen perempuan di Papua Nugini mengalami “satu bentuk atau lainnya” pada 2025,” kata Marape dihadapan parlemen, Rabu (11/3/2025).
Ia menegaskan kekerasan dalam rumah tangga merupakan isu nasional yang harus dibicarakan hingga pada tingkat tertinggi pemerintahan. Demikian dikutip test.jubi.id dari laman internet, RNZ Pasifik, Rabu (11/3/2026).
Ia juga memperingatkan bahwa Papua Nugini “tidak akan maju jika fondasi dasar masyarakatnya melemah.”
“Jika 64 persen istri [anggota] di lembaga ini menghadapi ancaman tahun lalu dalam satu bentuk atau lainnya, maka ini adalah persoalan nasional yang sangat serius.”
“Perayaan meriah ulang tahun ke-50 negara kita tidak akan berarti apa-apa jika fondasi dasar negara ini sudah rusak hingga ke akar, dan itu adalah keluarga,” ujarnya memperingatkan para anggota parlemen negara itu.
Papua Nugini dikenal sebagai salah satu negara dengan situasi paling menantang bagi perempuan di kawasan Pasifik.
PBB memperkirakan lebih dari dua pertiga perempuan di negara tersebut pernah mengalami kekerasan sepanjang hidup mereka. (*)










Discussion about this post