Jayapura, Jubi – Pemimpin negara-negara Pasifik mengambil langkah yang jarang diambil dengan mengaktifkan deklarasi Biketawa, mekanisme tanggap darurat tertinggi Forum Kepulauan Pasifik, untuk merespons krisis bahan bakar yang membayangi wilayah tersebut.
Dalam pernyataan pada 17 April, Perdana Menteri Kepulauan Solomon, Jeremiah Manele, mengatakan bahwa pemimpin Forum Troika telah setuju mengaktifkan Biketawa, sehingga “menempatkan kawasan pada kerangka kewaspadaan tinggi yang terkoordinasi untuk menghadapi krisis keamanan energi yang sedang berkembang.” Demikian dikutip test.jubi.id dari laman RNZ Pasifik, Kamis (23/4/2026).
Namun, Sekretariat Forum Kepulauan Pasifik (PIF) menolak mengonfirmasi atau membantah pernyataan tersebut.
Kementerian Luar Negeri Selandia Baru menyatakan mereka “menyadari laporan bahwa Forum Troika telah mengaktifkan Deklarasi Biketawa” dan mendukung upaya regional untuk merespons krisis di kawasan. “Kami bekerja sama dengan mitra PIF untuk memahami situasi pasokan bahan bakar dan kebutuhan potensial di seluruh kawasan, serta cara kami dapat membantu,” ujar kementerian itu.
Deklarasi Biketawa, yang diratifikasi pada pergantian milenium, menetapkan kerangka kerja tanggap krisis regional. Deklarasi ini bertujuan menangani isu-isu sensitif yang berpotensi mengganggu persatuan “keluarga besar Kepulauan Pasifik,” tanpa melanggar kedaulatan negara anggota.
Penggunaan deklarasi ini sebelumnya termasuk pengawasan pemilu Nauru 2019, Misi Bantuan Regional ke Kepulauan Solomon (RAMSI), dan koordinasi selama pandemi Covid-19.
Para pengamat melihat aktivasi Biketawa kali ini sebagai sinyal kewaspadaan tinggi sekaligus ujian kemampuan respons negara kaya di kawasan. Krisis bahan bakar yang sebagian besar dipicu kelangkaan ini menempatkan negara-negara kecil seperti Tuvalu dalam posisi genting, sementara negara lebih besar seperti Fiji mengklaim memiliki jaminan pasokan.
Perkembangan ini terjadi menjelang pertemuan menteri energi Pasifik di Papua Nugini pada awal Mei, dengan isu “blok pembelian Pasifik” sedang dipertimbangkan sebagai solusi kolektif.
Pengamat politik regional menilai keterlibatan negara kaya seperti Australia dan Selandia Baru mungkin terbatas, sementara kerja sama dengan Tiongkok bisa menjadi faktor kunci bagi negara-negara Pasifik yang menghadapi krisis ini. Tuvalu dan Kepulauan Marshall, yang telah menyatakan keadaan darurat bahan bakar, tetap bersekutu dengan Taiwan, menambah kompleksitas geopolitik di tengah ketegangan pasokan energi. (*)











Discussion about this post